
"Honey, mau ya?" Tian meringsek dalam pelukan Ressa tidak mempedulikan ada Erfan dan Hira di sana. Sungguh urat malunya sudah putus
"Aku gak niat berbagi suami, Tian! Aku tidak sedang main sinetron, tidak niat dengan ajakanmu." Desis Ressa kesal.
"Demi Dea, demi anak kita, demi aku aku Honey. Please, aku gak kuat jauh dari kalian." Mohon Tian dengan memelas.
"Itu bukan urusanku, masalah kita sudah selesai kamu yang memilih Aru dan menceraikanku. Jangan meminta aku yang berkorban demi kebahagiaan kalian." Ressa tegas, dia tidak ingin ada produser sinetron yang meliriknya nanti. Malu mencadikannya pemain sinetron dadakan karena cocok berakting menjadi istri yang rela berbagi suami.
"Aku memilih Aru demi Dea, Ressa." Bela Tian lemas.
Ressa tersenyum getir sekarang saja dia harus mengalah demi Dea. Apalagi anaknya nanti pasti akan selalu tersingkitkan oleh anak Aruna itu.
"Aku gak bisa, Tian. Titik, gak pake koma! Erfan yang memanggilmu ke sini. Jadi silahkan kalian bicara." Ujarnya beranjak pergi, menyingkirkan Tian yang bergelayut manja di tangannya.
Pasangan suami istri yang menjadi saksi keduanya itu ikut pusing. "Dewasa Tian, dewasa. Beberapa minggu ini lo bisa tanpa Ressa." Erfan tidak bisa membantu membujuk Ressa lagi, perempuan itu sudah teguh pada pendiriannya.
"Sekarang sudah gak bisa lagi Erfan, jauh dari Ressa nyiksa banget. Bantu gue mikir."
"Mikir apalagi, sudah mentok, jalan buntu. Pilihannya cuma nikah sama Aru atau rujuk sama Ressa. Gak bisa dua-duanya." Ujar Erfan yang ikut memijat kepala.
__ADS_1
"Sayang pusing," rengek Erfan manja pada Hira. Istrinya itu menepuk paha mengisyaratkan agar Erfan berbaring di pangkuannya. Lalu perempuan itu memijat kepala Erfan dengan lembut.
Melihat suami istri yang sengaja bermesraan di depannya itu membuat Tian tambah kesal. "Shiit!! Oke. Gue nikah sama Aru hari ini juga!"
Tian langsung menelpon Denis agar menyiapkan acara pernikahannya.
"Bawa Ressa ke pernikahan gue, itu syarat yang Aru inginkan." Ucap Tian setelah memberikan perintah pada asistennya.
"Aku gak izinin Ressa datang ke sana," tolak Hira. Gila apa, sengaja ingin membuat sahabatnya menderita karena menyaksikan ayah anaknya menikah lagi dengan kakak tirinya. Sungguh sangat dramatis.
"Kalian mau lihat gue nikah kan? Kalau gak gitu ya gak bisa nikah." Tian semakin kesal, tidak taukah mereka, hati dan kepalanya ini sedang berasap.
Baiklah jika ini yang Ressa mau, dia akan menikahi Aruna. Hah, kenapa Tian jadi seemosi ini diabaikan mantan istrinya itu.
*
Ressa menyetujui datang ke pernikahan Aruna dan mantan suaminya malam ini. Ia mengenakan gamis dan pashmina yang dibelikan Hira tadi siang.
"Kuat ya Sayang, jangan marah kalau lihat papa nikah sama Tante Aru." Ressa mengelus perutnya, dia sudah siap tinggal berangkat. Erfan dan Hira sudah menunggunya di bawah.
__ADS_1
Ressa datang dengan wajah yang terus menyunggingkan senyuman ke pernikahan yang di gelar terbuka di sebuah hotel mewah. Walau persiapannya sangat singkat, tapi acara itu cukup meriah. Ibu terlihat sangat bahagia, kedua adiknya juga hadir di sana.
"Ressa, kamu datang, Nak." Sapa Amrin mendekati putrinya dan memeluk sangat erat. "Kamu kuat ya, Sayang. Apa mau tinggal sama ayah setelah ini."
"Ressa bisa sendiri Ayah, jangan khawatirkan apapun. Lihat putri sulung ayah sedang berbahagia di sana." Ia menunjuk ke arah depan dimana Tian dan Aruna sudah bersanding di sana akan melakukan ijab kabul.
"Kenapa Tian menyakitimu seperti ini, Sayang?"
Ressa menggeleng lemah, "bukan salah Tian, Ayah. Sudah, Ayah di tunggu di sana. Aku duduk di sini aja." Katanya sambil terus tersenyum. Ia sengaja duduk agak di belakang, memisahkan diri dari Erfan dan Hira yang mendampingi Tian.
"Kalau perlu apa-apa cari aku," ucap Denis yang sudah duduk di samping Ressa.
"Apa aku terlihat seperti butuh sesuatu?" Tanya Ressa dengan tertawa kecil.
"Ya, kamu hanya butuh tempat yang tenang untuk bisa mengungkapkan segala sesak yang sedang menghimpit dadamu." Ujar Denis to the point yang membuat Ressa semakin tersenyum.
"Sesak itu biasa bagiku, Denis. Seperti ikan yang terbiasa bernapas dalam air." Jawab Ressa tenang.
Denis benar-benar takjub dengan ketenangan yang dimiliki Ressa. "Kalau perlu tempat untuk bersandar ada bahuku."
__ADS_1
"Fungsinya masih samakan dengan sandaran sofa, lebih empuk sofa lagi. Jadi aku tidak membutuhkan itu." Ressa menatap ke depan, matanya bertabrakan dengan Tian. Ia mengangguk kecil dengan tersenyum manis pada mantan suaminya yang telihat lebih tampan menggunakan pakaian serba putih. Jangan kalian pikir itu kuntilanak 😀.