
Setelah insiden salah sebut nama tadi malam Audrey tidak berani banyak bicara lagi. Takut Jeri marah, dia tau bagaimana ganasnya lelaki itu kalau marah. Tadi malam saja ia langsung tidur saat sadar mood suaminya sudah berubah.
Audrey memainkan keran air di dapur, tidak tau mau memasak apa untuk sarapan. Dia tidak pernah sarapan pagi dan juga dia tidak bisa memasak selain masak mie instan dan telur.
Pantas saja Ibu Jeri tidak suka padanya, mungkin dijidatnya tertulis tidak bisa memasak. Jadi ia tidak termasuk kriteria menantu idaman.
"Kenapa melamun di dapur Sayang?" Jeri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Audrey. Ia tidak mempermasalahkan kalau istrinya ini masih mengingat Tian.
"Kamu mau sarapan apa?" Tanya Audrey basa-basi, pura-pura mencuci tangan.
"Kalau aku request mau sarapan apa, emang kamu bisa masak?" Tanya Jeri dengan kekehan. Audrey lekas menggeleng, takut Jeri minta buatkan makanan aneh-aneh yang tentu saja dia tidak bisa memasaknya.
"Nah kalau gak bisa, gak usah repot-repot mau masak. Aku gak menikahi kamu buat jadi pembantu Sayang. Kamu pendampingku," Jeri tersenyum lembut pada Audrey.
"Kamu gak marah sama aku?" Tanya Audrey cemas.
"Marah karena kamu gak bisa masak?" Jeri terkekeh geli, sungguh itu pemikiran kolot orang-orang jaman dulu. Harus punya istri yang bisa memasak.
"Bukan, tapi yang tadi malam." Jawab Audrey pelan."
"Enggak, aku nggak marah. Nanti aku cuci otak kamu, biar Tian hilang dari sini." Jeri mengusak pelan rambut Audrey.
__ADS_1
"Terimakasih," wanita itu memutar badan membalas pelukan Jeri.
"Sudah seharusnya itu aku lakukan, Sayang. Kamu mau sarapan apa kita pesan aja." Jeri membawa Audrey duduk di ruang tengah. Ia tau Audrey anak yang manja dan sama sekali tidak biasa beraktivitas di dapur.
"Aku gak bisa sarapan."
"Mulai sekarang belajar sarapan ya biar sehat, walau cuma minum jus." Beritahu Jeri, lelaki itu memperlakukan Audrey penuh kelembutan. Tidak seperti Jeri yang terlihat angkuh diluaran sana.
"Iya," Audrey menyandarkan kepalanya di bahu Jeri.
"Masih ngantuk Sayang?" Jeri melirik mata sayu Audrey.
"Lagi malas jauh-jauh dari kamu," perempuan itu menjawab dengan manja.
"Gak enak dicicil, kelamaan. Mending bayar kontan aja." Jawab Audrey asal, pura-pura tidak mengerti keinginan Jeri.
"Hayuuk, aku bayar kontan sekarang." Jeri langsung membopong Audrey ke kamar dengan senyuman devil.
"Sayang, kamu mau apa!!" Teriak Audrey kaget.
"Aku gak boleh nyicil, jadi mau ku lunasin sekarang juga." Jeri tertawa gelak setelah menurunkan Audrey di kasur. Istrinya itu membuang muka masam.
__ADS_1
"Mau ku kasih selai strawberry pisangmu itu hah!!" Sarkas Audrey galak, membuat Jeri semakin tertawa.
"Gak papa deh, kalau gak dikasih fla vanila yang strawberry juga boleh." Lelaki itu semakin menggoda.
"Jeriii iih!!" Kesal Audrey. Ia sudah ingin menjewer telinga Jeri tapi bertepatan bel bunyi akhirnya gagal memberikan hukuman.
"Marahnya di pending dulu Sayang, aku ambil makanan kita dulu." Ujar Jeri masih dengan suara tawa khasnya. Menggoda Audrey bisa membuatnya awet muda.
Audrey mendengus karena suaminya tidak berhenti mentertawakan. Membuatnya semakin kesal saja.
Jeri yang membuka pintu mematung sejenak melihat yang datang bukan pesanan makanannya tapi ia kedatangan bunda Audrey.
"Boleh bertemu Audrey?" Ijin perempuan paruh baya itu dengan ramah.
"Oh iya, boleh Bu." Jawab Jeri sambil melirik ke kanan kiri mencari keberadaan ayah mertuanya, tapi tidak ada. Bunda Audrey hanya datang sendiri, ia bisa menebak kalau ibu mertuanya ini pergi menemui Audrey tanpa sepengetahuan sang suami.
"Panggil Bunda aja," ujarnya sambil tersenyum mengikuti Jeri. Lelaki itu membawa ibu mertuanya masuk ke kamar.
"Bunda," seru Audrey pelan.
"Kamu sakit Sayang?" Perempuan paruh baya itu langsung menghambur ke pelukan sang putri. Ia sangat rindu dengan putri semata wayangnya ini dan merasa bersalah tidak bisa melindungi Audrey dari kemarahan suaminya.
__ADS_1
"Aku sehat," Audrey menangis terharu ibunya masih mau datang menemuinya. "Maafin Audrey ya Bun," ucapnya pelan.
"Kenapa minta maaf Sayang?" Katanya seraya mengusap punggung Audrey. Jeri ikut terharu, setidaknya ibu mertuanya tidak membenci Audrey. Itu akan mengurangi sedikit beban pikiran sang istri.