Aksara Cinta

Aksara Cinta
140. Licik


__ADS_3

"Tumben ikut daddy ke kantor, Honey?" Tanya Tian pada Erra kecil yang sedang duduk menyender di sofa seperti orang dewasa. Hari ini dia ke kantor Extnet bersama Ressa. Lelaki itu bejongkok di lantai agar tubuhnya sejajar dengan Erra.


"Erra juga mau lihat daddy kerja. Masa cuma mommy yang selalu diajak. Sungguh tidak adil." Gumamnya sambil mendengus kecil, bibir mungil itu komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Membuat empat orang dewasa yang ada di sana tertawa melihat tingkah lucunya.


"Emang daddy gak adil sama kamu, Honey?" Pancing Tian, bibirnya menyeringai jahil pada Erfan yang memberikan tatapan elang padanya. "Contohnya gimana, coba kasih tau Uncle?"


"Daddy kalau tidur suka peluk mommy, Erra dibiarin tidur sendirian." Jelasnya dengan wajah cemberut.


"Terus apalagi, Sayang?" Dengan licik Tian mengelus-elus rambut Erra, agar gadis itu banyak bercerita.


"Tian, jangan racuni putriku!" Hira melotot pada Tian, sedang si pelaku hanya tertawa devil.


"Heeum," Erra meletakkan jari telunjuknya di dagu sambil berpikir keras. "Daddy lebih sering cium dan peluk mommy dari pada Erra." Ucapnya dengan wajah disedih-sedihkan.


"Hei, Daddy suka cium dan peluk Erra juga." Erfan langsung meluncur membawa putrinya dalam gendongan sebelum semua aibnya habis dibongkar putri kecilnya.


"Tolong dikondisikan otak suami lo ini, Ressa!" Desis Hira geram.


Ressa mengendikkan bahu, "gue gak ikut campur," katanya sambil tertawa.

__ADS_1


"Jangan dengerin Uncle Tian, Sayang. Pertanyaannya gak usah dijawab. Gak akan bikin Erra jadi pintar." Erfan menggendong putrinya sambil berjalan mondar-mandir di ruangan.


"Tapi kalau ada yang nanya harus dijawab kan, Daddy?" Tanya Erra lugu, Tian tertawa gelak mendapatkan hiburan pagi ini.


"Iya, tapi bukan pertanyaan aneh Uncle-mu juga Sayang." Erfan menggaruk tengkuknya bingung cara memberi pencerahan putri kecilnya ini agar tidak tercemari dengan racun dari Tian.


"So, Erra harus jawab pertanyaan Uncle Tian juga dong." Katanya lagi dengan bibir dimanyunkan.


"Good girl, Honey." Tian mengacungkan jempolnya pada Erra disertai senyuman yang paling menawan.


"Jangan aneh-aneh, Sayang. Nanti otak Erra tercecer karena keusilanmu ini." Tegur Ressa pada suaminya. Kasihan, masih kecil sudah harus disuguhi pembicaraan berat.


"Sayang, otak Erra gak akan kececer kalau gak dibedah mommy-nya." Sahut Tian dengan wajah jenaka.


"Mommy, gak boleh teriak-teriak." Tegur Erra, lagi-lagi Tian menang telak.


"Kesayangan Uncle ini pintar banget." Tian mengulurkan tangan mengambil Erra dari gendongan Erfan lalu memangkunya.


"Of course, anak siapa dulu dong." Katanya sombong, bersandar dengan nyaman di dada Tian.

__ADS_1


"Anak siapa memangnya?" Tanya Ressa seraya mencubit gemas pipi bakpao Erra.


"Anak Daddy Erfan Bumi Wijaya dan Mommy Fakhira Shakira." Erra menyebutkan dengan lancar nama lengkap kedua orang tuanya.


"Ulu-ulu, sudah besar ternyata." Setelah mencubit, Ressa mengunyel-unyel pipi gembul itu saking gemasnya.


"Sayang pelan-pelan. Merah tuh pipinya," tegur Tian, yang pipinya diunyel mana peduli, terus memasang tampang menggemaskan.


"Sayang bawa Erra jalan-jalan. Mas ada yang mau dibicarakan dulu sama Tian," pinta Erfan pada istrinya.


"Erra mau jalan kemana Sayang?" Tanya Ressa pada gadis kecil yang masih sangat nyaman duduk di pangkuan Tian.


"Mau ke aquarium," jawab Erra semangat.


"Kalau ke sana harus sama Daddy, Sayang. Jalan yang dekat sini aja ya," beritahu Erfan dengan lembut.


Gadis kecil itu cemberut, "baiklah Erra main ke taman aja." Katanya dengan tidak rela.


"Sini sun Daddy dulu," Erfan menepuk pipinya. Bocah kecil itu turun dari pangkuan Tian mendekati sang daddy mengecup di pipi.

__ADS_1


"Hati-hati Sayang, jangan jauh-jauh dari mommy dan tantemu." Persan Erfan menepuk putrinya di kepala dengan sayang.


"Siap delapan enam, Daddy." Erra memberi hormat pada sang ayah dengan semangat.


__ADS_2