
Ressa memasuki sebuah club dengan piyama tidur yang tertutupi jaket. Tidak peduli menjadi bahan tontonan orang-orang yang menatapnya heran. Ia hanya ingin melupakan segala masalahnya.
Ia duduk di meja bar memesan minuman beralkohol pada bartender. Walau pertama kali minum dan rasanya aneh, Ressa tetap meminumnya, hanya kepalanya yang terasa pusing.
"Anda terlalu banyak minum, Nona." Tegur bartender, melihat Ressa sudah mulai kehilangan kesadaran mengabiskan beberapa gelas.
"Lagi!" Pinta Ressa dengan menghentakkan gelas di tangannya ke meja.
"Anda sudah mabuk, Nona." Tolak bartender.
"Aku bilang lagi ya lagi! Kamu pikir aku gak bisa bayar, hah."
Prank
Ressa melemparkan gelas kaca di tangannya ke arah bartender. Untung bartender itu menghindar dengan cepat. Semua mata tertuju pada perempuan yang mengamuk di meja bar.
"Ada apa?" Tanya Tian dingin, ia baru memasuki club. Tidak memperhatikan perempuan yang membuat keributan.
"Nona ini sudah kebanyakan minun Tuan, masih mau minta lagi." Ujar bartender itu takut-takut. Tian menoleh pada perempuan yang dimaksud, lalu membelalakkan mata.
__ADS_1
"Lagi!" Desis Ressa dengan tatapan memohon, matanya sudah memerah.
"No Ressa!" Tian segera memanggul perempuan itu seperti karung beras. Ada masalah apa sampai Ressa mabuk-mabukkan seperti ini.
"Aku mau lagi. Lagi!" Ressa memukul bahu Tian lemah. "Minumannya enak, aku mau lagi." Pintanya sambil terisak.
Tian membuka pintu mobil, lalu memasukkan Ressa ke dalam. Belum sempat menutup pintu mobil Ressa muntah tepat di tubuh Tian.
Lelaki itu mendesah berat, "kalau gak bisa minum jangan minum. Nyusahin orangkan jadinya." Omel Tian, ia melepas kemeja langsung membuangnya. Lalu membersihkan bibir Ressa dengan tissue.
Hah, bibir pink itu sangat menggoda untuk dimanjakan. Tian mengendalikan pikirannya yang tiba-tiba melanglang buana. Celana bagian bawahnya tiba-tiba terasa sesak. Jiwa liarnya meronta-ronta.
Tian tidak tau dimana rumah Ressa. Juga tidak mungkin mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk.
"Tian," Ressa bergumam dengan mata terpejam. Lelaki itu menajamkan pendengarannya, apa benar perempuan itu menyebutkan namanya.
"Aku benci Tian, aku benci Tian!" Gumam Ressa.
Tian yang mendengar tersenyum tipis. Sampai di basemen ia kembali memanggul Ressa kembali. Sampai di lift napasnya tersenggal-senggal.
__ADS_1
"Menyusahkan saja!" Gumamnya, kalau Erra yang digendong masih mending. Lah ini, anak gajah yang dipanggul. Dia bukan Erfan yang terbiasa menggendong istri seperti anak kanguru.
Setelah berhasil sampai ke apartemen, Tian merebahkan Ressa di tempat tidur. Menggantikan pakaian Ressa yang terkena muntah dengan kemejanya yang kebesaran di tubuh perempuan itu.
Aliran darahnya memanas melihat segala keindahan tubuh atas Ressa yang terpampang jelas. Tian berusaha untuk tetap waras mengendalikan pikiran. Dua gundukan indah itu sangat menggoda untuk dimanjakan.
Lelaki itu mengelus kepala Ressa yang terus bergumam tidak jelas, sesekali menyebut namanya lagi.
"Kamu kenapa?" Bisik Tian lembut, "aku ada di sini. Ini Tian yang di sini."
Ressa mencari-cari kenyamanan. Memeluk pinggang Tian yang duduk di sisi tempat tidur. Adik kecilnya sudah bangun, memberontak ingin dilepaskan.
"Aku benci Tian yang suka main perempuan. Aku benci ibu yang selalu maksa nikah. Aku benci mereka. Aku benci." Gumam Ressa yang bisa di dengar Tian jelas. "Aku bencii mereka!" Ulangnya lagi dengan terisak.
"Tidur Ressa, kamu mabuk!" Tegas Tian melepaskan tangan Ressa dari pinggangnya. Tubuhnya jadi panas dingin karena sentuhan perempuan itu. Cepat Tian beranjak mengambil kaos di lemari. Tangan Ressa yang menyentuh kulitnya sangat meresahkan si kecil.
"Jangan pergi!" Rengek Ressa ketika Tian melepaskan tangannya.
Baru kali ini Tian melihat Ressa yang rapuh. Biasanya dia melihat perempuan itu selalu ceria dan galak, tak pernah menunjukkan kesedihannya.
__ADS_1
Tian mendesah berat, paru-parunya seakan kekurangan pasokan oksigen melihat tubuh yang sangat ingin dia manjakan itu. Tapi otaknya masih waras, tidak ingin menyakiti Ressa.