Aksara Cinta

Aksara Cinta
107. Jangan Pergi


__ADS_3

"Sayang, jangan pergi!" Tian menahan tangan Ressa yang ingin menjauh darinya.


Ressa tersenyum mengusap lembut pipi Tian, "demi Dea, Sayang." Ucapnya seraya melepaskan tangan Tian.


Tian melepaskan Dea dari pelukannya, menangkap pinggang Ressa. "Enggak, kamu gak perlu berkorban apapun lagi untuk Dea. Kita akan sama-sama. Please, jangan pergi Honey."


Denis mendekati Dea yang kembali tergugu karena Tian lebih memiih Ressa. "Sayang, izinin Daddy sama Tante Ressa ya. Dea masih punya Om Denis di sini."


Dea naik ke pangkuan Denis, membenamkan wajahnya di sana.


"Kita pulang Sayang, ikut Om ke apartemen." Bujuk Denis seraya membelai lembut rambut panjang Dea.


"Dea mau sama Daddy di sini," kekeuh Deandra.


Ressa yang masih dalam pelukan Tian tidak bereaksi apapun. Denis mengkode Tian untuk membawa Ressa ke kamar lain. Dia akan membujuk Dea terlebih dahulu. Belum lagi si macan cantiknya yang masih dalam mode garang.


"Aru, duduk. Tenangin dirimu." Ujar Tian lembut saat melewati Aruna yang masih terlihat marah. Ia membawa Ressa ke kamar sebelah, mendudukkan perempuannya yang terlihat sangat lelah.


"Kita bisa membujuk Dea pelan-pelan, jangan pergi Sayang." Tangan Tian sudah melingkar di pinggang kesayangannya.


"Sepertinya kamu perlu liburan biar lebih fresh." Tangan Tian yang lain mengusap lembut puncak kepala Ressa.

__ADS_1


"Tian lepasin pelukannya," Ressa menyingkirkan tangan Tian dari pinggangnya.


Tian menggeleng pelan, "enggak. Nanti kamu kabur."


"Aku gak akan kabur, Tian. Badanmu panas, aku jadi gerah." Ucap Ressa lembut, "perutku nyeri. Lanjutnya yang membuat Tian langsung melepaskan pelukan lalu meniup-niup kepala Ressa.


Pikirnya dengan meniup begitu otak Ressa yang panas bisa langsung dingin. Biar stressnya cepat hilang.


"Kamu belum makan siang dan minum obat, obatnya di mana Sayang, aku ambilin?"


"Ketinggalan rumah Hira," jawab Ressa pelan.


Saat masuk ke kamar itu, bibirnya melengkung ke atas melihat Denis yang berhasil membujuk Dea.


Denis membaringkan Dea yang tertidur dalam dekapannya setelah puas menangis. Lalu mendekati Aruna yang duduk di ujung ranjang.


"Ada apa?" Tanya Denis pada Tian yang terlihat bingung mencari sesuatu.


"Pinjam hp, punyaku sepertinya ketinggalan di mobil." Tian mengulurkan tangan pada Denis.


Lelaki itu berdecak memberikan ponselnya. Tian langsung menghubungi Erfan agar supirnya mengantarkan obat Ressa. Ia segera kembali ke kamar tidak ingin mengganggu aktivitas Denis menenangkan Aruna.

__ADS_1


"Kenapa marah-marah, hm?" Denis membawa Aruna dalam pelukannya. "Ini bukan panas karena Dea kan, tapi karena Tian." Katanya meletakkan telapak tangannya di dada Aruna yang berdetak cepat.


Denis harus berbesar hati, resiko mendampingi Aruna harus siap menerima masalalunya.


Aruna mengangguk pelan dengan air mata yang sudah hampir berjatuhan.


"Kuat, ada aku Sayang." Denis mengecup belakang kepala Aruna berkali-kali untuk menyalurkan ketenangan.


Aruna melingkarkan tangannya di pinggang Denis, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu persis yang dilakukan Dea tadi.


"Kita hilangin sakitnya," bisik Denis.


"Ada Dea, Denis."


"Dia tidak akan bangun, Sayang." Denis mengangkat dagu Aruna lembut menempelkan bibirnya di sana. Satu tangannya bergerak untuk memberikan sentuhan yang bisa membuat Aruna melupakan rasa sakitnya.


"Pulang," pinta Aruna. Dia tidak tahan menghindari apa yang Denis berikan.


"Dea masih tidur, Sayang. Kita pindah ke sofa." Denis tersenyum mengangkat tubuh Aruna, dia tau perempuannya ini meminta lebih.


"Ekhem!"

__ADS_1


__ADS_2