
"Denis, siapa karyawan yang dekat dengan sekretarisku itu?"
Sang asisten menautkan alis, sejak kapan bos mengurusi urusan pribadi sekretarisnya.
"Aku menyuruhmu mencari tahu, bukan untuk membuatmu menatapku seperti itu!" Tian menatap tajam Denis yang sedang menatapnya heran.
"Siap Bos," Denis bergerak mencari informasi seputar karyawan yang dimaksud Tian. Bosnya ini sejak kapan jadi ribet.
"Lima menit."
Sang asisten mengangguk sambil mengumpat dalam hati. Untung sekarang semua sudah canggih, tinggal tanya pada ponsel pintar.
"Jangan berani memakiku, Denis."
"Tidak bos," Denis tersenyum kecut. Bahkan untuk mengumpat dalam hatipun dia tidak dikasih kesempatan.
"Namanya Agam, karyawan bagian keuangan bos. Belum menikah, sepertinya sedang melakukan pendekatan dengan sekretaris anda."
Tian mendengus, dia tidak suka ada yang mendekati kelinci kecilnya. "Awasi dia untukku Denis, sekarang kamu boleh pergi dari ruangan ini."
Denis mengangguk meninggalkan ruangan sang bos. Kenapa bosnya berubah aneh, jadi suka mengurusi perempuan.
Ressa merasakan hidupnya lebih aman. Walau bosnya jarang berbicara dengannya lagi dan sekarang bersikap lebih dingin. Segala interaksi sebisa mungkin ia lakukan pada sang asisten. Itu lebih baik daripada dia yang harus langsung berhadapan dengan Tian.
"Pak, hari ini jadwal kunjungan ke proyek bendungan Cijurey bersama dari instansi pemerintah." Ressa menyampaikan jadwal pada asisten presdir.
__ADS_1
"Kamu siapkan segala keperluan Pak Tian, Sa. Jam sepuluh akan berangkat."
"Siap Pak Denis."
Yes, hari ini ia akan bebas kembali, gumam Ressa walau cuma berani dalam hati.
"Kamu ikut kami Sa," lanjut Denis sesuai isyarat Tian.
"Tidak semudah itu lari dariku, aku mendiamkanmu bukan agar kamu bebas Ressa." Desisnya dalam hati, Tian tersenyum tipis yang tak bisa terlihat.
Ressa membulatkan mata, baru saja dia berseru senang. Kebahagiaannya sudah terpatahkan.
"Kamu tidak suka? Kalau ingin santai tidak perlu berangkat ke kantor," ucap Tian dingin.
Ressa menyandarkan punggungnya di kursi, jam lima sore mereka baru pulang pertemuan dengan instansi pemerintah.
"Laporan ditunggu secepatnya!" Ujar Denis dari sambungan telepon.
"Siap Pak," sahut Ressa lemas sambil mengipas-ngipasi tubuhnya yang lengket habis beraktivitas di luar. Pendingin ruangan sepertinya tidak berfungsi dengan baik untuk tubuhnya yang gerah.
Usai mengerjakan laporan Ressa menyerahkan pada sang bos. Bos casanova dan assistennya masih berada di ruangan.
"Ini laporannya Pak." Ressa tersenyum lelah berdiri menunggu Denis memeriksa laporannya.
"Duduk Sa, banyak yang harus kamu perbaiki."
__ADS_1
Bahu Ressa luruh seketika, dia sudah sangat lelah hari ini. Tidak ada tenaga lagi untuk memperbaiki laporan sekarang juga.
Denis mencoret-coret laporan Ressa seperti seorang dosen yang sedang mengoreksi skripsi mahasiswanya.
"Kamu perbaiki sekarang, kami tunggu!"
"Siap Pak," Ressa mengambil laporannya. Berjalan gontai meninggalkan ruangan sang bos.
"Sudah malam Tian, biarkan dia pulang. Kasihan." