
"Apa yang kamu pikirkan Audrey, ingin membuat orang tuamu malu, hah. Sudah berapa lama kamu menjual diri? Apa kamu kelaparan sampai harus melakukannya?" Berondong sang ayah dengan berbagai pertanyaan.
Audrey menggeleng pelan, "aku mencintainya, Ayah."
"Apa hanya karena cinta kamu menjadi orang bodoh Audrey! Untuk apa kamu sekolah kalau otakmu tidak digunakan dengan baik!" Berang lelaki paruh baya itu.
"Mulai sekarang jangan pulang lagi ke rumah, aku sudah melepaskanmu sebagai anak!" Lanjutnya dengan napas yang memburu karena terlewat marah.
"Ayah, istighfar. Audrey putri kita satu-satunya." Bunda Audrey yang tidak tau permasalahannya apa, menenangkan sang suami.
"Aku tidak punya putri yang hanya bisa membuat malu dan berkali-kali hamil di luar pernikahan karena menjual diri!!"
"Ayah," Audrey menggeleng dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Perempuan itu bersimpuh di lantai memohon pengampunan dari sang ayah.
"Aku tidak menjual diri, Tian memang memberikan uang bulanan untukku. Aku hanya tidur bersamanya." Sebut Audrey dengan suara sangat pelan di tengah air mata yang semakin deras.
"Bukan menjual diri? Jadi apa sebutan yang tepat Audrey!!" Seru sang ayah naik pitam, sudah salah masih ingin membela diri. "Kumpul kebo?"
__ADS_1
"Sekarang pergi, jangan pernah pulang lagi. Pintu rumah ini sudah tertutup rapat untukmu Audrey. Bukan hanya pintu rumah, pintu hatiku juga sudah tertutup rapat untuk memberikanmu maaf."
"Ayah, jangan bicara seperti itu." Perempuan paruh baya itu membawa suaminya untuk duduk. "Audrey, pergilah Nak. Ayah perlu menenangkan diri." Ujar sang bunda dengan lembut.
Audrey mengangguk menyeka air matanya yang terlalu banyak terkuras. Berjalan gontai meninggalkan rumah yang ia tempati sejak kecil.
"Aarrgghh, brengsek kau Tian. Aku tidak akan melepaskanmu," amuk Audrey di mobilnya.
"Sayang, temani aku." Audrey menelpon kekasih barunya. Dia perlu tempat untuk membuang semua beban yang menghimpit kepalanya.
"Aku gak bisa sekarang, Sayang. Nanti malam aku datang ke apartemenmu."
"Baiklah, aku akan datang." Kata sang pria menutup sambungan teleponnya.
"Tunggu kehancuranmu, Tian. Salah satu wanita kesayanganmu sendiri yang menyerahkan diri padaku. Aku tidak akan melewatkan kesempatan yang ada. Tidak ada kucing yang menolak ikan asin. Apalagi kucing liar sepertiku." Gumam Jeri dengan senyuman yang sulit diartikan.
Jeri memberitahu asistennya kalau dia ada urusan di luar. Pria itu meninggalkan kantornya demi menemui Audrey.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang. Kenapa matamu bengkak, apa anak kita nakal?" Jeri mengusap perut Audrey yang meringkuk di tempat tidur.
"Ayah mengusirku karena tau aku hamil, Jeri. Aku mengatakan kalau Tian yang menghamiliku. Tian tidak mau mengakuinya, dia sudah menikah dengan sekretarisnya."
"Menikah dengan sekretarisnya? Bukankah dia sudah menikah dengan perempuan yang bernama Aruna?" Tanya Jeri penasaran.
"Aku tidak tau," Audrey menggeleng manja. Memindahkan kepalanya ke pangkuan Jeri.
"Biar nanti aku yang cari tau, obatnya sudah diminum?" Tanya Jeri yang sudah menyiapkan obat pengugur kandungan untuk Audrey.
"Belum, aku takut. Aku minum kalau kamu ada di sini dan gak ninggalin aku."
"Aku ada di sini, karier kamu bisa terganggu kalau publik tau kamu hamil di luar nikah. Sekarang minumlah, aku temani." Bujuk Jeri, dia tidak mau menikahi bekasan Tian. Masih sda banyak miliyaran perempuan yang bisa dijadikannya istri di dunia ini selain Audrey.
...💥💥💥...
Sungguh terlalu kau Jeri.
__ADS_1
Audrey, tunggu othor bantu kirim santet buat Jeri dulu.