Aksara Cinta

Aksara Cinta
22. Peringatan Terakhir


__ADS_3

"Siapa Sayang?" Tanya Erfan pada istrinya.


"Ressa, tapi gak jadi mampir." Jawab Hira sambil melirik Tian. Ia yakin ada sesuatu pada dua orang itu.


Tian menghela napas panjang, Ressa pasti menghindarinya. "Dia tau ada gue di sini?"


"Iya, kalian ada masalah?" Selidik Hira.


"Sedikit," jawab Tian tenang.


"Sedikit?" Erfan menautkan alisnya, "Sayang, bawa Erra ke kamar."


"Erra, ayo Mommy bacain cerita di kamar."  Gadis kecil itu menurut, tanpa mengerti masalah orang dewasa.


"Kiss me, Honey." Tian menyodorkan pipi yang disambut Erra dengan gembira, "have a nice dream." Ucapnya mengecup puncak kepala Erra.


"Lo gak macam-macam sama Ressa kan di sana? Gue biarin lo ambil alih perusahaan itu, biar lo bisa belajar cara menghargai perempuan."


"Dia yang nyerahin diri ke gue. Gue udah nolak." Tian menyeringai, Erfan memejamkan mata menarik napas panjang.

__ADS_1


"Dan lo bangga bisa naklukin dia, gue gak ngerti jalan pikiran lo gimana. Lo mainin perempuan sesuka hati, otak lo itu letaknya dimana!"


"Dia yang nolak diajak nikah, gue bisa apa?" Tian mengendikkan bahu acuh, malas memikirkan masalah perempuan yang cuma bikin ribet.


"Semudah itu lo perawanin anak orang dan tidak punya rasa bersalah sama sekali. Suatu saat nanti kalau lo punya anak perempuan baru lo akan ngerti betapa berharganya kehormatan perempuan." Tekan Erfan geram, sia-sia saja menasehati Tian hanya membuang waktu dan energi.


"Terus sekarang gue harus apa?"


"Berhenti mainin perempuan, yakinkan Ressa buat nikah sama lo. Atau lo akan menyesal nanti!"


"Gue sudah jarang main, cuma sama Audrey." Tian masih tetap tenang, walau sahabatnya sudah menggebu-gebu seperti ingin menghajarnya.


Huhh! Tian mendesah berat, bagaimana caranya agar Audrey tidak mencarinya lagi.


"Gue bisa biayain hidup keluarga Ressa. Saat itu gue lakuin, lo gak akan bisa melihatnya walau sedetikpun lagi." Ucap Erfan dingin, "ini bukan ancaman. Tapi peringatan terakhir!"


"Jangan macam-macam, Erfan. Lo gak ada hak jauhin gue dari Ressa. Lo bukan orang tuanya!"


"Lo pikir gue akan diam saat lo mainin Ressa, hah! Dia itu sahabat Hira, lo sakitin Ressa sama aja nyakitin Hira. Lo pikirin baik-baik ucapan gue! Dalam waktu satu minggu lo gak bisa berhenti main sama Audrey, gue ambil alih Ressa."

__ADS_1


Tian membulatkan mata, "satu minggu? Orang tobat aja perlu proses sedikit demi sedikit. Lo nyiksa gue banget!"


"Terserah, gue malas ngurusin lo yang selalu punya masalah sama perempuan!"


"Iya-iya, gue berhenti. Awas lo bikin gue gak bisa ketemu Ressa lagi."


"Buktikan!" Erfan mengendikkan bahu tak peduli.


"Lo lebih sadis dari bokapnya." Gerutu Tian, tidak terima dengan semua ancaman Erfan.


"Gue udah nasehatin lo berkali-kali tapi gak mempan. Mungkin waktu tiga tahun ini masih kurang buat lo belajar." Erfan tersenyum miring pada Tian.


"Kejam. Lo kan tau, gue gak suka ribet sama urusan perempuan."


"Emang, lo gak suka ribetnya. Cuma suka enaknya doang!" Sarkas Erfan. Rasanya ingin dia lenyapkan saja sahabatnya ini dari peredaran.


"Gue gak pernah maksa, mereka yang nyerahin diri. Kenapa jadi gue sih yang salah."


"Lo itu udah salah tapi gak nyadar diri." Erfan menendang tulang kering Tian karena jengkel.

__ADS_1


"Sakit, brengs*k!" Umpat Tian. Si empunya tak peduli.


__ADS_2