
Usai membersihkan diri Tian mengamati gurat lelah di wajah sang istri. Akhir-akhir ini ia sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk memperhatikan Ressa lagi.
Tian membawa tangannya membelai rambut Ressa sambil tersenyum mengecupnya di sana. "Maaf tidak bisa menemanimu setiap hati Sayang."
Perut Ressa sudah mulai membesar diusia kehamilannya yang memasuki bulan ke lima.
"Euughh, Mas sudah pulang?" Gumam Ressa yang merasa terusik saat Tian mengelus-elus di perutnya.
"Iya Sayang, kenapa bangun?" Tian beringsut membaringkan tubuh sembari merapikan rambut Ressa ke belakang telinga.
Ressa menggeleng pelan, mengecup Tian di pipi. "Kangen," gumamnya masuk dalam pelukan sang suami.
"Maaf ya aku terlalu sibuk, ninggalin kamu sampai malam. Tadi muntah-muntah lagi Sayang?"
"Sedikit," jawab Ressa malas bicara panjang. Matanya masih mengantuk.
"Ngantuk banget ya sampai ditanya aja jawabnya malas-malasan," Tian tersenyum mengecup basah pipi Ressa.
"Mas yang bangunin aku, aku kan ngantuk. Masih diajak ngobrol lagi." Sahut Ressa dengan mata terpejam.
"Mau Mas bantu biar ngantuknya hilang atau biar tidurnya nyenyak?" Tian memberikan pilihan sambil memeluk gemas guling kesayangannya.
"Gak dua-duanya," jawab Ressa dengan gelengan kepala.
"Harus pilih salah satu," Tian kembali menempelkan telapak tangannya di perut Ressa. Mulai melakukan aksi nakalnya, istrinya ini hanya menolak di mulut saja.
"Bisa tidur sendiri, tanpa bantuan kamu Mas." Ressa sangat tau pilihan itu ujung-ujungnya memiliki jawaban yang sama.
"Ya sudah, biar Mas yang bantu pilihkan." Tian tersenyum jahil melabuhkan bibirnya pada bibir merekah sang istri.
Tentu saja Ressa tidak bisa menolak kalau sudah dimulai. Sesapan demi sesapan itu menghasilkan desiran panas yang membawa keduanya pada puncak tertinggi dengan erangan panjang.
"Hm gak bisa nolakkan," goda Tian setelah berhasil membuat istrinya itu mandi keringat.
"Aku mana bisa nolak kalau sudah kamu mulai," Ressa semakin membenamkan wajahnya dalam pelukan sang suami.
Tian terkekeh kecil menidurkan Ressa kembali, dia tidak ingin membuat istrinya itu kelelahan. Cukup satu kali sesuai perjanjian tidak tertulis yang sering ia langgar.
*
__ADS_1
"Morning Honey," istrinya ini tidur kembali setelah sholat subuh. Padahal Tian sudah mengganggunya, tetap saja mata itu lengket.
"Morning," sahut Ressa malas. "Gak ke kantor Mas?"
"Hari minggu mau aku tinggal ke kantor juga, hm? Apa kamu gak mau berduaan sama suamimu ini?" Goda Tian pada perempuan yang masih merem melek itu.
Cepat Ressa menggeleng, membawa kepalanya ke atas pangkuan Tian yang sedang main ponsel sambil duduk.
"Chat siapa sih, konsen banget pagi-pagi gini. Bangunin selingkuhan ya?" Tuduh Ressa asal dengan mata terpejam.
Tian meletakkan ponsel ke atas nakas lalu mengunyel gemas pipi istrinya itu. "Asal nuduh ya, mana bisa aku selingkuh dari kamu."
"Masa sih?"
"Hm gini ya rasanya dicemburuin istri, seneng banget." Sahut Tian dengan tawa kecil.
"Mas, aku sering loh cemburu sama kamu. Masa gak sadar diri sih." Oceh Ressa dalam satu helaan napas memburu sebab kesal.
"Oh ya, aku kok gak sadar kalau kamu pernah cemburu Sayang."
Ressa membuka mata lalu menggembungkan pipi cemberut pada suaminya.
"Kamu kalau gitu gemesin banget loh, melebihi kegemasan mie gemazzz." Tian menusuk kedua pipi yang menggelembung itu dengan telunjuknya.
"Itu karena dia nakal, kecil-kecil tapi suka kelayapan!!" Sarkas Ressa menekan benda yang ditindih kepalanya.
