
Ressa mengejar Deandra yang berlari ke kamar sambil menangis. Gadis remaja itu merasakan patah hati disaat cintanya mulai bersemi.
"Sayang," Ressa memeluk putrinya yang menangis sesenggukan di sudut kamar.
"Saat kita jatuh cinta, kadang semuanya tidak berjalan mulus. Ada yang bertepuk sebelah tangan, ada yang terhalang jarang, ada yang tidak direstui. Dea masih sangat muda untuk mengalami semua itu dan menangisi semua ini."
"Buba, apa yang Dea rasakan ini cinta? Dada Dea sesak," lirih gadis remaja itu.
"Mungkin itu cinta, tapi bukan cinta yang seperti daddy berikan pada Dea. Itu cinta antar lawan jenis, Dea masih terlalu muda untuk merasakan semua itu Sayang."
"Honey," Tian ingin marah pada putrinya yang sangat berani mengekspresikan perasaan pada orang dewasa. Tapi dia tidak tega memarahinya.
"Maaf Dea ambil jam tangan Daddy," aku Deandra.
"Jangan dipikirkan Honey, tapi nanti kalau mau ngasih orang hadiah tanya Daddy dulu ya Sayang. Itu jam baru Daddy, di Indonesia baru Daddy yang punya." Jelas Tian sambil tertawa miris, yang mendapat timpukan dari Ressa.
"Haah, jadi itu jam baru Daddy beli?" Tanya Dea terkejut, dia asal ambil saja kotak jam yang ada di kamar sang ayah. Tian mengangguk lemas.
"Daddy-mu masih bisa beli jam baru Sayang, jangan merasa bersalah." Ressa membawa Deandra duduk di sisi tempat tidur. Tian mendelik pada istrinya yang sangat senang dia kehilangan jam ratusan juta itu.
"Daddy gak akan bangkrut karena jam itu Dea jadikan hadiahkan?" Tanya Dea menggoda daddy-nya. Syukurlah putri Tian itu sudah berhenti menangis.
"Sebelum jam tangan itu kamu berikan, Daddymu sudah bangkrut Sayang." Seloroh Denis sambil tertawa, dia menyusul ke kamar bersama Jeri sedang Erfan sudah pulang lebih dulu.
"Denis!!" Tegur Tian, putrinya itu akan semakin terluka kalau tau Azmi sudah mengeruk kekayaan Extnet.
"Siapa yang membuat Daddy Tian bangkrut?" Tanya Dea, orang dewasa itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Tidak ada Sayang, Daddy Denis hanya bercanda." Jawab Tian lebih dulu, sebelum Denis asal berucap.
"Daddy gak bohong?" Selidik Dea.
"Enggak Sayang," Tian tersenyum mendekati putrinya.
"Om berapa lama di penjara, Daddy?" Tanya Dea sayu.
Ressa melirik suaminya yang pasti tengah terluka melihat sang putri diracuni orang dewasa itu.
"Honey, di sini ada Daddy Tian, Daddy Denis. Dea gak usah mikirin Om itu lagi ya." Tian berjonggok menggenggam tangan Deandra. "Kasih sayang dan cinta kami lebih besar buat Dea."
Tian menenggelamkan wajah di pangkuan putrinya. Segala penyesalannya tertumpah di sana. Putrinya sekarang yang menanggung akibat dari kesalahan-kesalahannya. Allah memperingatkannya melalui Deandra.
"Apa Dea gak boleh bertemu Om lagi, Daddy?"
"Om Azmi gak jahat!!" Seru Dea.
Tidak ada lagi yang bersuara, semakin ditentang Dea akan semakin keras. Ressa membawa Dea dalam dekapannya kembali, satu tangannya membelai rambut Tian untuk memberikan kekuatan.
"Jangan terpuruk seperti ini, kasihan Ressa kelelahan menghadapi kalian." Bisik Jeri membawa Tian bangun, dia bisa melihat gurat lelah di wajah istri Tian itu.
Jeri benar, jika ia ikut-ikutan terpuruk Ressa yang akan kebingungan menghadapi semuanya.
"Dea istirahat dulu ya Sayang, pasti lelahkan." Tian tersenyum membelai pipi Dea kemudian beralih pada Ressa. Ia yakin istrinya ini sudah ingin bermanja-manja.
"Dea mau sama Mommy Aru, boleh?"
__ADS_1
"Of course Honey,"Tian mengecup puncak kepala Dea. "Jangan bercerita sama Mommy ya Sayang, Dea gak mau Mommy tambah sedihkan?"
"Iya, Dea gak akan cerita Daddy." Jawab Deandra sendu berjalan pelan keluar dari kamarnya diikuti Denis.
"Kalian istirahat, kalau ada apa-apa kabarin. Aku pulang dulu," Jeri menepuk punggung Tian.
"Thanks Jeri," ucap Tian tersenyum.
Setelah Jeri pulang mereka pindah kamar. Ressa langsung naik ke tempat tidur, tidak hanya tubuhnya yang lelah pikirannya juga sangat lelah.
"Maaf waktu buat kamu jadi berkurang Sayang, sini aku pijetin. Capekkan habis ngejar Dea." Tian melepas jilbab Ressa, lalu membaringkannya. Ia memijat kaki Ressa pelan.
"Sayang geli," rengek Ressa. Dia tidak hanya merasakan seperti digelitiki. Tubuhnya juga seperti tersengat aliran listri.
Tian benar-benar memijat. Hanya istrinya itu saja yang menafsirkan lain, "aku gak gelitikin kamu Sayang."
"Berhenti, aku gak kuat, geli Sayang." Rengek Ressa, melepaskan tangan Tian dari kakinya.
Tian mengkerutkan kening, lalu sedetik kemudian paham arti geli yang Ressa katakan. "Astaga, kamu horny Sayang, aku benar-benar memijat bukan menggodamu. Tapi kalau kamu mau aku dengan senang hati membantunya," lelaki itu tertawa jenaka.
"Apaan sih beneran geli!" Elak Ressa.
"Masa sih cuma geli Sayang," Tian mengelus kaki Ressa dari ujung kaki sampai ke atas. "Oh itu namanya geli, kalau ini apa namanya Honey." Ujarnya dengan tangan yang sudah menyelinap di balik home dress sang istri.
"Sayang, Sayang. Aku capek beneran." Ressa menjepit tangan Tian agar berhenti bergerak.
"Rileks Sayang, kita membutuhkan ini. Aku tidak akan membuatmu sampai kelelahan." Tian menatap netra Ressa teduh. Mereka perlu melepas hormon stress yang mengisi otak hari ini. Dari pencarian Dea sampai membujuk gadis itu.
__ADS_1