Aksara Cinta

Aksara Cinta
29. Mantan Bos Possesif


__ADS_3

"Bagus-bagus. Di kantor bukannya kerja, malah bercinta!" Ucap Erfan dingin dari arah pintu.


"Pasti Audrey yang ngadu sama lo, kan?" Tian memutar bola mata malas. Apa harus perempuan itu dibikin bisu dulu agar tidak meresahkan.


"Ressa, tinggalin kami berdua," pinta Erfan.


Ressa mengangguk pada mantan bosnya itu. Tanpa ia ketahui pemilik saham terbesar PT Jayindo Infrastruktur adalah Erfan.


"Gue gak peduli lagi lo main sama siapa. Mau sama Ressa sekalipun. Tapi ingat jangan main di kantor. Sampai bosan gue ngingetin lo," sahabat Tian itu berdecak.


Tian hanya diam mendengarkan ceramah Erfan. Mau mengelak juga tidak bisa, dia sudah tertangkap basah.


"Lo pilih, Audrey apa Ressa?"


"Audrey tidak termasuk pilihan!" Tian membalas sorot tajam Erfan. Mungkin dia satu-satunya orang yang tidak pernah merasa terintimidasi dengan tatapan sang sahabat.


"Nikah Tian, nikah!" Erfan berdecak, tak bosan-bosan ia mengingatkan sahabatnya ini untuk menikah dan berhenti main perempuan.

__ADS_1


"Sabar Erfan, gue lagi bujuk Ressa."


"Banyak perempuan kenapa harus Ressa, kalau dia gak mau ya udah jangan dipaksa." Erfan khawatir kalau dua orang itu benar-benar menikah, mengingat hobby Tian bergonta-ganti perempuan yang sulit dihentikan.


"Satu-satunya perempuan yang pengen gue nikahi hanya Ressa." Desis Tian, "jangan coba-coba menghalangi langkah gue."


"Gue bakal bantu lo dapatin Ressa. Asal lo benar-benar berhenti coblos sana-sini."


"Gue berhenti. Janji!" Tian memberikan tatapan memohonnya. Daddy Erra itu berdecak sebal. Sudah ada mau baru seperti orang kehilangan separuh napas.


"Lo ngapain lama banget di ruangan bos?" Zeni meneliti penampilan Ressa dari atas hingga bawah. "Perasaan baju lo tadi bukan ini deh," lanjutnya penuh selidik.


"Ressa, pulang!" Panggil Erfan dingin. Dia sengaja melakukan, agar Ressa terlepas dari kejulidan teman-temannya.


Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun itu membulatkan mata, kenapa mantan bosnya ini jadi possesif. Ia menoleh pada Tian yang mengangguk kecil di depan pintu.


Sedang rekan kerja Ressa menatap bingung. Hanya bisa menduga-duga.

__ADS_1


"Kerja-kerja, jangan pikirkan apapun yang bisa membuat kalian kehilangan pekerjaan!" Ancam Tian lalu masuk ke ruangannya.


"Gue sudah pernah peringatkan lo sebelum ini. Jangan lo pikir gue gak tau apa yang terjadi antara kalian berdua tadi." Erfan melirik Ressa yang terus membuang pandangannya ke arah luar.


"Kalo lo gak siap terluka jangan main perasaan sama Tian." Suami Hira itu menegaskan ucapannya kembali.


Lagi-lagi Ressa hanya bergeming, apa yang ia punya untuk membela diri. Tidak ada. Ia yang menyerahkan diri pada Tian. Padahal lelaki itu sudah menolaknya.


"Lo punya dua pilihan, menikah dengan Tian atau menghilang selamanya. Gue gak mau perusahaan kena sial karena perbuatan kalian yang melampaui batas." Tekan Erfan, terdengar sangat kejam, dia hanya sedikit memaksa agar Ressa mau menikah dengan Tian.


"Jangan khawatir, gue akan pergi dari kehidupan Tian untuk selamanya." Ucap Ressa tenang dengan tersenyum.


Erfan membulatkan mata, perempuan di sampingnya ini benar-benar keras kepala. Bisa-bisa Tian membawanya ke ring tinju gara-gara Ressa kabur nanti.


"Pikirkan baik-baik Ressa, kalo lo hamil siapa yang akan jadi ayah dari bayi lo nanti. Jangan karena kesalahan kalian itu berimbas pada anak yang tidak berdosa." Erfan terpaksa melunak, bicara dengan Ressa tidak bisa tancap gas.


"Gue gak akan hamil!"

__ADS_1


Suami Hira itu menghela napas berat, memarkirkan mobilnya di carport. Mungkin bukan dia yang bisa membujuk Ressa, tapi istrinya.


__ADS_2