Aksara Cinta

Aksara Cinta
216. Hari Pertama


__ADS_3

"Kenapa jadi sewot sih, Ressa cuma bercanda Mas." Aruna menyusul suaminya yang kembali ke kamar. Dia bingung dengan Denis yang tiba-tiba jadi baper.


"Sampai sekarang aku masih menyesal karena tidak menemani Tian ke club mencarimu dulu Sayang. Kalau aku menemaninya, mungkin kejadian itu gak akan menimpamu. Dan Dea gak kehilangan kasih sayang selama dua belas tahun ini."


"Mas, semua sudah lama selesai, aku tidak pernah menyalahkanmu bahkan Tian. Kita sekarang sudah bahagia. Dea juga sudah bahagia bersama kalian. Aku gak mau kamu merasa bersalah atas takdir yang menghampiriku dan Dea."


"Harusnya aku mencarimu saat kamu pergi Sayang." Denis membenamkan wajahnya di bahu Aruna.


"Mungkin harus dengan cara seperti ini dulu Tuhan mentakdirkan kebersaman kita," Aruna mengusap-usap kepala Denis kemudian memberikan kecupan di sana.


"Sudah cinta sama aku, hm?" Tanya Denis menggoda. Mengalihkan pembicaraan dari hal yang bisa membuatnya jadi melow.


"Maass, ini anak siapa? Bisa-bisanya kamu nanya gitu," jawab Aruna sewot menunjuk perutnya.


"Anak aku. Siapa tau di sini masih ada adik iparmu," Denis menunjuk dada Aruna sambil senyum-senyum.


"Ngeselin banget, pengen aku kutuk kamu Mas!!"


"Bercanda Sayang," Denis tertawa geli menggigit pipi sang istri. "Pantesan Mommy jadi galak ada kamu di dalam Sayang," katanya beralih ke perut Aruna.


"Bukan Mommy yang galak, Daddy tuh yang sangat menyebalkan." Sarkas Aruna jengkel.


"I love you too, Honey." Denis menjawab kejengkelan istrinya dengan ucapan cinta.


"Aku lagi kezeeelll Mas, bukan bilang cinta!!"


"Oh ya, aku kira kamu lagi ngungkapin cinta Sayang." Denis menubruk Aruna pelan sampai terbaring di tempat tidur.


"Gak papa kamu kezel sama aku. Tapi aku sayang sama kamu bidadariku." Denis tersenyum menempelkan bibirnya, menyesap benda kenyal itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku selalu suka kamu yang manja kalau sedang berdua denganku," ucap Denis di sela-sela aksinya. "Kalau begini gak ada lagi Arunaku yang galak," lanjutnya.


"Jangan pernah pertanyakan perasaanku lagi Mas, aku milikmu."


"Aku tau Sayang, aku hanya bercanda." Pria itu membawa istrinya dalam pelukan. "Terimakasih untuk ini," Denis mengelus perut Aruna.


"Mommy," panggil Deandra menggedor pintu kamar mommy-nya dengan keras mengganggu kemesraan dua sejoli itu.


Denis segera bangun membukakan pintu, sedang Aruna merapikan pakaiannya. Setelah mendapatkan serangan dadakan tadi.


Aruna mengangkat sebelah alis bertanya tanpa suara. Anak gadisnya itu memeluknya dengan wajah lesu.


"Dea keluar darah," gumamnya pelan agar tidak di dengar sang Daddy.


"Lukanya dimana Sayang?" Tanya Aruna, gadis itu menggeleng pelan.


"Oh, ayo Mommy temani ganti di kamarmu."


Deandra mengangguk kecil. Aruna paham, putrinya itu baru kedatangan tamu pertama kali tidak memiliki persiapan apapun.


"Mas, aku temani Dea ke kamar dulu." Ijin Aruna, setelah mengambil stok pembalut di lemarinya.


Denis mengangguk, setelah ibu dan anak itu pergi ia menghela napas panjang. Mereka harus memperharikan Deandra lebih ekstra lagi. Denis takut Azmi tiba-tiba datang menemui Dea lagi dan melakukan hal yang di luar batas.


"Mommy, perutku sakit." Rengek Dea setelah keluar dari kamar mandi. Ia langsung berbaring di tempat tidur.


"Mommy ambilkan obat pereda nyeri ya Sayang." Baginya mungkin hal seperti itu sudah biasa setiap tamu bulanan datang. Tapi tidak untuk gadis yang baru menginjak remaja itu.


"Dea kenapa Ru?" Tanya Tian yang melihat Aruna terburu-buru keluar dari kamar putrinya.

__ADS_1


"Sakit perut Mas karena baru pertama haid," jawab Aruna cepat.


"Haid?" Tian melongo, putri kecilnya sudah haid. Itu artinya Dea bukan anak kecil lagi. Gadisnya itu semakin dewasa saja, ia jadi takut.


"Iya, kenapa Mas. Wajarkan anak gadis haid." Aruna menyadarkan Tian yang melamun.


"Iya, wajar." Suami Ressa itu mengangguk, masuk ke kamar putrinya.


"Honey, sakit banget?" Tian naik ke atas tempat tidur memijat pinggang Deandra. Gadis remaja itu hanya mengangguk pelan.


"Bantu Dea minum obat dulu Mas," pinta Aruna pada Tian. Denis mengikuti di belakang istrinya.


"Bangun sebentar Sayang," Tian membangunkan Dea. Membantunya minum obat, setelahnya ia memeluk sang putri dari belakang.


Karena merasa nyaman Dea tertidur dalam pelukan Tian setelah rasa sakitnya mulai mereda.


"Aku tinggal ke dapur dulu ya, kalian jaga Dea." Ucap Aruna yang diangguki Tian.


"Iya Sayang," jahut Denis.


Tian membiarkan saja putrinya itu tidur dalam posisi nyamannya. Tidak menggesernya sedikitpun, hanya memberikan usapan agar tidurnya semakin nyenyak.


Denis menghampiri tempat tidur, ikut duduk di sana sambil membelai pipi Deandra. "Dia sudah semakin dewasa, apa Azmi benar-benar akan datang mengambilnya nanti."


Tian menggeleng pelan, kekhawatirannya juga sama seperti Denis. Bukan karena tidak bisa membayar bodyguard untuk mengawal putrinya ini. Tapi kalau Dea sudah terjerat dengan pria dewasa itu bagaimana. Akan sulit untuk Tian menghalaunya. Antara merestui atau tetap pada keputusannya.


"Dia hadir karena kesalahanku Tian, andai aku menemanimu malam itu. Dea tidak akan lahir tanpa kasih sayang yang utuh seperti ini. Pasti selama ini dia sangat merindukan pelukanmu."


"Semua sudah berlalu Denis, sekarang dia ada dalam pelukan kita berdua. Kita tinggal menjaganya dengan baik. Menjaganya dari laki-laki yang ingin mempermainkannya, terutama Azmi." Gumam Tian pelan, waspada kalau saja putrinya ini tidak benar-benar tidur dengan nyenyak dan masih bisa mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2