
“Daddy, kenapa Dea harus diperiksa dokter seperti tadi?” tanya Dea ketika mereka sudah keluar dari rumah sakit.
Denis menoleh pada Deandra sebelum menghidupkan mobil, “coba Dea lihat.” Tunjuknya pada kaca spion, “tanda itu hanya boleh dibuat oleh orang yang sudah menikah Sayang. Apa yang Om itu lakukan pada Dea tidak benar. Anak perempuan hanya boleh dicium oleh ayahnya sebelum menikah. Dan itupun hanya sebatas di pipi. Tidak untuk daerah lain.” Jelas Denis lembut, menatap Dea dengan penuh cinta seperti putri kandungnya sendiri.
“Maksud Daddy, Om itu jahat?”
“Kalau gak jahat, Om itu gak akan nyulik Dea Sayang.” Denis menepuk puncak kepala Dea sebelum menjalankan mobil.
“Tapi Om itu gak nyatikin aku seperti orang yang nyulik Buba, Daddy.” Bela Dea, dia tetap yakin kalau lelaki dewasa yang bersamanya itu orang baik.
“Musuh yang paling berbahaya itu yang terlihat baik di depan korbannya, Honey. Kita tidak tau niat terselubung di hati mereka.” Ucap Denis singkat, dia tidak ingin membuat Dea berpikir terlalu banyak. “Berjanjilah sama Daddy jangan temui orang itu lagi.”
“Tapi Daddy…”
“Karena orang itu menculik Dea, nenek jadi sakit dan mommy terus menangis mengkhawatirkan kamu Sayang. Dea lebih sayang sama mommy atau Om itu?”
Deandra tidak menjawab, sejak pulang tadi dia memang belum menemui mommy dan neneknya itu.
Denis menghela napas berat, sangat terlihat jelas kalau putrinya ini sedang bimbang. Apa rasa sayang bisa muncul secepat itu dihati gadis kecil ini. Sedang ia saja bertahun tahun tidak bisa move on dari mommy-nya. Jangankan untuk memberikan hatinya untuk perempuan baru, berkencan saja dia malas.
Sesampainya di rumah Denis langsung membawa Dea menemui Ressa. Kebetulan istri Tian itu masih bergabung di ruang tamu.
__ADS_1
"Ressa tolong bantu tutupin tanda itu, baru temani Dea ke kamar Aru." Pinta Denis, dia khawatir Aruna akan syok kalau mengetahuinya.
Istri Tian itu mengangguk mengerti membawa Dea ke kamarnya terlebih dahulu.
"Bagaimana Om itu membuat ini Sayang, apa dia kasar sama Dea?" Tanya Ressa hati-hati, dia benci mengetahui laki-laki itu masih hidup bebas.
Deandra menggeleng, dia masih belum percaya kalau Om itu orang jahat. "Om gak pernah kasar sama Dea Buba."
"Dea mau cerita sama Buba, bagaimana Om menyayangi Dea, bagian mana aja yang disentuhnya?" Pancing Ressa seraya mengoleskan concealar ke bekas kissmark agar warnanya memudar.
"Om suka mengelus kepalaku sebelum tidur, menciumku di pipi." Ucap Dea dengan berbinar, membayangkan semua yang pria dewasa itu lakukan. Dia masih bisa mengingat jelas semuanya.
"Dea bahagia Buba, Dea masih belum percaya Om itu orang jahat."
"Buba gak maksa Dea buat percaya, setelah dewasa nanti Dea akan mengerti kalau yang Om itu lakukan pada Dea gak pantas, Sayang." Ucap Ressa penuh kelembutan, walau hatinya terasa nyeri.
"Apa Om pernah meminta Dea melakukan sesuatu?" Pancing Ressa lagi, kalau laki-laki itu tidak menyentuh Dea bisa saja mengambil keuntungan dengan cara lain.
"Om pernah minta pijetin di sini, katanya keram karena menemani Dea berenang. Itu apa ya Buba?" Ucap Dea seraya menunjuk bagian tubuh diantara kedua pahanya.
Ressa memejamkan mata lalu bertanya lagi, "apa Dea melihatnya?"
__ADS_1
Gadis itu menggeleng, Ressa menarik napas lega membawa Dea dalam pelukan. "Sayang, yang boleh memegang bagian tubuh itu hanya istrinya. Kalau benda itu dimasukkan ke sini bisa membuat perempuan hamil." Jelas Ressa hati-hati, setelah menunjukkan tempat yang paling sensitif itu.
Ressa bingung bagaimana cara memberitahu hal dewasa pada anak seusia Dea. Tapi kalau tidak diberitahu Dea tidak akan mengerti jika hal itu sangat berbahaya.
"Jadi Om itu..."
Ressa mengangguk pelan sebelum Dea menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa saat Om membuat ini Dea seperti digelitiki sampai sini Buba?" Tanya Deandra polos. Lagi-lagi menunjuk bagian sensitif itu setelah menunjuk di leher.
"Karena leher sangat sensitif kalau disentuh lawan jenis, Sayang. Dan itu hanya boleh dirasakan oleh orang dewasa yang sudah menikah. Itulah kenapa perempuan tidak boleh bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya."
"Apa Om itu memperkosaku Buba?" Tanya Deandra takut, dia sering mendengar cerita mengerikan seperti itu. Tapi tidak tau kalau cinta yang dia dapatkan selama satu minggu ini hampir membuatnya mendapatkan hal itu.
"Hampir Sayang, kalau Om itu memaksa Dea memasukkan yang Dea pegang itu ke sini." Ucap Ressa, semoga apa yang dia ucapkan bisa dicerna Dea sebagai pelajaran bukan rasa penasaran yang membuatnya terjebak dalam lembah hitam nanti.
"Buba Dea takuuut!!" Rengek gadis remaja itu.
"Jangan temui Om itu lagi ya Sayang, Buba juga sangat takut kamu kenapa-kenapa. Dan jangan ceritakan ini pada Mommy Aru atau nenek. Kalau Dea mau cerita, sama Buba dan kedua daddy Dea aja."
Dea mengangguk mengerti, setelah memberikan penjelasan panjang Ressa membawa Dea ke kamar Aruna.
__ADS_1