Aksara Cinta

Aksara Cinta
173. Rumah Dedek


__ADS_3

Selama satu minggu Ressa dan Tian menginap di rumah sang ibu, malam ini mereka sudah kembali ke rumah. Sedang Aruna memutuskan untuk tinggal di sana, menemani ibunya yang sendirian. Kedua adiknya juga sudah pulang ke kampung.


“Masih suka melamun aja?” Tegur Tian lembut pada Ressa yang duduk di depan cermin rias. Ia tergerak untuk menyisirkan rambut istrinya yang agak bergelombang itu.


"Masih berasa ada Ayah di sini, Mas." Ucap Ressa dengan suara lirih. Tian memutar kursi yang di duduki sang istri, lalu berjongkok di depannya.


"Barusan panggil apa tadi, Honey?" Tanya Tian takjub, seperti mendapat predikat tujuh keajaiban dunia.


"Mas," ulang Ressa. Dulu sang ayah yang ingin dia memanggil Tian dengan sebutan yang sopan. Tapi ia tak acuh karena merasa sungkan merubah panggilannya.


Tian tersenyum, "gak mau manggil My Tian lagi, hm." Godanya, ia tau semua ini pasti karena teringat mendiang ayah mertuanya. Dia tidak ingin Ressa merasa kecil hati karena Aruna memanggilnya seperti itu.


Lelaki itu menggenggam tangan Ressa lalu mengecupnya di punggung tangan.


"Panggil aku senyaman kamu, Sayang. Jangan pedulikan orang lain, aku gak mau kamu jadi orang lain. Aku anggap Tian itu panggilan sayang kamu ke aku," Tian tersenyum manis mengusap punggung tangan Ressa dengan jempolnya.


"Terimakasih sudah menjadi orang yang paling mengerti aku sekarang," Ressa mengecup kening Tian lama.

__ADS_1


"Aku sudah berjanji pada ayah untuk membahagiakanmu, Sayang."


Tian membawa Ressa berdiri, menuntun tangan dalam gengamannya itu agar melingkar di leher. Sedang kedua tangannya melingkar di pinggang sang istri. Lelaki itu membimbing kaki Ressa agar naik ke atas kakinya. Kemudian ia membawa Ressa berdansa tanpa alunan musik.


"Aku gak rela melihat air matamu ini selalu terjatuh," ucapnya mencium kedua kelopak mata Ressa secara bergantian.


"Tapi air mata yang terjatuh karena memohon ampun pada Allah itu berbuah surga kan? Aku tidak hanya ingin bersamamu di dunia ini Sayang," lanjutnya.


Selama satu minggu ini ia sering bertemu dengan ustadz yang memberikan pengajian di rumah sang mertua. Akhirnya ada juga kalimat yang menempel di otak rusaknya ini. Ditambah kepergian ayah mertuanya yang begitu mendadak membuatnya takut jika Tuhan mengirimkan malaikat untuk mencabut nyawanya sekarang juga.


"Dosaku ini tidak terhitung lagi, aku takut Allah menjemput disaat aku belum mempersiapkan apapun." Tian terus berbicara sambil menggerakkan kakinya, sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman manis.


Dia takut mendengar kalimat seperti itu, seperti yang diucapkan ayahnya sebelum pergi.


"Aku juga gak mau ninggalin kamu Sayang. Hanya ingin belajar menjadi orang baik. Agar disaat Allah memanggilku nanti, aku bisa mempertanggung jawabkan semuanya."


"Aku takut kamu bicara seperti itu," Ressa menempelkan tubuhnya pada sang suami.

__ADS_1


Tian berhenti menggerakkan kaki saat Ressa memeluknya. "Aku masih di sini Sayang."


"Kamu juga bicara seperti itu beberapa waktu sebelum ayah pergi. Jangan katakan apapun lagi," ucap Ressa dengan suara rendah.


"Maaf," Tian memberikan usapan hangat di punggung Ressa.


"Sayang, ngerasa sesuatu gak?" Tanya Tian jahil, mengalihkan perhatian Ressa, ia tidak ingin istrinya ini terlalu banyak berpikir dan cemas dengan hal yang belum tentu terjadi berulang.


Tian sengaja membuat tubuh istrinya itu semakin menempel padanya.


"Apa?" Tanya Ressa masih dalam mode serius.


"Inih, ada yang mau dimanja. Lama gak jengukin rumah dedek," sahut Tian dengan tawa kecil menuntun tangan Ressa dengan nakal.


Istri Tian itu mendengus, saat otaknya sudah sampai berpikir. "Rumahnya lagi dikunci!" Desis Ressa, melepaskan pelukan Tian lalu kabur.


"Sayaaang!!!" Tian menangkap istrinya yang ingin melarikan diri. "Mau kemana, hm?" Katanya menoel hidung Ressa sambil menaik turunkan alis.

__ADS_1


"Mau bobo," sahut Ressa dengan cengiran kecil. Ingin tertawa lebar tidak bisa, pipinya masih terasa seperti tertarik luka.


"Hayook bobo bareng," Tian membaringkan tubuh Ressa sambil tersenyum devil.


__ADS_2