Aksara Cinta

Aksara Cinta
104. Modus


__ADS_3

"Ayah, maaf. Aku bukan bermaksud mempermainkan putri-putri Ayah. Aku sungguh-sungguh mencintai Ressa, aku juga menyayangi anakku." Tian bersimpuh di kaki Amrin.


"Sudah-sudah, ayo bangun. Jangan minta maaf seperti ini, memang putri-putri ayah saja yang nakal." Amrin membawa Tian untuk duduk di sampingnya.


Ya, benar. Putri-putri ayahlah yang nakal. Pertama, Aruna yang bersikeras ingin tidur dengannya malam itu. Kedua, Ressa yang menyerahkan diri padanya.


Sekarang, dia tinggal menikmati derita dari pernyataan perempuan selalu benar. Tetap saja dia yang salah, karena dianggap laki-laki bajingan. Tian meringis membayangkan derita hidupnya setelah ini.


"Putri Ayah memang nakal, apalagi yang ini suka main kejar-kejaran denganku." Tian mengacak rambut Ressa sambil tersenyum. Ressa memelototkan pada Tian. Amrin ikut tersenyum melihat tingkah putri kesayangannya.


"Sepertinya Ayah mengganggu kalian di sini." Ujar Amrin, paham keduanya perlu waktu untuk membicarakan semuanya.


"Ayah," rengek Ressa manja.


"Ayah bisa istirahat di kamar sebelah kalau mau menginap di sini," ujar Tian melihat istrinya yang tidak rela ditinggalkan sang ayah.


"Ayah pulang saja, kasihan Dea pasti sedang sedih sekarang. Ayah akan membujuknya, kalian jangan khawatirkan Dea." Amrin mengecup kening putrinya lalu beranjak meninggalkan kamar diantarkan Tian sampai ke teras.

__ADS_1


Tian kembali ke kamar setelah ayah mertuanya pulang. "Sayang, sakit?" Tanyanya seraya meniup-niup pipi Ressa yang memar lalu mengecupnya.


"Sakitnya di sini," Ressa meletakkan telapak tangan Tian di dadanya. Sudah lama Tian tidak melihat tingkah manja istrinya ini.


"Coba sini aku lihat, berdarah gak, biar aku obatin." Tian membuka blouse Ressa yang disambut dua squishy kesayangannya. Sungguh Tian sangat rindu bermain squishy-squishy itu, matanya berbinar-binar cerah.


"Yang berdarah bukan itu," Ressa sengaja memancing Tian. Dia akan menyiksa suami nakalnya ini.


"Terus yang berdarah di mana, Sayang?" Tanya Tian lugu, sangat bersemangat ingin memainkan squishy.


"Huh!" Tian mendengus kecewa. Ressa membenarkan kembali blousenya, jangan harap dia akan memberikan Tian kesenangan.


"Kenapa ditutup Sayang, aku kangen squishy."


"Aku rasa kamu sudah puas main squishy milik Aru tadi malam, dan itu lebih menyenangkan, bukan?" Jawab Ressa dingin, kemudian meninggalkan Tian sendirian di kamar.


"Aru lagi, Aru lagi masalahnya." Tian mendesah berat melepaskan kemejanya karena gerah dan berbaring di tempat tidur. Siap-siap puasa sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

__ADS_1


Ressa mengambil air putih, membawanya ke meja makan sambil membelai pipi kirinya yang sedikit nyeri. Nyeri yang lebih banyak ada di bagian dadanya. Ia membenamkan wajah di meja. Bisakah ia bertahan lebih lama lagi dan menyelamatkan rumah tangganya ini.


Tian tidak tenang kalau tidak membujuk istrinya itu. Terpaksa bangun lagi mencarinya ke dapur.


"Sayang," Tian membelai lembut kepala Ressa. "Istirahat di kamar yuk, aku gak ganggu kamu, janji." Tian membangunkan Ressa dari kursi menuntunnya ke kamar.


"Pake bajumu, Tian." Titah Ressa.


"Kenapa? Kamu gak mau makan roti sobeknya?" Goda Tian.


"Kamu mau pamer sama aku, hah!" Ressa membalikkan badannya kesal, melihat tanda macan tutul itu membuat hatinya sakit.


"Pamer?" Gumam Tian dalam hati, pamer apanya. Tian melirik ke arah badan kekarnya, seketika mulutnya menganga. Pantas saja Ressa marah. Dia baru sadar Aruna sangat nakal tadi malam. Habislah sudah Tian.


"Maaf, aku bersihkan sekarang." Katanya lesu, beranjak ke kamar mandi, dengan cara apa membersihkan. Tian menggosok-gosok tubuhnya berharap tanda-tanda itu bisa langsung hilang. Tapi nyatanya hanya mengabur sedikit.


Tian mendesah berat keluar dari kamar mandi, tubuhnya kedinginan. Setelah berpakaian lengkap ia meringkuk di bawah selimut.

__ADS_1


__ADS_2