Aksara Cinta

Aksara Cinta
148. Hancur


__ADS_3

Tian mengacak-acak rumah karena tidak ada apapun yang ia dapatkan dari pencarian ini. Sedang kepolisian belum bisa bertindak, karena belum dua puluh empat jam.


"Aaarrrrkhhhhhh...!!!" teriak Tian frustasi.


"Berapapun gue bayar kalau ada yang minta tebusan," ujarnya geram. Hanya ada Denis dan Erfan di dalam rumah, orang-orang suruhannya masih berpencar mencari Ressa.


"Duduk dulu, lo butuh energi buat mencari Ressa. Apalagi menghajar pelakunya nanti," bujuk Erfan membawa Tian duduk.


Terdengar beberapa mobil parkir di depan rumah. Denis menilik dari kaca, Jeri keluar dari mobil bersama asistennya.


"Siapa yang datang?" Tanya Tian.


"Jeri sama orang-orangnya," sahut Denis membukakan pintu.


"Ngapain dia ke sini! Mau ketawa melihat gue hancur," berang Tian marah.


"Biar dia masuk dulu, mungkin punya informasi yang bisa membantu kita mencari Ressa." Erfan menenangkan Tian yang jadi emosian.

__ADS_1


Jeri dan asistennya masuk ke rumah, melihat rumah itu seperti kapal terbalik ia jadi menduga pasti Tian baru mengamuk.


"Belum dapat informasi apapun?" Tanya Jeri diikuti helaan napas berat. Tanpa perlu perlu ditanya sebenarnya ekspresi Tian sudah sangat jelas menunjukkan apa.


Tian menggeleng pelan menatap ponselnya dengan nanar. Berharap ada yang menelpon minta uang tebusan. Ia akan memberikan berapapun yang orang itu minta. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya. Matanya berbinar cerah.


"Denis, cepat lacak nomor ini!!" Seru Tian bersemangat. "Ressa minta di jemput, jangan telepon ke nomor itu." Perintahnya sesuai isi pesan yang Ressa kirimkan.


Denis langsung menyalin dua belas digit angka itu ke ponselnya.


"Lokasinya tidak jauh dari sini," sebutnya setelah berhasil melacak lokasi nomor itu.


"Jeri, ikuti kami." Ujar Erfan yang masih bisa berpikir jernih. Itu akan memudahkan mereka kalau tempatnya dijaga ketat.


"Erfan!!" Desis Tian protes.


"Tian, tidak ada waktu untuk protes. Segera berangkat!" Erfan menarik Tian ke mobil, Denis segera meluncurkan mobilnya diikuti Jeri dan anak buahnya.

__ADS_1


"Mereka sudah pergi, kita kehilangan jejak!" Teriak Jeri yang baru selesai menggeledah rumah itu. "Oh Tuhan kita bisa terlambat," ia memperlihatkan lingeri yang didapatnya disalah satu kamar.


Tian mengusap wajah gusar, dia tidak bisa berpikir lagi sekarang. Siapa yang menculik istrinya, kemana Ressa di bawa. Banyak pertanyaan yang membuat kepalanya ingin pecah.


"Aaaaaaaaaaa... Ressaaaaaaa!!" Teriak Tian luruh di lantai. Betapa hancurnya ia sekarang, istrinya dalam bahaya tapi tidak dapat melakukan apapun.


"Denis, bakar tempat ini!!" Teriaknya murka.


Erfan membawa Tian bangun. Ia dapat mengerti betapa hancurnya Tian sekarang.


"Sisir semua tempat ini, pastikan tidak ada orang. Lalu bakar!!" Erfan memperjelas perintahnya lalu keluar dari bangunan tiga tingkat itu.


Itu juga dilakukannya untuk memastikan Jeri tidak terlibat dalam penculikan ini.


"Matt, pastikan kebakaran ini tidak muncul kepermukan besok." Ujar Jeri, rumah mewah mengalami kebakaran. Pasti akan menjadi berita heboh.


Mereka mengamati dari jauh, sampai rumah itu ludes dilahap si jago merah dalam waktu kurang dari dua jam.

__ADS_1


"Gue pulang duluan, sebaiknya kalian juga istirahat. Biar beberapa orang saja yang berjaga di sini. Pasti pemiliknya akan keluar dari persembunyian. Kita lanjutkan besok pagi, ini sudah tengah malam." Usul Jeri, dia akan kembali ke apartemen Audrey. Perempuan itu baru sembuh, tidak tega meninggalkannya sendirian.


"Ya, memang sebaiknya kita beristirahat." Erfan menyutujui usul Jeri, "Denis pulang ke rumah gue aja, kalian menginap." Titah Erfan pada Denis yang menjadi supir. Bahaya meninggalkan Tian sendirian, bisa-bisa sahabatnya itu melakukan percobaan bunuh diri.


__ADS_2