Aksara Cinta

Aksara Cinta
191. Limited Edition


__ADS_3

"Baby, ada apa?" Azmi merentangkan tangan yang disambut Dea dengan senyuman bahagia.


"Kangen," jawab Dea sambil tersenyum. Layaknya orang dewasa yang sedang dimabuk cinta. Gadis yang dilanda virus merah jambu itu tidak berhenti menampakkan senyumannya.


"Oh Tuhan, manjanya duplikat sang mommy." Komentar Denis yang tidak berkedip menatap layar. Mereka layaknya komentator di ajang pencarian bakat


"Dea punya hadiah buat Om," gadis itu mengeluarkan kotak segi empat berwarna biru dari tasnya.


"Ini buat Om?" Tanya Azmi membuka kotak yang berisi jam tangan. Yang ia tahu harganya sangat mahal, masih lengkap dengan label dan garansinya.


Di ruang tengah Denis tertawa gelak melihat jam tangan yang baru Tian beli diberikan Dea pada Azmi.


"Anak siapa sih itu, cerdas banget." Komentar Jeri yang ikut mentertawakan.


Tian meringis, "itu limited edition Sayang. Kenapa dikasihkan, kalau mau ngasih yang KW aja," gumamnya. Seolah Dea bisa mendengar apa yang dia ucapkan.


"Jam masih bisa beli yang keluaran terbaru nanti," sahut Erfan asal. Lalu mereka fokus pada Deandra kembali.


"Om gak suka?" Tanya Dea sedih.

__ADS_1


"Suka Sayang," Azmi tersenyum, "coba Dea yang pasangkan."


Dengan senang hati Dea memasangkan jam itu ke pergelangan tangan Azmi, "cakep." Katanya riang.


"Thanks Baby," Azmi mengecup pipi Dea. "Ke mobil Om sebentar Sayang." Ajaknya, Dea menurut saja. Sebenarnya dia bingung dengan dirinya sendriri. Ia marah pada pria dewasa ini karena sudah menipunya. Tapi di sisi lain dia bahagia bisa dekat dengan Azmi.


"Nama Om siapa?"


"Azmi," jawab pria itu seraya membukakan pintu mobil untuk Dea.


"Sayang, Dea di bawa ke mobil." Seru Ressa panik.


"Apa gak ada kamera yang bisa menembus kaca mobil. Dia mau apakan Dea lagi," ujar Tian gusar.


"Dea sayang sama Om?" Tanya Azmi, gadis itu mengangguk pasti.


"Om juga," Azmi memeluk Dea dengan sayang. Menciumi rambut itu penuh dengan cinta. "Kapan kamu besar Sayang, Om mau bersamamu. Dea mau terus bersama Om?"


Gadis itu ragu untuk mengangguk, lalu berucap. "Om kenapa jahat sama Dea? Dea sudah percaya kalau Om itu orang baik. Tapi Om buat Mommy dan Nenek jadi sakit karena Om menculik Dea."

__ADS_1


"Baby, Om gak bermaksud bikin Mommy dan Nenek kamu sakit." Azmi dibuat terkejut dengan penuturan Deandra, gadis itu tidak selugu yang ia kira.


"Apa Om juga mau perkosa Dea?" Tanya Deandra to the point.


"Sayang, kenapa bertanya seperti itu. Kalau Om mau melakukannya sudah dari awal saat kita ketemu," ucap Azmi sendu.


"Kenapa Om bikin ini, kata Buba hanya yang sudah menikah yang boleh membuatnya." Dea menghapus make up yang menutupi bekas kecupan di lehernya.


"Maaf, Om yang salah, jangan bertanya seperti itu. Om tidak akan menyakiti Dea begitu."


"Kenapa Om jahat sama Dea," ucap Deandra diikuti tangisan.


"Baby, jangan menangis, please." Azmi panik menenangkan Dea. Tidak menyangka Dea akan menangis seperti ini saat bertemu dengannya.


"Jangan cari Dea lagi setelah ini, Om cuma mau menyakiti keluarga Dea. Om gak benar-benar sayang sama Dea." Deandra mendorong tubuh Tian lalu keluar mobil.


"Sayang," Azmi keluar mobil mengejar gadis itu dan memeluknya. "Maafin Om, jangan marah!" Katanya menghapus air mata Dea.


"Dea gak mau ada yang menyakiti keluarga Dea!" Sarkasnya, tidak mempedulikan ucapan pria dewasa itu.

__ADS_1


"Sayang, maafin Om please." Mohon Azmi mersimpuh di hadapan gadis itu. Deandra membuang wajahnya dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Azmi lepaskan putriku!!"


__ADS_2