Aksara Cinta

Aksara Cinta
176. Berarti


__ADS_3

Tian membawa Ressa ke kantor karena ada meeting mendadak. Padahal dia masih belum mau mengakhiri sesi bermanja-manja dengan istrinya ini. Sambil berjalan menuju ruangannya lelaki itu sibuk menjawab telepon, dengan tangan kiri masih menggandeng sang istri.


“Coba lihat, pasti luka itu dibuat oleh istri sah Pak Bos deh. Tau rasa kan, dasar perempuan murahan!!”


Terdengar suara-suara berisik saat mereka melewati antrian lift. Ressa bersikap seolah tidak mendengar apapun. Tian mematikan sambungan telepon, lalu berbalik mendatangi beberapa orang yang sedang mengantri di depan lift itu.


“Denis, ke depan lift lantai lima sekarang!!” panggilnya melalui telepon.


Ressa meringis, pasti akan terjadi sesuatu setelah ini. Tapi dia masih belum bergerak dari tempatnya berdiri, enggan mendekati Tian.


“Kalian terlalu berani menghina istriku!!” seru Tian datar tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Tapi makna kalimat itu mengisyaratkan kalau dia sedang marah.


“Mereka berbuat salah apa?” tanya Denis yang sangat paham kalau Tian sedang marah. Lima orang perempuan itu berdiri ketakutan. Tidak ada yang berani masuk lift.

__ADS_1


“Mereka sudah bosan bekerja di perusahaan ini, berikan mereka pesangon!!” titahnya.


Denis menatap Ressa yang menggeleng pelan mengisyaratkan agar tidak menuruti kemauan Tian.


“Nanti kita bicara lagi, bawa Ressa ke ruangan sekarang.” Ujar Denis, mana bisa memecat orang tanpa alasan yang jelas. Tian ada-ada saja.


“Ayo Sayang,” Tian mendekati Ressa. Merangkulnya di pinggang setelah mengecup samping kepala istrinya. Tidak mempedulikan orang-orang yang ada di sana lagi.


“Zeni, pasti kamu yang membuat ulah lagi!! Setelah ini ke ruanganku!!” Perintah Denis kemudian pergi, tidak mungkin memarahi karyawan di tempat terbuka. Ia sudah pernah memberikan peringatan pada perempuan itu agar tidak banyak bicara.


“Kamu mau meetingkan, kenapa masih santai-santai di sini?” Ressa tidak ingin memperpanjang masalah itu dan membuat Tian semakin terpancing emosi.


“Aku masih mau di sini sama kamu, masih ada waktu lima belas menit lagi, Honey.” Sebut Tian manja, dia benci ada yang menyakti kesayangannya ini. Padahal dia yang lebih sering menyakiti perasaan Ressa.

__ADS_1


“Hm, enak ya jadi bos bisa sesuka hati. Mau datang jam berapa, mau pulang jam berapa, mau mecat siapa!” sindir Ressa. Tian mengerti arah pembicaraan istrinya itu kemana.


“Sayang, aku bekerja tidak punya batasan waktu dan tempat. Di rumah pun aku juga bekerja kan, cuma fisiknya aja yang gak ada di kantor.” Jelas Tian, yang tentu saja bukan jawaban itu yang ingin istrinya itu dengar.


“Aku gak suka kamu yang selalu bertindak sesuka hati!!” Ungkap Ressa.


“Honey,” Tian menangkup kepala Ressa agar menatapnya. “Aku juga gak suka ada orang yang membicarakan buruk tentangmu. Sudah cukup aku yang terlalu sering menyakitimu, aku gak mau ada orang lain yang menyakitimu lagi.”


Ressa menggeleng pelan dengan pemikiran pendek suaminya itu, “bukan orang lain yang menyakiti kita itu Sayang. Tapi perasaan kita sendiri yang tidak dapat memfilter mana yang pantas untuk dicerna dengan baik dan mana yang tidak. Sama seperti makanan, kalau kita sakit perut karena kebanyakan makan yang pedas, itu salah siapa? Salah yang makan kan, udah tau makannya tidak sehat masih saja mau dimakan. Nah, kalau kita sakit hati karena ucapan pedas orang lain itu salah siapa? Salah sendiri karena terpengaruh perkataan orang lain.”


“Sayang,” Tian membawa Ressa salam pelukan. “Kamu bisa ya berpikir positif saat disakiti orang lain, tapi kenapa menangis saat aku yang menyakitimu.”


“Karena cuma kamu yang berarti buat aku, mereka mau bicara apa aku gak peduli. Asal bukan kamu yang mengatakannya.”

__ADS_1


Tian semakin mengeratkan pelukan mendengar ucapan istrinya itu. Dia yang paling diharapkan untuk membuat Ressa bahagia, malah dia yang sangat sering menyakiti hati kesayangannya ini.


__ADS_2