Aksara Cinta

Aksara Cinta
219. Bonchap 2


__ADS_3

"Cilukba," Tian menutup kedua mata dengan telapak tangan lalu membukanya. Membuat bayi yang baru bisa mengoceh itu tertawa. Tian ikut tertawa melihat putranya tertawa.


"Mas, siap-siap ke kantor dulu. Gak akan ada habisnya mengajak Rain bermain." Ressa sudah menyiapkan pakaian sang suami, tapi suaminya itu masih menggunakan boxer seperti satu jam yang lalu.


"Kamu ikut ke kantor Honey, aku lagi pengen dekat-dekat Rain." Ucap Tian manja, masih belum merubah posisinya.


"Iya, tapi kamu siap-siap dulu Sayang."


"Pakaikan," Tian berdiri mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat agar sang istri memakaikannya kemeja.


"Aku bisa kewalahan kalau punya bayi sebesar ini," Ressa berdecak. Tapi tangannya bergerak memasangkan kemeja maron ke badan sang suami.


"Aku gak minta kamu gendong juga Sayang," Tian tersenyum geli mengecup basah pipi Ressa yang sedang memasangkan kancing kemejanya. Satu kancing yang terpasang ia hadiahi satu kecupan.


"Satu kali lagi kamu bisa membuat pipiku banjir air liurmu Mas," kesal Ressa. Melap pipinya dengan tangan kemeja Tian.


"Apa di sana juga banjir Sayang, kalau aku mengecupnya begini." Tian mengulangi satu kali kecupan basah yang membuat Ressa menjerit. Karena sang suami menggigitnya.


"Mas sakiiit," rengek Ressa.


"Aku punya obatnya biar berhenti sakit Sayang," Tian tersenyum jahil. Dia ingin menyerang istrinya ini sekarang, tapi mengingat ada meeting pagi ini, jadi terpaksa menundanya sampai malam tiba.

__ADS_1


"Gak perlu, sakit di pipiku bisa hilang sendiri Mas. Sekarang kamu siap-siap sendiri," ucap Ressa ketus. Beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


"Siap sayangkuh," jawab Tian dengan kekehan. Ia segera memasang celana dan jas sebelum sang istri mengeluarkan kekuatan macan.


Sungguh hari-harinya sekarang dilengkapi banyak warna dengan adanya Ressa, Deandra dan kehadiran Rain, sang putra.


*


Usai meeting Tian kembali ke ruangannya. Dia benar-benar membawa anak dan istrinya ke kantor karena tidak kuat menahan rindu.


"Sayang," Tian membuka pintu kamarnya. Sang istri tertidur, sedang putranya terus mengoceh dengan memainkan tangan dan kaki yang terus menendang.


"Astaga, untung Rain belum bisa berguling." Gumam Tian pelan, istrinya itu kelelahan. Selain begadang menemani Rain yang tidak mau tidur. Ressa juga begadang memanjakannya.


Mana tahan Tian dengan godaan yang ada di depannya. Ia tidak bisa membiarkan istrinya diam begitu saja tanpa bekerja keras memanjakannya.


"Maass," lenguh Ressa saat tangan Tian sudah mulai kelayapan.


"Iya Sayang, enak hm." Goda Tian sensual menggigit pelan di daun telinga Ressa.


Istri Tian itu mengangguk tanpa sadar karena matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Maass!!" Pekik Ressa saat matanya terbuka sempurna. Sang suami hanya menyengir lebar.


"Aku ngantuk, kamu nakal banget Mas. Siang pun masih gangguin aku."


"Maaf Sayang. Kita selesaikan sebentar ya," pinta Tian.


"Aku capek Mas," Ressa menjadikan dada Tian sebagai bantal.


"Capeknya sebentar, enaknya lama Sayang." Ujar Tian terus merayu sang istri tapi tidak mempan.


"Kerja Mas, kenapa bajunya di lepas lagi. Aku capek-capek masangkannya pagi tadi." Celoteh Ressa mengalihkan pembicaran.


"Suka main kucing-kucingan ya!" Geram Tian mencubit hidung Ressa gemas.


"Ambil bajunya aku pasangkan lagi," perintah Ressa dengan wajah kecut.


"Aku gak minta dipasangkan Sayang, cuma minta kamu manjain ini." Goda Tian genit melirik ke arah bawah.


Ressa memutar bola mata jengah, meremas benda yang ada di bawah sana karena kesal.


"Aaaauuwww, lagi Sayang." Pekik Tian ngawur yang membuat Ressa memukul benda itu dengan kasar.

__ADS_1


"Ini beneran sakit Sayang," rintih Tian. Istrinya ini seperti preman saja, main pukul di area terlarang. Ia berhenti menggoda Ressa dari pada kena siksa lagi.


__ADS_2