
Selesai menyuapi Ressa makan, Tian membawanya periksa ke dokter kandungan untuk memastikan ibu dan anaknya mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
Dalam perjalanan mereka pulang, Tian mendapatkan telepon dari Denis kalau ada meeting penting.
"Sa, aku harus balik ke kantor. Kamu ikut aku bentar ya, selesai meeting aku antar pulang. Kamu bisa nunggu di ruang istirahat."
"Kamu pernah bawa perempuan ke kamar itu?" Tanya Ressa menyelidik.
Tian membulatkan mata, istrinya sensitif sekali masalah perempuan. "No, Honey. Cuma kamu dan Erra yang pernah masuk ke sana," jawabnya cepat.
"Kalau ruangan kamu di Extnet?" Tanya Ressa penuh selidik.
"Honey, jangan bahas itu lagi. Kita baru baikan, aku gak mau berantem lagi sama kamu. Nyiksa banget." Ucap Tian memelas, mengambil tangan Ressa dan menggenggamnya sambil mengemudikan mobil menuju kantor.
"Aku pengen lupain, tapi selalu ingat. Aku kenal kamu dari dulu Tian, aku tau sepak terjang kamu sama perempuan. Kalau ingat itu rasanya nyesek banget."
Tian menepikan mobil sebentar, membelai lembut pipi Ressa sambil merapikan anak rambut ke belakang telinga. "Aku harus bagaimana biar bisa bantu hilangin sesak kamu?"
Ressa menggeleng tidak tau, menikah bukankah untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Harusnya ia bisa melupakan semua itu. Tapi sungguh sangat sulit menerima semua masalalu Tian.
__ADS_1
"Sambil jalan ya, aku akan kasih bukti kalau aku sudah berubah buat kamu." Tian mengecup kening Ressa dengan sayang. Perempuan itu mengangguk. Ia kembali melajukan mobilnya tanpa melepaskan tangan sang istri dari genggaman.
"Aku gak kabur Tian, gak perlu dipegangin gini." Ressa mengayunkan tangannya sambil tersenyum geli.
"Kalau aku lepas nanti ngambek lagi, tidur pisah sama kamu gak enak Sa. Gak ada yang dipeluk dan dipandang pas bangun tidur." Tian mengecup punggung tangan Ressa lalu menempelkan di pipi. Sungguh lelaki itu sangat tau cara membuat perempuan klepek-klepek.
"Awas ya kalau ngomong gitu juga sama perempuan lain!" Ujar Ressa jutek.
"Nahkan, belum dilepas juga sudah mulai lagi. Masa harus ngasih kamu info setiap detik Sa, kalau aku sudah berubah. Ini aja udah yang keberapa, sampai lupa." Canda Tian melepaskan genggamannya, lalu mengacak rambut Ressa sebelum memarkirkan mobil.
"Tian, rambutku rusak. Benerin!" Ressa menggembungkan pipinya cemberut.
Ressa menggeleng, "Tian," katanya lalu menggembungkan pipi lagi.
"Sayang!" Tian mengulangi, mengempeskan pipi Ressa dengan menusuknya. Lagi-lagi Ressa mengulangi dengan panggilan yang sama, "Tian," gumamnya.
"Sayang, Honey, Bunny, Hubby." Ujar Tian memberikan Ressa pilihan agar tidak memanggilnya Tian, tapi perempuan itu tetap menggeleng.
"My Tian," gumam Ressa malu-malu.
__ADS_1
Tian tersenyum mendengar panggilan yang keluar dari mulut Ressa, "nice, My Tian, hm. Okelah, asal jangan Tian aja."
"Lebay!" Ucap Ressa cemberut.
"Manis kok, aku suka." Tian akhirnya merapikan rambut Ressa yang diacaknya. "Kamu mau coba rambutnya ditutup Honey, pasti lebih cantik."
"Maksudnya pake hijab?" Tanya Ressa yang diangguki Tian.
"Aku belum siap, Ti—"
"My Tian or Sayang," ralat Tian cepat. Mengajari Ressa panggilan sayang saja sangat susah.
"Belum siap, My Tian." Ucap Ressa malu-malu, menutup wajah dengannya. Membuat Tian gemas, sama suami saja masih malu-malu. Padahal Tian sudah hapal setiap inci tubuh istrinya ini.
"Pelan-pelan Sayang, kita sama-sama belajar." Bujuk Tian. "Kamu ngapain pake nutupin wajah, ini suami kamu bukan orang lain." Tian menjauhkan tangan Ressa dari wajah. Pipi wanita itu bersemu merah padahal bukan gadis remaja lagi yang sedang ia goda.
"Nanti aku pikir dulu." Ujar Ressa menghindari embel-embel.
"It's oke." Tian mengangguk, orang berubah perlu proses. Dia cuma tidak ingin tubuh istrinya dinikmati banyak mata jelalatan. "Ayo kita turun, kelamaan di sini nanti digrebek security," candanya.
__ADS_1