Aksara Cinta

Aksara Cinta
31. Apa Cinta Butuh Alasan


__ADS_3

"Tolong kalian terjemahin maunya Ressa itu apa?" Ucap Tian frustasi, setelah marah-marah perempuan itu meninggalkannya pergi.


Hira memandang suaminya, dia memang kurang setuju Tian bersama dengan Ressa. Tapi melihat lelaki itu hampir putus asa ada rasa iba di hatinya.


"Dia mau lo pergi Tian," jelas Erfan pelan. Dia bisa melihat bagaimana mata sahabatnya itu memerah. Ia percaya Tian benar-benar serius dengan Ressa dan tidak akan mempermainkan perempuan itu.


"Gue lepasin semuanya buat Ressa, Fan." Lirih Tian, sedikit lagi kalau tidak ditahan genangan air itu pasti berhamburan.


"Panggil Erra, Sayang." Pinta Erfan, hanya gadis kecil itu yang bisa menghibur Tian. Hira mengangguk mencari putrinya yang sedang bermain di taman belakang.


"Jadikan ini pelajaran Tian, bertobat, kembalilah pada Allah. Mudah bagi Allah membolak-balikkan hati hambanya. Tinggalkan semua yang Allah benci ini." Erfan tersenyum menepuk bahu sahabatnya. Tian berhenti meniduri perempuan setiap malam itu sudah kemajuan.


"Gue gak pantas Erfan, terlalu banyak dosa gue. Sudah tidak terhitung berapa banyak perempuan yang gue tiduri." Tian sadar, ia bukan merupakan manusia yang taat. Dia berteman dengan zina setiap saat.


"Allah maha pengampun, Dia maha pemaaf, Tian. Kembalilah, Allah pasti sedang rindu."

__ADS_1


"Uncle, Tante Ressa pulang gak pamit sama Erra." Erra kecil datang dengan wajah cemberut langsung melompat ke pangkuan Tian.


"Tante sibuk, jadi pulang mendadak." Jawab Tian tersenyum.


"Berhasil?" Tanya Erra, Tian menggeleng lemah.


"Ih, Uncle gak pintar. Erra kan sudah bilang sampai tante mau nikah sama uncle." Tangis gadis itu pecah, Tian dibuat melongo. Dia tidak percaya anak sekecil Erra mengerti dengan arti kata nikah.


"Uncle udah cium tante, kalau uncle gak nikahi Tante Ressa nanti Allah marah. Itu dosa."


Erfan meringis mendengar apa yang putrinya katakan. Anak itu masih mengingat setiap wejangan yang dia berikan. Erfan mengajarkan sejak dini agar putrinya tidak salah pergaulan kelak.


"Minta maaf sama Allah, bukan sama Erra." Marah gadis kecil itu, Tian mengulum senyum. "Siap tuan puteri, nanti Uncle minta maaf sama Allah." Ia menurut saja dengan keinginan anak itu, agar drama tidak semakin panjang.


Tian kembali ke kantor setelah semua rencananya gagal. Semoga Ressa tidak benar-benar pergi seperti yang Erfan bilang.

__ADS_1


"Gimana meeting lancar?"


"Selalu lancar kalau ada gue!" Ujar Denis penuh penekanan, menatap Tian kesal.


"Sorry, gue tadi harus pergi karena urusan masa depan." Ucap Tian penuh penyesalan.


"Kapan gak urusan masa depan, masalah kecebong yang kebelet keluar juga lo anggap urusan masa depan."


"Apa sekarang lo sedang memarahi atasan sendiri." Tian menghempaskan tubuh di sofa, "gak ada simpatiknya sedikit lo sama gue. Lagi galau nih."


"Gue males ngurusin masalah percintaan lo, bos gak ada akhlak. Mengabaikan meeting demi perempuan."


"Kalo bosan jadi asisten gue, tulis sendiri mau pesangon berapa." Tian melemparkan cek kosong ke hadapan Denis.


"Gue pengen kafanin lo sekalian." Denis bangkit melempari Tian dengan bantal sofa. Tian diam saja tak membalas, matanya hanya menerawang ke langit-langit.

__ADS_1


"Kenapa Ressa, banyak perempuan lain?" Tanya Denis, sadar sahabatnya benar-benar sedang dilanda galau.


"Apa cinta butuh alasan ingin berlabuh dimana. Sedang hati yang memilih, dia nyaman pada siapa." Jawab Tian melankolis, Denis menggaruk tengkuknya yang merinding.


__ADS_2