
"Makan siang dulu," Aruna membawakan dua mangkok bubur. Erra sudah berada dalam pangkuan Tian kembali.
"Mommy," panggil Dea.
"Mommy-mu di sini Honey," Denis keluar menjemput gadis yang baru beranjak remaja itu.
Erfan dan Hira saling pandang melihat interaksi Denis yang begitu dekat dengan Deandra.
Dea menatap tajam anak kecil yang berani-beraninya duduk di pangkuan sang daddy. Membuat Erra membalas dengan pelototan tajam juga.
"Honey, matanya dikondisikan. Nanti bola matanya keluar." Denis mengusap wajah Dea sambil terkekeh kecil.
"Turun dari pangkuan Daddy!" Perintah Dea, gadis itu baru menunjukkan sikap arogannya, yang belum pernah Tian lihat. Selama ini yang ia lihat gadis kecil yang begitu cerdas dan menggemaskan.
"No, ini Uncle ku!" Balas Erra dengan teriakan lantang. Semakin mengeratkan pelukan dan menjulurkan lidah pada Dea.
"Turun!" Berang Dea menarik tangan Erra, yang segera di tahan Denis. Bisa-bisa tangan anak kecil itu patah kalau ditarik Dea.
"Honey," Denis membawa Dea dalam gendongannya. Menggendongnya seperti bayi koala, sambil mengelus di punggung. "Erra cuma anak kecil, Sayang. Marah boleh, tapi jangan pakai kekerasan."
__ADS_1
"Cukup Tante Ressa yang mengambil Daddy, aku gak mau anak kecil itu mengambil Daddy-ku."
Selama ini dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sekali bertemu, ayahnya malah lebih memilih sang tante daripada ibunya. Sekarang, malah ada anak kecil yang sangat manja pada ayahnya. Dia tidak akan tinggal diam.
"Gak ada yang mengambil Daddy-mu, Honey. Enakan di gendong Om kan daripada di pangku Daddy." Denis tersenyum, masih terus membujuk Dea.
"Erra sama Daddy Sayang," Erfan mengulurkan tangannya pada sang putri.
"No Daddy, Erra mau sama Uncle Tian!" Tolaknya dengan wajah cemberut.
"Lihatkan Mas, sikap ngeselin yang kamu turunkan padanya." Sindir Hira, Erfan membulatkan mata, mencubit gemas pipi Hira.
"Lihat Daddy-mu Sayang, seperti kucing persia kalau sudah dipelototin Mommy-mu." Ledek Tian tertawa geli.
"Sadar diri Tian, pawangmu ada di samping!" Cetus Hira masih membela suaminya.
"Ulu-ulu istri pintarku," Erfan langsung merangkul Hira dengan mesra, "jadi pengen nitip Erra di sini buat ngajak kamu honeymoon."
"Jangan macam-macam Erfan, kau ingin menyiksaku!" Seru Tian, menghadapi Dea dan Ressa saja dia kewalahan. Apalagi kalau ditambah Erra.
__ADS_1
"Erra mau tinggal sama Uncle Tian, Sayang?" Tanya Erfan tanpa mempedulikan tatapan tidak bersahabat Tian.
"Boleh?" Tanya Erra semangat.
"No!" Teriak Dea dan Tian bersamaan. Orang dewasa yang ada di sana tertawa gelak melihat tingkah ayah dan anak itu.
"Kalau kalian terus berdebat tidak akan ada yang memakan bubur buatanku," sela Aruna.
"Bangun dulu Honey, Tante Ressa harus makan biar cepat sembuh." Tian menurunkan Erra dari pangkuannya, membantu Ressa untuk bangun.
"Aku bisa sendiri, Tian. Kamu yang masih sakit."
"Aku akan sembuh kalau kamu sembuh," ucap Tian asal. Bagaimana bisa langsung sembuh, obat saja belum ditebus.
"Keras kepala!" Gerutu Ressa.
"Tidak sadarkah kalau dia yang kepala batu," gumam Tian dalam hati. Mana berani dia mengucapkan kalimat seperti itu di depan Ressa sekarang.
"Jangan banyak ngedumel, nanti lama pulihnya." Tian mengambil semangkok bubur di atas nakas lalu menyuapi Ressa. Dea menatap tidak suka pada Ressa yang terlalu dimanjakan sang Daddy. Ressa bisa menangkap semua itu.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri, Tian." Ressa mengambil mangkok di tangan suaminya, "makan buat kamu sendiri aja." Katanya sambil mengedipkan mata sebagai kode kalau Dea sedang menatap mereka. Cemburunya anak kecil kadang lebih possesif dari orang dewasa.