Aksara Cinta

Aksara Cinta
122. Permainan


__ADS_3

"Tian!" Teriak Denis dari depan pintu. Pasangan yang masing-masing sibuk dengan berkas di tangannya itu menoleh dengan tatapan bertanya.


"Audrey masuk rumah sakit karena pendarahan, sekarang keadaannya kritis. Pihak rumah sakit memberitahu kalau yang menjamin atas nama kamu. Jadi mereka menelpon ke nomormu, karena tidak ada yang menjaga Audrey di sana juga untuk mengurus administrasinya."


Jelas Denis dengan napas terengah-engah seperti habis lomba lari maraton. Ponsel Tian memang Denis yang memegang, kecuali nomor pribadinya.


"What? Drama apalagi ini. Emang Audrey bisa terbang sendiri ke rumah sakit dan bisa-bisanya mengatasnamakan diriku sebagai penjamin. Biarkan saja dia mati kehabisan darah, aku tidak akan ke rumah sakit. Kamu selidiki siapa yang membawanya ke rumah sakit, Denis. Aku malas mengikuti permainan mereka." Ujar Tian Kesal, perempuan itu memang sengaja mencari masalah dengannya.


"Sayang, kita ke lihat rumah sakit," bujuk Ressa.


"No Honey, aku tidak ingin mengurus perempuan itu. Menyusahkan saja. Dia sendiri yang ingin mati, dua kali menggugurkan janin dalam waktu yang sangat dekat."


"Nama baikmu ada di sana, Sayang. Kalau kamu tidak datang maka kamu akan dianggap pengecut."


"Ressa benar Tian, kamu harus datang. Setelah Audrey sembuh kita selesaikan," Denis ikut menambahkan.


Tian menggeram tertahan terus mengumpat dalam hati.

__ADS_1


"Ayo Sayang, suamiku ini bukan pembunuhkan sehingga membiarkan perempuan sekarat mati secara perlahan. Sungguh tidak gentle sekali," rayu Ressa dengan senyuman maut.


Denis mengulum senyum melihat Tian yang melunak di hadapan Ressa.


*


"Honey, ini pasti jebakan." Rengek Tian sambil berjalan bersisian dengan Ressa di koridor rumah sakit.


"Tidak ada yang menjebakmu, Sayang." Ressa tersenyum menepuk-nepuk punggung tangan Tian. "Tenanglah, kalau begini kamu tidak seperti Tianku yang tengil dan menyebalkan."


"Trust me, Honey. Aku tidak makan drama, aku masih makan nasi. Nasi padang, nasi pecel contohnya." Ucap Ressa dengan senyuman yang sangat manis seraya bercanda.


"Honey," Tian menggeleng pelan, mungkin sekarang Ressa bisa tersenyum begitu manis. Dia tidak tau apa yang sudah Audrey rencanakan untuk menjebaknya.


"Suami Nyonya Audrey?" Tanya sang dokter pada Tian saat mereka mendatangi ruangan dokter.


"Bukan, saya rekan kerjanya Dok. Istri saya yang ini. Kami memang dekat, karena itu dia menjadikan saya sebagai penjamin. Lakukan tindakan yang bisa menyelamatkan teman saya itu." Potong Tian saat dokter itu ingin berkata lebih panjang.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan anda tanda tangan di sini sebagai persetujuan melakukan tindakan operasi." Ujar sang dokter yang percaya saja dnega apa yang Tian ucapkan.


"Biar saya yang tanda tangan, Dok. Saya yang sepupu Audrey." Ressa mengambil alih semua berkas itu dan menandatanginya. Dia tidak mau suaminya di goreng karena dianggap menjadi suami Audrey.


"Beres Sayang, biar aku selesaikan administrasinya. Kamu tunggu di sini." Ressa menepuk kedua bahu Tian yang sudah bisa menghela napas lega setelah keluar dari ruang dokter.


"Thanks Honey," Tian tersenyum pada sang pujaan hati.


Ressa mengangguk meninggalkan suaminya. Karena terlalu fokus berjalan sambil mencari-cari KTP ditas tidak sadar ia menabrak seorang pria yang berlawanan arah dengannya.


"Maaf Nona," pria itu mengambil KTP Ressa yang terjatuh. "Ini milik anda, nama yang indah." Ucapnya seraya mengembalikan KTP Ressa setelah mengeja nama yang ada di sana.


Perempuan dengan pashmina maron itu tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih. "Terimakasih Tuan, maaf saya tidak fokus jadi menabrak anda."


"No problem, senang melihat anda Nona." Jeri memberikan kartu namanya yang diterima Ressa dengan ragu-rau, lalu permisi dari sana.


"Dari pada mengurus Audrey lebih baik aku mengejar perempuan seperti dia." Gumam Jeri masih menatap punggung Ressa yang mulai menjauh.

__ADS_1


__ADS_2