
Ressa menaiki taksi menuju rumah sahabatnya. Dia tau Tian tidak akan benar-benar melepaskannya. Suaminya itu punya seribu satu cara untuk menjeratnya kembali.
Sesampainya di kediaman Erfan, Ressa menggerek kopernya. Hira sedang di teras melepaskan suaminya berangkat kerja.
"Ressa, ada apa?" Tegur Erfan lebih dulu, sudah bisa menebak apa yang terjadi. "Sayang bawa Ressa masuk." Katanya pada sang istri, mengambil alih koper Ressa membawa masuk ke rumah memberikannya pada art untuk dibawa ke kamar tamu.
Hira menatap iba sahabatnya lalu membawanya ke ruang kerja Erfan. Agar lebih privasi, suaminya sudah menunggu di sana.
"Tian berbuat ulah apa Sa?" Tanya Erfan dengan tatapan khawatir.
"Semua rumit," lirih Ressa.
"Akan lebih rumit kalau kami menerka-nerka apa yang terjadi diantara kalian." Ujar Hira lembut membawa sahabatnya dalam pelukan.
"Tian punya anak dari perempuan lain Ra, perempuan itu Aru." Ucap Ressa sendu, tidak ada air mata yang terjatuh di sana. Walau hatinya sangat sakit tapi dia masih bisa kuat di depan orang lain.
__ADS_1
Hira membulatkan mata terkejut, menatap suaminya yang sudah memijat pelipis. "Jadi Dea anak Tian?"
Ressa mengangguk pelan, "dari dulu Dea sangat menginginkan ayahnya Ra. Aku tidak ingin mengecewakannya."
"Tapi kamu bisa bicarakan ini dengan Aru, Sa. Aku yakin dia akan mengerti kalau kamu bilang Tian itu suamimu." Saran Hira, dia mengenal Aru. Saat perempuan itu sedang hamil tua ia dan Ressa yang menjaganya.
"Aku gak bisa, Ra. Kasihan Dea."
"Anak kamu juga perlu ayah, Sa." Hira menatap suaminya butuh pencerahan.
"Aru mencintai Tian dan juga sebaliknya Tian masih sangat mencintai Aru." Ressa mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Itulah yang pikirannya katakan, suaminya masih mencintai perempuan lain.
"Aku mengenal Tian tidak hanya setahun dua tahun Sa, walaupun dia menyembunyikan masalahnya dengan Aru. Tapi aku mengetahuinya sejak dulu." Ungkap Erfan yang membuat Hira melotot pada suaminya itu. Itu niat menghibur apa menjatuhkan mental sih.
"Ketika Tian memutuskan menikah denganmu, aku yakin perasaan cinta pada Aru sudah tidak ada lagi." Lanjut Erfan, yang membuat Hira lega.
__ADS_1
"Aku yang akan menemui Aru dan menjelaskan semua padanya. Sekarang kamu istirahat, tidak ada yang bisa mengganggumu di sini."
"Jangan katakan pada Aru, Ra. Jangan kecewakan Dea," mohon Ressa.
"Lihat bagaimana nanti," putus Hira membawa Ressa ke kamar tamu. Dia tidak akan diam saja membiarkan sahabatnya ini terluka. Aruna membesarkan anaknya sendiri itu pilihannya karena tidak mau dinikahi pelaku.
"Ra, please. Kasihan Dea, dia masih kecil." Mohon Ressa di kamarnya.
"Sekecil apapun Dea, dia akan mengerti nanti kalau ayahnya sudah punya istri. Lagipula kamu tidak memisahkan ayah dan anak." Hira membuka lemari dan mengambil pashmina lalu memasangkan di kepala Ressa. "Cantik, inikan yang Tian mau."
"Entahlah Ra, aku buntu. Sedari awal memang hubunganku dengan Tian salah. Mungkin Tuhan marah padaku. Aku bukan anak yang baik, lengkaplah sudah." Ujar Ressa menyalahkan diri sendiri atas keadaan yang menimpanya sekarang.
"Allah sayang kalian, Sa. Ini hanya pengingat bukan hukuman. Kalau ini hukuman, kamu tidak akan ada di sini dalam keadaan masih sehat dan bisa bernapas bebas." Hira mengingatkan dengan lembut. Ressa sedang mengalami tekanan berat, ia tidak bisa menasehati dengan cara keras.
"Aku capek!" Lirih Ressa.
__ADS_1
"Istirahat, bukan menyerah. Pernikahan kalian baru satu minggu, ini baru ombak kecil dalam hubungan kalian. Tenangkan diri biar bisa berpikir jernih, jangan pikirkan yang aneh-aneh." Hira menepuk pelan pipi sang sahabat, menasehati memang mudah. Melaluinya yang berat.