Aksara Cinta

Aksara Cinta
112. Aku.....


__ADS_3

"Kau nakal, Sayang." Denis memeluk Aruna dengan erat. "Kenapa waktu sangat lama berputar, tidak mengertikah kalau aku sudah tidak sabar ingin memilikimu."


Aruna diam, tidak tau bagaimana perasaan hatinya sekarang. Denis hanya sebagai pelampiasannya atau memang hatinya sudah berlabuh pada lelaki ini. Dia merasa nyaman berada di dekat Denis.


"Aku tau ini tidak mudah buatmu, Aru. Tapi aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku." Kecupan mendarat di puncak kepala Aruna. Kemudian lelaki itu tertidur sambil memeluk perempuan yang selalu di jaganya sejak dulu.


Ya, perasaan yang tumbuh sejak belasan tahun lalu. Hanya saja Denis terlalu pintar menutupinya, bersembunyi di balik topeng sahabat. Menyediakan bahu untuk Aruna bersandar dan pelukan untuk perempuan itu mengadukan segala resah gelisah.


"Aku tidak tau menyayangimu sebagai apa, sahabat atau seorang lelaki yang mengisi kekosongan hatiku. Yang aku tau, aku menyayangimu. Ingin selalu berada dalam pelukanmu," gumam Aruna lirih.


Denis masih bisa mendengar. Tapi ia sengaja tidak merespon, membiarkan saja Aruna mengungkapkan isi hatinya. Dia juga tidak memaksa Aruna memberikan hati padanya secepatnya. Asal Aruna masih berada di sisinya itu yang lebih penting.


Kala Aruna sedang gamang berada dalam pelukan Denis, berbeda dengan Ressa yang membongkar habis isi lemari lalu mempackingnya.


"Honey, kamu benar-benar mau pergi dariku?" Tanya Tian pelan, tenaganya sudah habis terkuras sekarang. Walau baru bangun tidur, tetap saja tubuhnya masih lemas.


"Sebaiknya memang beginikan, Sayang." Jawab Ressa seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Apa aku harus bersujud dan mencium kakimu, agar kamu tidak pergi dariku Ressa Azkia. Kita bisa menyelesaikan masalah Dea sama-sama. Apalagi sekarang ada Denis yang bisa meluluhkan hatinya."


Tian bersimpuh di lantai memeluk kaki Ressa yang masih sibuk mengeluarkan pakaiannya.


"Bangun Sayang, jangan bersimpuh seperti aku ingin mengutukmu saja." Canda Ressa dengan suara tawa renyah.


"Lihatlah dia masih bisa bercanda seperti itu. Sungguh tidak mengerti dengan hatiku yang ketar-ketir." Seru Tian dalam benaknya.


"Kamu memang tidak mengutukku, Sayang. Tapi kamu bisa membuatku kena kutukan seumur hidup karena kehilanganmu."


"Jangan katakan apapun Ressa, jangan katakan lagi kalau kamu ingin pergi dariku. Aku lelah, sekarang aku sangat lelah. Bahkan tenagaku sudah habis terkuras."


"Justru itu, ayo bangun biar aku jelaskan sambil duduk, supaya energimu tidak terkuras terlalu banyak." Ressa tersenyum penuh arti.


"Jangan katakan apapunĀ  Sayang." Mohon Tian, Ressa membantu Tian bangun mendudukkannya di sisi tempat tidur. Perempuan itu menghela napas beras sebelum berucap, membuat semakin Tian panas dingin.


Untung kalimat cerai itu bukan yang keluar dari mulut perempuan. Andai begitu, entah sudah berapa kali ia diceraikan dalam sehari karena kelabilan istrinya ini.

__ADS_1


"Aku..." Ressa menggantung kalimatnya lalu menarik napas dengan berat. Tian menunggu dengan jantung berdebar-debar. Takut setelah ini Ressa tidak dapat dibujuk lagi.


"Sayang, jangan katakan apapun, please." Ujar Tian harap-harap cemas memeluk Ressa dari samping.


"Diam Sayang, aku belum selesai. Dadaku rasanya sesak." Ucap Ressa dilebih-lebihkan, dia sengaja mengulur waktu.


"Sudah, kamu yang diam, kalau dadanya sesak. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Lirih Tian meraba seluruh wajah Ressa.


"Dengarkan aku dulu Tian, kamu membuatku susah bicara dari tadi." Ressa melirik sekilas wajah Tian yang lesu, dalam hatinya tertawa puas.


"Bantu aku bakar pakaian-pakaian ini. Aku gak mungkin kasihkan orang baju-baju seksi inikan. Mulai sekarang aku mau benar-benar tertutup, gak buka tutup lagi." Ressa menghela napas lega setelah mengucapkannya.


Tian mengelus dada, lega. Hampir saja dia harus berjuang membujuk perempuan kepala batu ini, untung sayang.


Lelaki itu mengecup seluruh wajah Ressa dengan sayang. "Aku tidak berani berjanji, tapi aku akan menjaga seluruh tubuhku ini hanya menjadi milikmu Sayang. Tidak akan aku biarkan ada perempuan yang bisa menyentuhku lagi selain kamu dan anak-anak kita," ucapnya serius.


"Erra pengecualian. Dia sudah seperti putriku sendiri," lanjut Tian. Ressa tersenyum, menyisir rambut Tian dengan jari-jemari. "Semoga saja begitu," batinnya.

__ADS_1


__ADS_2