
"Bodoh Aruna! Tian itu ayah Dea, malah kamu lepaskan begitu saja. Kamu bisa memilikinya dengan memanfaatkan Dea."
"Ibuuu, cukup!! Aku sudah lelah mendengar ibu membahas ini, Tian... Tian dan Tian. Ibu terlalu terobsesi dengan Tian karena dia yang menjadi suami Ressa. Tian itu mencintai Ressa, Ibu." Lirih Aruna yang sudah lelah berdebat dengan sang ibu, sejak satu jam yang lalu pembahasan hanya seputar lelaki itu.
"Kalau dia mencintai Ressa, tidak mungkin mau menyentuhmu Aruna. Kamu bisa saja membuat dirimu hamil dan menjerat Tian agar tidak pergi darimu."
"Ibu, Tian memang menyentuhku. Tapi hatinya milik Ressa. Bahkan saat berhubungan denganku pun kadang dia menggumamkan nama Ressa." Sambung Aruna dalam hati, apa yang lebih menyakitkan dari semua itu. Tinggal bersama orang yang mencintai orang lain. Raganya memang bisa dimiliki, tapi hatinya tidak.
"Persetan dengan cinta, Aruna!! Kalau kamu hidup dengannya tidak perlu bersusah payah lagi bekerja untuk membiayai Dea."
"Semua kebutuhan Dea sekarang sudah Tian tanggung Bu, apalagi yang kurang." Lirih Aruna.
"Yang Tian berikan padamu itu tidak sebanyak yang diberikannya pada Ressa!" Tukas Rina.
"Tidak akan ada habisnya kalau hanya memikirkan materi, Bu. Aku akan lelah mengejarnya, yang ada hatiku terluka. Ressa bukan anak kandung ibu, tapi dia selalu mengirimkan uang untuk ibu."
__ADS_1
"Itu sudah seharusnya, Aru. Karena aku yang membesarkan dan memberinya makan. Uang yang dia kirim itu tidak ada nilainya dibanding aku membesarkannya sejak bayi."
Aruna menggeleng pelan, "aku pulang Bu." Pamitnya, mendengar sang ibu berceramah tidak ada habisnya, membuat kepalanya pusing.
"Rumah kamu di sini, Aru. Mau pulang kemana?"
"Pulang ke rumah yang dibelikan ayah Dea, Bu." Jawab Aruna pelan sambil tersenyum.
Rina berdecih, "cih. Rumah saja kamu dibelikan yang kecil seperti itu."
"Denis sudah menjemputku, Bu. Aku permisi." Pamit Aruna, setelah menyalami Rina dia langsung melimpir.
Aruna langsung menuju mobil Denis yang memang tidak pulang sejak mengantarnya. Lelaki itu membawa Dea jalan-jalan.
"Lesu banget," sambut Denis membukakan pintu mobil. Aruna melirik ke kursi penumpang belakang, putrinya sudah terlelap.
__ADS_1
"Aku pusing Denis," adu Aruna menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. Denis menyalakan mobil, melajukannya dengan pelan.
"Ibu kenapa lagi?" Tangan kiri Denis terulur memijat kecil puncak kepala Aruna.
"Ibu ingin aku mempertahankan Tian. Entahlah kenapa ibu sangat membenci Ressa. Sampai apa yang Ressa miliki harus aku rebut."
"Ibu tidak suka aku bersamamu?" Tanya Denis lembut. Aruna mengangguk kecil, "kalau kamu, mau bersamaku?"
"Denis," rengek Aruna membuka mata. Menarik tangan Denis yang ada di kepalanya lalu mengecupnya di telapak tangan. "Aku yang memintamu menikah denganku. Mana mungkin aku tidak mau bersamamu, Denis."
"Kau membuatku tersengat aliran listrik, Sayang." Denis menarik tangannya geli, tapi Aruna menahannya. Memberikan tatapan menggoda pada Denis.
"Sayang, jangan macam-macam. Kita bisa terlambat sampai rumah, kasihan Dea tidur sambil duduk."
"Emang terlambatnya berapa jam, Denis." Aruna menempelkan telapak tangan Denis di bibirnya.
__ADS_1
"Sayang, please. Dea bisa saja pura-pura tidur di belakang." Mohon Denis sambil mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai. Miliknya sudah cenat-cenut mendapat serangan dadakan dari Aruna.
"Lihat, aku gak ngapa-ngapain Denis. Aku cuma megang tangan kamu." Aruna tersenyum devil, Denis meringis mengingat betapa agresifnya perempuan itu kalau diberi kesempatan.