Aksara Cinta

Aksara Cinta
66. Overthinking


__ADS_3

"Miss you, Honey." Tian mengecup pipi Ressa dari belakang. Ibu hamil itu sedang asyik selonjoran sambil bersandar di sofa.


"Lesu banget, tadi gak makan siang?" Ressa berdiri, mengecup balik pipi Tian. Lelaki itu tersenyum simpul mendapat perlakuan manis dari istrinya. Tapi mengingat Aruna dan gadis kecil itu membuat hati Tian mendung lagi.


"Makan, cuma lagi banyak kerjaan aja." Sahut Tian malas, lalu langsung beranjak ke kamar.


Sikap Tian itu menimbulkan tanya di benak Ressa. Ada apa dengan Tian, seperti malas melihatnya.


"Dahlah, paling lagi ada masalah di kantor." Gumam Ressa lalu menyiapkan makan malam ke dapur.


Selesai memasak Ressa memanggil suaminya di kamar. Tian sedang berbaring di tempat tidur setelah mandi. Handuk basah dibiarkan tergeletak di ranjang. Ibu hamil itu menggeleng pelan, Tian kenapa sih. Aneh banget.


"Makan dulu yuk, baru lanjut istirahatnya." Ajak Ressa membangunkan suaminya yang sedang pewe tiduran.

__ADS_1


"Kamu aja makan duluan Sa, aku masih kenyang." Jawab Tian seraya memiringkan tubuhnya memeluk guling.


"Capek sama kerjaan gak gitu juga nyuekin aku. Aku udah capek-capek masak buat kamu tau," kesal Ressa meninggalkan Tian. Makan sendirian di dapur, baru juga kemaren janjinya manis banget. Sekarang sudah bersikap cuek begitu, belum apa-apa sudah berubah. Baru menikah satu minggu, huhh dasar Tiana, gerutu Ressa dalam hati sambil menyuap malas nasi dihadapannya.


"Maaf," Tian memeluk Ressa dari belakang. Memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri, karena Aruna pikirannya jadi kacau dan tidak fokus begini. Ressa bisa curiga kalau dia bersikap seperti ini.


"No problem, udah biasa makan sendiri." Sahut Ressa ketus, menyelesaikan makannya dengan cepat. Terserah Tian mau makan masakannya atau tidak. Selama menjadi istri Tian, ia harus mematikan hatinya lagi agar tidak terluka.


"Makannya pelan-pelan, Honey." Tian tersenyum melihat cara makan Ressa yang berantakan karena kesal. Ia membersihkan sudut bibir itu dengan jempolnya. "Nasinya gak lari kalau kamu makannya pelan, gak ikhlas banget lihat aku di sini." Godanya dengan kekehan.


Belum juga Ressa mengetahui semua tentangnya, istrinya ini sudah sering mengamuk. Apalagi kalau tau, apa yang harus ia lakukan agar semuanya tetap baik-baik saja.


"Ya sudah aku aja yang pergi, kamu selesaikan makannya pelan-pelan ya." Ujar Tian menepuk kepala Ressa satu kali kemudian beranjak ke ruang tengah.

__ADS_1


Ressa menatap cengo tingkah Tian, biasanya lelaki itu dengan suka cita menggodanya dengan hal-hal mesum. Siapa yang aneh sekarang, dia atau Tian.


Apa hati kecilnya saja yang merasa kalau Tian berubah dan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Argh, kenapa sejak jadi istri Tian dia sangat overthinking.


Biarlah Tian mau bagaimana, sia-sia dia mencurigai suaminya itu. Tian akan melakukan apapun yang diinginkannya dengan ataupun tanpa persetujuannya.


Ressa kembali ke kamar setelah selesai makan malam yang dilengkapi dengan lauk overthinking itu.


Sampai malam ia tidak mendapati Tian masuk ke kamar. Bahkan Ressa sempat ketiduran. Perempuan hamil itu beranjak mencek kamar sebelah, suaminya tidak ada di sana. Di ruang tengah pun juga tidak ada.


Oh Tuhan kenapa ia mencemaskan Tian. Biasanya Tian yang merayu-rayu agar tidak dihukum tidur di luar. Ressa memeriksa garasi, kosong. Mobil Tian tidak ada. Hatinya mencelos, kemana Tian malam-malam begini tanpa berpamitan padanya.


Apa Tian sudah bosan dengannya, baru satu minggu masa sudah bosan. Ressa menghela napas panjang sambil mengurut dada.

__ADS_1


Hah, janji buaya memang tidak bisa dipercaya. Padahal katanya buaya itu hewan yang setia kalau di air. Tapi kalau sudah di darat beda cerita, Ressa mentertawakan dirinya sendiri mengingat hal itu.


__ADS_2