
Keesokan harinya Tian meminta Audrey datang ke kantornya pagi-pagi. Dia harus menuntaskan firasat yang membuatnya kepikiran. Denis sudah menyelidiki peremouan itu, hanya dia satu-satunya teman tidur Audrey.
"Sudah sarapan?" Tanya Tian lebih lembut tidak seperti kemaren yang bersikap dingin.
"Sudah," Audrey duduk di sofa. Akhir-akhir ini dia merasa lebih cepat lelah.
Pasti tebakan Tian benar, dulu mana pernah Audrey sarapan. Baiklah, dia akan membiarkan hatinya berlabuh pada Audrey dan melupakan Ressa.
"Naik ke sini, capek? Walau pakai lift," goda Tian.
"Hu'uh." Audrey menganggukkan kepala.
"Sini aku kasih tau kenapa kamu jadi mudah capek." Tian menuntun Audrey ke kamar mandi, perempuan itu menatap Tian bingung. Apalagi saat Tian memberikan testpack.
"Aku pake ini?" Audrey seperti linglung menatap testpack di tangannya.
__ADS_1
"Iya, coba dulu." Kata Tian lalu keluar kamar mandi.
Audrey tidak tau pikiran aneh Tian itu datang darimana. Ia terpaksa menurut untuk membuktikan rasa penasaran lelaki itu. Setelah hampir sepuluh menit di kamar mandi Audrey membulatkan mata mengetahui garis dua di alat itu.
Ia selalu minum pil KB, kenapa bisa sampai jadi. Habislah reputasinya di dunia model kalau begini.
Perempuan itu membuka pintu kamar mandi dengan lemas, "aku hamil," lirihnya. Tian dapat menangkap Audrey tidak menginginkan bayi itu.
"Aku mau pulang!" Lanjutnya. Tidak tau sekarang dia harus bagaimana menyikapi kehamilannya ini.
"Bukankah kamu ingin menikah denganku, sekarang bisa aku wujudkan keinginanmu itu? Jangan gugurkan bayi kita Audrey." Mohon Tian, sungguh dia sangat takut Audrey membenci anaknya.
"Kalau kamu gak mau menikah denganku, biar aku yang akan merawat bayi itu. Cukup kamu jaga dia buat aku sampai melahirkan. Nanti aku urus jadwal pemotretanmu sampai waktu melahirkan tiba."
Tian menelan mentah-mentah keinginannya untuk menikahi Audrey. Dengan anaknya saja Audrey tidak suka. Perempuan itu meninggalkan ruangan Tian tanpa kalimat apapun lagi.
__ADS_1
Tian menatap testpack yang ada di tangannya. "Maafkan Daddy, Nak. Tidak bisa mendampingimu."
Inikah hukuman untuknya, tidak dapat mendekap anaknya sendiri. Dia berharap Ressa yang hamil, kenapa malah Audrey.
Audrey bukan berpikir apakah mau menerima Tian atau tidak. Dia sedang memikirkan cara untuk melenyapkan janin di dalam kandungannya.
Kalau ketahuan hamil, dia bisa-bisa dibunuh orang tuanya. Dan karirnya langsung lenyap. Audrey pergi menemui dokter kandungan yang biasa membantu teman-teman modelnya. Ia pernah datang ke sana satu kali.
Sebelum perutnya semakin membesar ia harus bertindak cepat. Kenapa dia tidak menyadari dengan kehamilan ini. Harusnya Tian tidak perlu tau, biar dia masih bisa bermain dengan lelaki itu.
Denis dapat menebak apa yang sudah terjadi dengan tampang kusut yang disuguhkan Tian. Apalagi dengan adanya tespack yang selalu dipandangi bosnya itu.
"Audrey tidak menginginkan bayi itu, Denis. Apa dia mau melahirkan anakku?" Tanya Tian sendu. Asisten Tian itu tidak tau harus menanggapi bagaimana hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku akan memberikan kompensasi sampai Audrey melahirkan dan mengawasinya untukmu." Denis berusaha menenangkan sahabatnya itu, walau tidak tau kalimatnya itu mujarab atau tidak.
__ADS_1
"Bantu aku mempertahankan anak itu." Gumam Tian, untuk bicarapun lelaki itu sudah tidak bertenaga lagi.
"Pasti," Denis menganggukkan kepala. Tian bukan hanya sahabat untuknya, mereka sudah seperti saudara. Itulah yang membuatnya tidak sungkan lagi dengan bosnya ini.