
“Kalau lihat kamu gemesin gini, aku tuh jadinya pengen karungin kamu deh. Aku ajak honeymoon keliling dunia.” Ujar Tian gemas melihat istrinya yang tidak berhenti senyam-senyum sepulang dari rumah sakit.
Ia sengaja memperlambat laju mobilnya agar lama sampai ke kantor. Walaupun terlihat pucat tapi kondisi Ressa dan janinnya baik-baik saja. Istrinya itu hanya kelelahan.
“Aku gak ngapa-ngapain Mas, gak godain kamu juga. Aku cuma senyum masa salah?” Ressa mengerling genit.
“Tuh, katanya gak godain tapi matanya genit banget.” Tian mengusap wajah Ressa dengan tangan kirinya.
“Salahin mata aku, jangan salahin aku.” Ujar Ressa manja menangkap tangan Tian menempelkannya di pipi.
“Makasih ya Sayang sudah ngasih aku buah hati lagi. Aku gak sabar pengen gendong baby kita. Sayang banget deh sama istri aku yang nakal ini.” Katanya mencubit gemas pipi Ressa.
“Daddy yang nakal, makanya jadi ini.” Ressa menunjuk perutnya dengan menggembungkan pipi.
Tian mendelik lalu tertawa, “seriously itu karena aku yang nakal. Bukan karena aku yang gagah perkasa Sayang.”
“Iih pede banget!!” Ressa memukul kesal Tian, tapi ikut tertawa.
“Sayang, minta kiss dulu.” Ucap Tian setelah memarkirkan mobil. Ressa mengerutkan hidung menggeleng manja. Ekspresi itu semakin mengundang Tian ingin memakannya saja.
“Siapa yang boleh menolak Daddy, hm.” Tian menggigit hidung Ressa, kenapa hari ini dia sangat gemas dengan tingkah istrinya ini.
__ADS_1
“Daddy sakiitt,” rengek Ressa sangat manja mendusel-duselkan hidungnya ke pipi sang suami.
“Kamu membangunkannya Sayang, ayo kita turun. Daddy gak mau dedek keluar sebelum waktunya lagi karena Mommy kelelahan memanjakannya.” Tian mengusap kepala Ressa yang dilapisi pashima instan.
“Tapi aku mau,” katanya tidak mengijinkan Tian menjauh. Tian mengecup puncak kepala Ressa dan mengelus-elus punggungnya. “Nanti ya, Sayang.” Dia harus bisa mengendalikan diri, kondisi janin Ressa belumlah kuat. Salah-salah bisa kehilanganan calon anaknya lagi.
Setelah membujuk hampir seengah jam barulah Ressa mau turun dari mobil. Kalau menuruti hasratnya, sudah Tian bawa ke apartemen istrinya ini. Untung hari ini otaknya masih waras.
Calon ayah itu tidak melepaskan tangannya dari pinggang Ressa sampai masuk ke ruangan. Tidak ada yang berani membicarakan istrinya lagi.
“Mau menemani di sini atau istirahat di kamar Sayang?”
“Mau di kamar, tapi ditemani. Gak mau ditinggal.”
Perempuan itu cemberut, tidak mau duduk di kursi yang Tian siapkan. Malah naik ke pangkuan Tian dengan kaki melingkar di pinggang sang suami.
Tian tersenyum geli, istrinya ini sengaja ingin memancing singa yang sedang anteng. Ia tidak mengganggu kesenangan Ressa, tetap memeriksa laporan walau sebenarnya tidak fokus. Satu tangannya masih memberikan elusan lembut di punggung Ressa.
“Gak ikut meeting, lima belas menit lagi?” tanya Denis yang masuk ke ruangan Tian. Ia geleng-geleng kepala melihat Ressa yang tidak mau dilepaskan.
“Lagi rewel nih,” Tian melirik istrinya yang ternyata tertidur. Kakinya sampai keram memangku kesayangannya ini.
__ADS_1
“Mana foto keponakanku?” tagih Denis mengulurkan tangannya.
“Ambil dalam tas Ressa.”
Denis meluncur dengan semangat, “hampir tiga bulan.” Pekiknya membulatkan mata, semoga Aruna juga cepat menyusul.
“Iya, semoga Dea bisa mengerti kalau Bubanya gini. Gimana kalau dua-duanya minta dimanja, tanganku cuma dua.”
Denis tertawa geli, “berasa punya istri dua,” gumamnya asal.
Tian mengangguk membenarkan, “apa Azmi bisa dipindah dari kota ini dan perkiraan berapa lama masa tahanannya?”
“Bisa, masih diproses. Kurang lebih tujuh tahun, kemungkinanq.”
“Cuma tujuh tahun,” Tian menggeleng pelan. Mereka rugi ratusan triliun tahanan cuma tujuh tahun, kalau tidak memikirkan Dea sudah dia bunuh di tempat manusia brengsek itu.
“Aku akan membawa Aru pindah, aku terikat perjanjian dengan Papa. Janjiku setelah menikah akan mengurus perusahaan,” ujar Denis berbicara serius.
“Denis,” Tian memejamkan mata. Bagaimana dia mengurus Dea sendirian kalau tidak ada Denis yang membantu memadamkan kecemburuan putrinya itu.
“Aku akan memberikan Dea pengertian, kita lihat nanti bagaimana responnya. Atau kita tetap tinggal serumah tapi aku tidak bisa membantu perusahaanmu lagi. Aku akan bicarakan masalah tempat tinggal dengan papa dulu, agar Dea tidak berpisah dengan Mommy atau Daddy-nya.”
__ADS_1
“Bagaimana baiknya, aku tidak bisa melarangmu Denis.” Ucap Tian lesu, apalagi Ressa sedang hamil seperti ini. Perhatiannya akan sangat terbagi kalau menjaga Dea sendirian.
“Kita akan sama-sama menjaga Dea, ini hanya sementara Tian.” Denis meyakinkan sahabatnya, dia juga tidak mungkin memisahkan Aruna dari putrinya. Jauh dari Dea selama satu minggu saja istrinya itu sudah sangat kacau.