Aksara Cinta

Aksara Cinta
89. Bunuh Saja Aku!


__ADS_3

Saat Tian disibukkan membujuk Ressa yang merajuk. Denis disibukkan oleh Aruna yang terlampau manja padanya.


"Aru, bangun, hei." Denis membangunkan Aruna yang tidur di pangkuannya sampai kakinya kebas. Untung Deandra sedang tertidur di kamar karena kelelahan menemani beberes rumah.


"Nyaman," cicit Aru tanpa berdosa.


Denis berdecak membangunkan kepala Aruna dan menyandarkan di bahunya. "Ini kepala manusia, bukan kepala ayam. Kakiku sampai kesemutan."


"Aku pijat," Aruna memijat paha Denis. Tidak mempedulikan mata pria yang melotot padanya itu.


"ARUNA, aku ini laki-laki normal. Kamu sentuh di sana dia bangun." Denis menyingkirkan tangan Aruna yang selalu sok polos kalau di depannya.


"Hah, bisa bangun!" Seru Aruna, sambil melirik ke arah yang ditunjuk Denis. Lelaki itu langsung mengusap wajah Aruna berkali-kali dengan telapak tangannya. "Aku pikir itu gak bisa digunakan," sambungnya cengengesan.


Denis menggeleng pelan, menarik Aruna dalam pelukan. Inikah cara Aruna menyembunyikan segala sakit hatinya. "Kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah pura-pura lagi di depanku. Selama tiga belas tahun ini siapa yang dengarin keluh-kesah kamu, hm."


"Ressa, cuma dia yang ada disaat aku sendirian, Denis. Itulah kenapa aku sangat merasa bersalah sekarang. Apalagi tadi malam. Dia yang menemani aku dari hamil sampai melahirkan. Bahkan dia yang sering kirimin aku uang saat Dea masih kecil."


"Sekarang mau gimana?" Denis menopangkan dagunya di kepala Aruna.

__ADS_1


"Kamu sayang sama aku?" Tanya Aruna dengan wajah polos bak bayi yang baru lahir.


"Mau kubuang ke laut, nanya-nanya begitu, heh!"


Aruna terkekeh kecil, "galak," gumamnya.


"Kalau kamu gak menghilang yang dari dulu memenin kamu siapa, yang dengerin curhat kamu siapa, yang selalu sedia bahu saat kamu patah hati siapa, hah. Makanya jangan sok-sok'an merajuk kalau dikasih tau. Patah hati malah lari ke club, jadi Dea kan akhirnya." Omel Denis panjang, Aruna bukannya takut malah semakin tertawa.


"Nikah yuk!"


"Aruna, kamu belum gilakan sekarang?" Denis semakin membenamkan kepala Aruna ke dadanya, khawatir benar-benar gila ibunya Dea ini.


"Kalau aku nikah sama kamu, Ressa akan bahagia sama Tian. Tian pasti akan melepaskanku, kalau alasannya aku cinta sama kamu."


"Kalau gak mau bantu aku, aku perjakain kamu." Goda Aruna sambil mengerlingkan mata, Denis jadi benar-benar khawatir mungkin Aruna benar-benar sakit jiwa.


"Aku tuh suruh kamu nangis biar lega, bukan meracau seperti orang gila begini. Yakin mau perjakain aku, hm?" Denis mengangkat alis menggoda, dia benar-benar kasihan dengan Aruna yang saat ini juga pasti sangat tertekan dengan keadaan.


"Ayo ke kamar. Aku rela dibunuh Tian karena kamu," lanjutnya untuk menghentikan celotehan gila sang mommy Dea ini.

__ADS_1


"Ih, gak sekarang juga. Nanti kalau sudah nikah." Ucap Aruna takut-takut, kenapa dia jadi memancing Denis. Otaknya memang sudah gila sepertinya nih.


"Makanya jangan ngomong asal kalau gak mau beneran aku ajak ke kamar." Denis menyentil kening Aruna kesal, "dah aku mau pulang. Kelamaan di sini bisa aku yang ikutan gila."


"Gak mau, kamu boleh pergi kalau Tian datang." Aruna semakin mengeratkan pelukannya.


"Sekalian kamu bunuh saja aku, Aruna." Geram Denis, mana mungkin Tian akan datang. Kalau bosnya itu mengadu sedang pusing membujuk Ressa.


"Aku mau kamu nikahin, bukan dibunuh," Aruna semakin manja. Denis jadi benar-benar ingin menyeret Aruna ke kamar kalau saja otaknya sedang tidak waras.


"Aku akan tetap di sini kalau kamu mau muasin aku." Ucap Denis asal, saking kesalnya pada perempuan satu ini. Tian yang punya istri dua kenapa dia yang harus repot.


"Ih kamu udah gak sayang aku lagi, gak kayak dulu selalu dengerin aku," rajuk Aruna.


"Lalu dari tadi aku di sini apa, hem." Denis dibuat semakin jengkel, "ini sudah di dengerin, dipeluk, di elus-elus, mau apalagi? Mau ke tempat tidur, hayoo."


Denis menggendong Aruna ke kamar untuk menggertak, agar perempuan ini tidak terlampau manja padanya lagi.


"Denis, kamu gak setega itu sama akukan." Ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca setelah Denis menurunkannya di tempat tidur.

__ADS_1


"Enggak, sini mau tidur sambil di pangku seperti dulukan." Denis tersenyum membawa kepala Aruna ke pangkuannya.


Ia ingin marah pada Tian dengan semua ini, tapi bisa apa. Aruna butuh ayah untuk Dea dan Ressa butuh ayah untuk calon bayinya.


__ADS_2