Aksara Cinta

Aksara Cinta
215. Daddy Yang Tertukar


__ADS_3

"Daddy, Mommy sakit apa?" Sambut Deandra.


Denis baru pulang memeriksa Aruna sesuai saran sang ibu mertua. Pria itu membawa Dea duduk terlebih dahulu sebelum memberitahunya. Ia khawatir anak gadisnya ini merasa terabaikan.


"Mommy hamil Sayang, Dea gak papa." Ucap Denis pelan menggenggam tangan putrinya.


"Dea gak papa, malahan senang mau punya adik lagi." Jawab Dea dengan senyuman ceria.


Aruna menghela napas lega, tadi ia khawatir saat dokter memberitahu kalau dia positif hamil. Ia tidak ingin putrinya itu merasa terasingkan dan dibeda-bedakan kasih sayang saat memiliki anak dari Denis. Mereka sangat menjaga perasaan Deandra.


"Makasih Sayang, Daddy tetap sayang sama Dea kok." Denis memeluk Dea seraya mengusap punggungnya hangat.


"I know Daddy," jawabnya dengan senyuman manis. Sekarang ia di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Hal yang hanya di dapatkannya dari sang ibu selama dua belas tahun ini.


Suara bel mengalihkan atensi tiga orang itu, Aruna bergegas membuka pintu.


"Bill ada apa?" Tanya Denis lebih dulu yang mengikuti istrinya ke depan pintu.


"Pak Tian pulang, menunggu di mobil." Beritahu anak buahnya.


"Pulang, baru beberapa jam melahirkan sudah pulang." Aruna sudah siap mengomel pada Tian, ia cepat-cepat mendatangi mobil yang terparkir di depan teras.


"Ru, tolong gendong si boy." Pinta Tian, memberikan baby boy itu pada Aruna. Setelahnya ia membawa Ressa masuk dengan menggendongnya. Walau harus berdebat dulu.


"Mas, aku bisa jalan sendiri!" Tolak Ressa saat ingin Tian gendong.


"Sayang, kamu jalan aja susah. Masih ngeyel!"

__ADS_1


"Aku bisa Mas, aku bisa!!" Kekeuh Ressa.


"Sayang, kamu habis aku bikin keenakan aja kugendong ke kamar mandi. Apalagi sekarang yang habis kesakitan!" Sarkas Tian frontal karena geram pada istrinya yang sok kuat itu.


"Mas, gak bahas itu di sini juga." Ucap Ressa cemberut.


"Makanya diam, jangan banyak bergerak. Sekarang aku gendong," paksa Tian. Bukan karena tubuh Ressa ringan seperti kapas, tapi dia tidak mau istrinya itu tambah kesakitan.


"Kenapa Buba sudah dibawa pulang, Daddy?" Tanya Dea saat melihat sang ayah menggendong buba-nya melewati ruang tengag. Ia mengikuti Tian masuk ke kamar.


"Dokter sudah bolehin Buba pulang Sayang, kalau di rumah kan Dea enak main sama adek." Sahut Tian seraya menurunkan Ressa di tempat tidur.


"Buba gak kenapa-kenapa Sayang, sudah sehat." Ressa melambaikan tangan agar putrinya mendekat. Gadis remaja itu bergerak pelan mendekati Ressa.


"Kenapa sih galau terus?" Ressa menyandarkan kepala Deandra ke bahunya.


"Dea lihat Buba baik-baik ajakan."


"Tetap aja Dea khawatir sama keadaan Buba."


"Jangan terlalu cepat dewasa Sayang. Kami tidak menuntutmu untuk mengerti segala hal yang ada di depanmu. Tetaplah bersikap seperti anak seusiamu." Ungkap Ressa dengan memberikan belaian di bahu putrinya.


Aruna tersenyum meletakkan baby boy di samping Ressa. Ia bersyukur Ressa yang menjadi ibu sambung dari putrinya itu. Jadi dia tidak perlu khawatir Dea mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.


"Dea cuma gak mau nyusahin kalian," ucap Dea.


"Kamu tidak menyusahkan siapapun Sayang. Dea itu masih tanggung jawab kami, kebahagiaanmu juga menjadi tanggung jawab kami semua. Sekarang Buba ada di sini masih bisa memeluk Dea, jangan pikirkan apapun lagi Berhenti berpikir terlalu berat, belum waktunya Sayang. Nanti kamu cepat tua sebelum saatnya tiba."

__ADS_1


"Buba ih, aku gak mau jadi nenek-nenek sekarang. Nanti Nenek kalah saing sama aku," gumam Dea tertawa kecil.


"Kamu itu anak siapa sih Sayang, Daddy Denis atau Daddy Tian? Buba curiga Daddy-mu itu tertukar." Ujar Ressa asal yang mendapat pelototan dari Denis. Gadis itu kadang banyak memiliki kesamaan dengan Denis. Hanya garis wajahnya yang sangat mirip dengan sang suami.


"Mulutnya, gak dikasih saringan!!" Seru Denis geram pada perempuan yang baru brojol itu. Salah-salah itu akan menjadi pemicu perdebatan diantara dengan Tian.


"Aku bukan kelapa yang harus disaring dulu untuk mendapatkan santannya Denis."


"Terserah kau saja, asal kau bahagia." Gumam Denis jengkel.


"Kenapa jadi sewot sih, cukup ibu hamil yang sensitif. Bapaknya jangan!" Oceh Ressa semakin menjadi-jadi, seperti tidak baru selesai melahirkan.


"Urus istrimu itu Tian, bikin kesal aja!" Gerutu Denis keluar dari kamar.


"Hei, aku adik iparmu jangan semena-mena!" Teriak Ressa.


Denis mengendikkan bahu tetap pergi dari kamar Tian.


"Sayang, mulutnya baru dijahit loh, masih bisa nyinyir aja." Tegur Tian dengan kekehan.


"Maass, kamu gak jelas!"


"Kalian semua yang gak jelas. Dea jadi pusing!!" Gumam Deandra melerai perdebatan unfaedah itu. Sebenarnya apa yang mereka permasalahkan. Hanya candaan Daddy yang tertukarkan. Kenapa Daddy-nya yang satu itu jadi sewot.


...💥💥💥...


Mon maaf cuma bisa up segini.

__ADS_1


Happy ied mubarak semuanya🙂


__ADS_2