Aksara Cinta

Aksara Cinta
52. Suka Duka


__ADS_3

Tian sengaja tidak masuk kamar sampai Ressa tertidur. Lagi-lagi istrinya itu tidak mau makan. Huh, apa yang harus dilakukannya sekarang. Mendekat tidak bisa.


Ia mengambil pakaian lalu mandi di kamar mandi belakang. Malam ini dia tidak akan mengganggu Ressa.


Kalau menceraikan Ressa satu-satunya jalan terbaik, ia akan melakukannya. Sampai dini hari Tian tidak bisa terlelap. Ia mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.


Menjelang subuh baru Tian bisa tertidur. Dia sampai kesiangan berangkat ke kantor. Ressa tidak membangunkannya. Di rumah ia serasa hidup sendirian, istrinya itu tidak mau keluar kamar.


Calon ayah itu berangkat ke kantor dengan perasaan campur aduk dan perut lapar. Pikirannya belum tenang sebelum mendapatkan maaf dari Ressa. Melupakan pun tidak bisa. Hah, penganten baru yang masih hangat-hangatnya malah perang dunia, desisnya.


Oh Tuhan, dia tidak bisa tinggal diam begini saja. Walau harus bersimpuh di kaki Ressa pun akan ia lakukan. Setelah selesai meeting internal dan menghadiri pertemuan penting Tian pulang ke rumah. Hatinya tidak tenang sama sekali.


Huft, Tian menghela napas panjang beginikah suka duka berumah tangga. Kalau dulu dia bisa bebas tidur di mana saja, sekarang dia harus pulang ke rumah memastikan istrinya baik-baik saja.


"Sudah makan, ini aku bawain burger." Sapa Tian pada Ressa yang sedang menonton televisi. Dia berusaha mencairkan suasana, berharap es mencair dan besi melebur.


"Kenapa pulang?" Tanya Ressa sambil melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul sebelas.

__ADS_1


"Kepikiran kamu, dari tadi malam kamu belum makan." Tian tersenyum membukakan bungkusan burger, "buat anak kamu, bukan buat kamu." Ujarnya saat Ressa ingin menolak.


Perempuan itu terpaksa menyambut dan memakan satu gigitan, "anak kamu gak suka makanan gak sehat!" Sarkas Ressa lalu kembali fokus menatap layar televisi.


"Sekarang kamu mau apa biar kita sama-sama enak, gak canggung gini." Ucap Tian pelan, dalam hati ia merapal doa agar Ressa tidak minta diceraikan.


"Kamu pulang, jangan tinggal di rumahku lagi."


Tian menggigit bibir, apa bedanya dengan minta cerai. Cuma bahasa halus mengusirnya saja.


"Hm, aku tinggal di kamar samping gimana? Aku gak ganggu kamu, asal masih di rumah ini. Kita baru nikah, gak enak kalau ayah kamu tau kita sudah gak serumah." Tawar Tian, ibarat kata jadi pembantu pun dia rela asal masih bisa satu rumah sama Ressa.


"Aku akan pergi dari rumah ini tapi dengan membawa serta anakku." Lelaki itu mengulum senyum, otaknya bekerja dengan baik disaat yang tepat.


Ressa membulatkan mata, apa-apaan maksudnya membawa anaknya. Kalau anaknya dibawa otomatis dia harus ikut.


"Bagaimana?" Tian menaik turunkan alis menunggu jawaban.

__ADS_1


"Enggak, dia anakku!" Sarkas Ressa lantang.


"Dia juga anakku, benihku yang tumbuh dalam rahimmu itu, Ressa." Ujar Tian mengingatkan, dia tidak akan mengalah untuk saat ini. Sampai Ressa luluh padanya.


"Tian!" Pekik Ressa geram.


"Yes, Honey." Tian segera memeluk Ressa yang hampir mengamuk. "Kita tetap tinggal bersama, ini perintah tidak bisa dibantah." Putus Tian seraya mengecup basah pipi Ressa.


"Enggak!" Kekeuh Ressa memberontak dari pelukan Tian, tapi dia kalah kuat.


"Sstt, jangan banyak bergerak Honey. Nanti anak kita ketakutan karena ada gempa bumi," kelakar Tian sambil tertawa kecil.


"Gak lucu Tiana!" Desis Ressa.


"Aku gak sedang melawak, Sayang. Aku lagi menenangkan istriku yang sedang terbakar api cemburu." Tian menahan kepala Ressa di dada bidangnya. Sampai perempuan itu dapat merasakan detak jantungnya yang bekerja cepat.


"Jangan panggil aku Tiana, Honey. Gak keren." Protes Tian, perlahan Ressa mulai tenang dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku benci kamu!" Lirih Ressa.


"Benci aku sepuasmu, kalau itu bisa melegakan hatimu, Honey. Sungguh, aku tidak melakukan apapun dengan Audrey kemaren. Kamu bisa lihat rekaman cctv ruang kerjaku."


__ADS_2