Aksara Cinta

Aksara Cinta
124. Jeri Andreas Alden


__ADS_3

"Denis kau sudah mendapatkan informasi siapa yang membawa Audrey ke rumah sakit?" Tanya Tian pelan tanpa meninggalkan kamar. Istrinya bisa saja menyadari kalau dia turun dari tempat tidur ini.


"Kita bicarakan besok di kantor, Tian." Jawab Denis yang sedang sibuk memanjakan Aruna. Tangannya masih bergerak dengan lincah, headset bluetooth itu sangat berguna untuknya saat ini.


"Tidak, aku mau tau sekarang siapa orangnya." Tegas Tian tidak sabaran, ada satu nama yang dicurigai otaknya.


"Aaaaaaa, Deniiiiss." Teriak Aruna meledak dalam kenikmatan yang Denis ciptakan.


"Sial, kau sedang apa Denis?" Tanya Tian dengan suara meninggi.


"Aku sedang menghibur calon istriku, kau menggangguku Tian. Besok saja kita bicarakan." Denis tersenyum melihat wajah Aruna yang memohon meminta dimasukinya. Tapi dia tidak akan memberikan itu sekarang.


"Ada Dea di sana brengsek, kau main serang sebelum waktunya!!"


"Dea sudah tidur, tenanglah. Kamar ini sudah aku setting kedap suara. Aku lanjutkan dulu, sebelum wanitaku ini mengamuk." Denis mematikan sambungan telepon sepihak.


"Sialan, beraninya dia mematikan teleponku lebih dulu." Ujar Tian mengumpat dengan suara kecil.

__ADS_1


"Habis menelpon siapa, Sayang?" Tanya Ressa dengan mata terpejam. Tian menoleh, mata istrinya itu tertutup tapi mulutnya bersuara.


"Denis, Honey." Jawab Tian seraya meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Lalu?" Ressa menunggu jawaban yang lebih panjang.


"Ah, dia nakal sekali. Sedang menyerang Aru, di sana ada Dea." Lanjut Tian.


"Kalian memang sama, sama-sama maniak masalah ranjang." Gerutu Ressa dengan mata yang masih terpejam. Tanpa berniat membukanya.


Tian membelalakkan mata, dia curhat salah tempat. Untung bukan masalah lain yang Ressa sebutkan.


***


"Jadi siapa orang itu, Denis?" Tanya Tian setibanya di kantor. Ia sengaja tidak membawa Ressa, agar istrinya itu tidak menguping.


"Jeri, ayah dari anak yang dikandung Audrey itu juga Jeri." Jelas Denis.

__ADS_1


"Sudah ku duga, kemaren dia bertemu Ressa secara tidak sengaja dan langsung memberikan kartu namanya. Aku bisa memastikan, sekarang dia sedang susah payah mencari informasi tentang Ressa." Ujar Tian dengan napas yang memburu.


"Jeri Andreas Alden, dia sangat terobsesi dengan apapun yang aku miliki. Aku tidak ingin dia menyentuh Ressaku sedikitpun, Denis."


"Lo bahkan tau apa yang harus lo lakukan, Ardiya Tiandra Alden." Denis duduk di sofa dengan menyilangkan kaki. Tidak ada pembeda antara bos dan asisten baginya.


"Sialan jangan panggil aku dengan nama itu, Denis!" Berang Tian.


"Ada yang salah dengan nama belakang Alden, Tuan." Denis tersenyum miring menyindir bosnya itu.


"Aku sudah melupakannya Denis. Aku sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Alden sejak aku berusia delapan belas tahun. Yang masih menjadi keluargaku hanya mendiang kakek." Entah berapa kali sudah Tian mengatakan kalimat seperti ini setiap ada yang menyinggung tentang keluarga Alden padanya.


"Tidak perlu dijelaskan lagi Tian. Aku tau, bahkan aku tau sampai ke akar-akarnya." Denis berdiri mendekati Tian, menepuknya di bahu sambil mengamati jendela.


"Semua masih belum selesai Tian, kamu masih terikat dengan keluarga Alden. Karena semua harta yang keluarga Alden itu miliki atas namamu."


"Persetan dengan harta-harta itu, Denis. Aku tidak menginginkannya sepeserpun!"

__ADS_1


"Tapi mereka menginginkannya, mereka tidak bisa melakukan apapun selama semua harta itu masih atas namamu. Itulah kenapa mereka masih ingin mengusik hidupmu. Mereka hanya menumpang pada anda Tuan Ardiya Tiandra Alden."


Denis tertawa gelak melihat wajah kecut Tian yang tidak suka nama panjangnya di sebut.


__ADS_2