"Masa kecil Sayang, kamu salah ukur kali." Goda Tian membuat pipi Ressa bersemu merah.
"Kok masih malu-malu, kan sudah sering main bareng." Suami Ressa itu masih terus menggoda istrinya.
"Mas, bisa gak ngomong vulgar gitu gak sih. Mesum banget." Ressa menutup wajahnya dengan telapak tangan, dia jadi malu sendiri karena pernyataan suaminya itu.
"Vulgar dari mana Sayang, aku gak bilang kalau suka kamu yang mendesah-desah memanggil namaku sambil merengek minta digoyang lagi, hm."
"Maaassss!!" Pekik Ressa benar-benar malu menutup mulut suaminya agar tidak banyak bicara lagi. Tian tertawa gelak melihat istrinya yang salah tingkah.
"Daddy boleh Dea masuk?" Teriak Deandra nyaring dari depan pintu kamar orang tuanya.
"Masuk Sayang, pintu gak dikunci. Bubamu lagi minta diemmb...."
__ADS_1
Ressa kembali membekap mulut suaminya agar tidak bicara sembarangan. Lalu melepaskannya saat Dea membuka pintu, dia sudah kembali ke ekspresi santai seperti semula.
Dea mendekati daddy-nya yang sedang memangku sang istri.
"Sudah wangi, mau kemana?" Tian menarik Dea untuk duduk di sampingnya dan mengecup di pipi.
"Dea mau ikut Mommy dan Daddy Denis jalan-jalan ke taman, boleh?" Ijin Deandra.
"Boleh Sayang, jangan jauh-jauh dari Mommy dan Daddy ya."
"Yes Daddy," Dea membalas mengecup pipi Tian kemudian beralih pada bubanya. "Buba gak ada niat mau bangun gitu?"
"Buba lagi pewe Sayang, malas gerak. Mumpung Daddy bisa nemenin Buba."
Dea mengangguk mengerti mengecup perut Ressa sambil tersenyum. "Daddy jangan buat Buba kelelahan siang-siang ya!!" Peringatnya sebelum keluar kamar yang membuat Tian memelotokan mata.
"Sejak kapan dia mengerti urusan orang dewasa?" Gumam Tian serius, tidak ada niat menggoda istrinya lagi.
Ressa terkekeh kecil setelah pintu kamar tertutup kembali, "putrimu jatuh cinta pada orang dewasa Sayang. Jelas dia mengerti hal seperti itu."
"Tapi ini terlalu dini Honey," Tian menghela napas berat.
"Jangan terlalu khawatir, kamu hanya perlu mengawasi dan mengajaknya mengenal Allah lebih baik lagi." Ressa mengelus rahang tegas sang suami.
"Aku saja belum mengenal Allah dengan baik, Sayang." Tian menahan tangan Ressa di pipinya.
"Aku juga, kita sama-sama belajar." Ressa kembali meyakinkan suaminya.
Tian mengangguk kecil lalu bertanya dengan serius. "Sayang, apa kamu pernah merasa terluka karena wanita-wanita masalaluku masih ada di sekitarku?"
Ressa bangun untuk menyandarkan tubuhnya dalam pelukan sang suami sebelum menjawab.
"Aku ingin marah pada takdir, tapi aku gak bisa melakukannya Mas. Kenyataannya Aru dan Audrey orang yang kamu kenal sebelum aku. Aku bukan perempuan sempurna yang bisa melupakan semua yang sudah terjadi dengan lapang dada. Aku hanya sedang berusaha menerima takdir yang tertulis untuk kita."
Tian menempelkan pipinya pada pipi Ressa, "maafkan aku sudah membuatmu terlalu sering terluka Sayang. Aku tidak bisa memperbaiki masalaluku. Tapi aku akan membawa masa depan kita agar lebih baik. Membahagiakanmu semampuku."
"Aku tidak tau kalau masalaluku malah menggores hati perempuan yang aku sayang ini." Sesal Tian, "hanya kamu, tidak ada perempuan lain lagi yang aku cintai saat ini dan seterusnya."
"Aku ingin bahagia tanpa embel-embel masalalumu. Jadi aku menerimanya agar tidak ada penolakan lagi di sini." Ressa membawa tangan Tian ke dadanya.
__ADS_1
"Terimakasih karena mau menerima dan berjuang bersama lelaki yang tidak sempurna sepertiku ini, Honey."
"Aku sudah bahagia bersamamu," bisik Ressa sambil tersenyum mengecup punggung tangan suaminya berkali-kali.