Aksara Cinta

Aksara Cinta
165. Menyelinap


__ADS_3

Jeri menyetir sambil ugal-ugalan. Untung selamat sampai rumah sakit. Laki-laki itu menghempaskan diri di sofa tanpa berbicara sepatah katapun.


Ressa memandangnya heran, meminta penjelasan pada Tian. Suaminya itu mengendikkan bahu tidak tau.


"Kenapa? Apa kamu memergoki pacarmu berselingkuh?" Seru sang ibu tersenyum sinis.


Jeri menghela napas pelan, "Audrey sudah pergi." Jawabnya dingin, "ayo aku antar pulang. Setelah ini aku mau ke kantor."


"Hei kamu ini sedang bicara dengan ibumu, bukan dengan kulkas dua pintu. Tidak bisakah sopan sedikit!!"


"Tidak bisakah iIbu menghargai pilihanku juga!" Seru Jeri lalu melenggang pergi, dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.


"Jeri! Aku belum selesai bicara!"


Lelaki itu mengendikkan bahu tak acuh meninggalkan ruangan. Mendebat sang ibu tidak akan ada waktu kadaluarsanya.


"Ayo aku antar Bibi pulang. Istirahat dulu di rumah tenangkan pikiran," bujuk Tian merangkul sang bibi. Perempuan paruh baya itu menurut saja pada keponakannya.


"Sayang, nanti aku telpon Denis agar mengantar Aru ke sini ya untuk menemanimu."


"Tidak perlu, aku tidak apa sendirian. Tidak ada yang berani menculikku di rumah sakit yang ramai seperti ini," sahut Ressa.


"Oke, aku tinggal sebentar dulu." Pamit Tian, sang istri mengangguk kecil.

__ADS_1


Selepas semua orang pergi Audrey yang sedari tadi mengamati di sekitar ruang rawat, menyelinap masuk ke dalam. Ia juga melihat pertengkaran Jeri dan ibunya, walau tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


"Audrey," gumam Ressa. "Mau apa dia kesini, tadi Jeri bilang Audrey sudah pergi."


Perempuan itu melepas hoodienya tersenyum mendekati brankar Ressa lalu duduk di sana. Ressa jadi merinding melihat senyuman Audrey, takut perempuan itu berbuat aneh-aneh lagi.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Audrey lembut.


"Baik," jawab Ressa sedikit cemas. Bisa saja Audrey mengeluarkan pisau dari sakunya itu.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu lagi."


"Kamu memang tidak melukaiku, tapi bisa saja langsung membunuhku." Gumam Ressa suuzon. Bukan, bukan suuzon, dia hanya sedang berhati-hati. Kalau Audrey macam-macam dia bisa melawan atau paling tidak mengeluarkan jurus lari seribu.


"Aku tau, aku melihat dia bertengkar dengan ibunya. Maafkan aku sudah melukaimu," ucap Audrey tulus.


"Aku sudah memaafkanmu, maafkan juga Tian yang sudah menyakitimu. Sakit di hatimu mungkin lebih besar daripada sakit di pipiku ini."


"Aku yang salah terlalu berharap pada orang yang tidak mencintaiku," jawab Audrey.


"Jeri mencintaimu, tapi kenapa kamu ingin pergi darinya?"


Audrey menggeleng pelan, "dia hanya kasihan padaku. Kamu yang dicintainya, Ressa."

__ADS_1


"Jeri tidak mencintaiku Audrey, dia hanya terobsesi ingin menghancurkan Tian. Kalau dia tidak mencintaimu tidak mungkin dia seperti orang gila mencarimu," jelas Ressa.


"Biar dia mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. Boleh aku memelukmu," pinta Audrey.


Ressa mengangguk pelan, perempuan itu mendekat memeluk Ressa. "Jangan bilang kalau aku ke sini."


"Kenapa pipimu?" Tanya Ressa, bukan Tiankan yang melukainya.


"Ini," Audrey melepaskan pelukan, meraba pipinya yang di plester Jeri. "Kegores pintu kamar mandi," jawabnya sambil tersenyum.


"Aku pergi dulu," pamit Audrey.


"Jangan pergi, please." Tahan Ressa, "kasihani Jeri Audrey. Dia sungguh-sungguh denganmu."


"Aku tidak ingin Jeri dibenci ibunya karenaku," sahut Audrey pelan. "Cukup aku yang dibenci dan diusir ayah."


"Apa kamu tidak menginginkan Jeri?" Pancing Ressa, Audrey tidak menjawab.


"Kamu tidak mungkin melukaiku kalau tidak menginginkan Jeri kan? Kamu marah saat beranggapan aku merebut Jeri darimu. Sekarang dia memilihmu, kenapa malah ingin meninggalkannya. Bisakah kamu bersabar sedikit saja, sampai Jeri bisa mendapatkan restu ibunya."


"Aku tidak bisa Ressa, karena itu tidak mungkin terjadi." Lagi-lagi senyuman palsu yang keluar dari mulut Audrey. "Kamu sengaja menahanku di sini kan? Aku tidak bisa lebih lama lagi, harus pergi sekarang."


"Audrey!!"

__ADS_1


Baru selesai berucap, sudah ada yang menyerukan namanya. Audrey sangat hapal itu suara siapa.


__ADS_2