Aksara Cinta

Aksara Cinta
14. Penggetar Hati


__ADS_3

"Hei, anak nakal!" Tian tidak peduli ada Denis di ruangan, langsung menarik Ressa dalam pelukan. Dia paling susah menahan diri jika sudah melihat Ressa yang memasang wajah memelas seperti ini.


"Aku salah apa?" Tanya Ressa bak anak TK yang polos.


"Kamu tidak tau salahmu dimana?" Ressa menggeleng pelan, padahal dalam hati dia tertawa sumbang. Bosnya ini sangat aneh, seolah mengklaim dirinya sebagai hak milik.


"Ini wilayahku, kamu tidak boleh dekat dengan siapapun. Kalau sampai aku melihat lagi, akan kubuat mereka keluar dari tempat ini."


"Apa hakmu melarangku dekat dengan orang lain? Kita tidak lebih dari bos dan karyawan." Tanya Ressa lantang.


"Aku sudah berulang kali mengajakmu menikah Ressa. Kamu yang selalu menolak, jadi jangan salahkan aku kalau tidak ada yang boleh mendekatimu." Ujar Tian posesif, Denis geleng-geleng kepala dengan kegilaan temannya itu.


"Aku tidak pernah melarangmu dekat dengan siapapun, itu juga berlaku untuk diriku. Kamu tidak berhak melarangku dekat dengan siapapun." Ressa menegaskan sekali lagi, Tian patut mendapatkan predikat bos teraneh di dunia ini. Ia sampai tidak mengerti kenapa Tian bersikeras mengekangnya.

__ADS_1


"No Honey!" Tegas Tian.


"Aku Ressa, Tian. Bukan Erra yang bisa kamu larang melakukan apapun. Aku bukan anak kecil, dan kamu tidak berhak melarang aku!"


"Hei, Erra itu sudah seperti putriku sedang kamu calon istriku."


Ressa tertawa geli, "tidurmu terlalu miring bos. Kebanyakan mimpi!" Desisnya lalu pergi.


Denis tertawa miris melihat adegan bosnya dinistakan. "Gue bisa carikan lo perempuan yang lebih dari Ressa," hiburnya.


"Perempuan butuh merasa di hargai Tian. Lo memperlakukan Ressa, seolah dia gak berharga di mata lo. Perempuan ingin diperlakukan istimewa."


"Gue sudah memperlakukannya dengan sangat istimewa, Denis!"

__ADS_1


"Itu menurut lo. Kalo lo menganggapnya berharga, lo gak akan memeluknya sesuka hati lo tanpa ikatan Tian. Harusnya lo ngerti itu, harga diri perempuan terluka ketika lo begitu mudahnya menyentuh dia."


Denis sampai bingung bagaimana cara berbicara dengan bahasa manusia pada Tian. Teman sekaligus bosnya ini terlalu liar, tidak pernah menerima dinasehati.


Ressa pulang ke apartemennya sudah dua malam ini. Ia tidak bisa pulang ke rumah saat lembur, itu akan memicu perdebatan dengan ibunya.


Setelah membersihkan diri, ia membaringkan tubuh di ranjang king size miliknya. Sebenarnya Tian menganggapnya apa, begitu mudah bosnya itu memeluknya sesuka hati. Sedang Ressa tidak tau, sepenting apa dia bagi Tian.


Ia tidak akan mampu bersaing dengan perempuan-perempuan Tian. Mereka berasal dari kalangan artis dan model, dari segi postur tubuh saja dia sudah kalah telak. Apalagi kecantikan.


"Semua akan mudah, jika kamu hanya milikku Tian. Tapi itu tidak mungkin, seakan kamu itu sudah diklaim milik bersama," gumam Ressa.


Segala usahanya menjauhi si penggetar hati selama tiga tahun ini sia-sia. Tian datang dengan wujud yang masih sama sebagai pengusik.

__ADS_1


Sedang dia, hanyalah seorang karyawan yang tidak memiliki kuasa apapun untuk menentang bosnya itu. Selain bisa membuatnya tidak berdaya karena posisi, Tian juga bisa membuatnya tidak berdaya dengan sentuhan. Ressa benci mengingat semua itu. Dia benci menjadi lemah di hadapan Tian. Jika dulu ada Erfan yang bisa menolongnya, sekarang tidak ada lagi.


__ADS_2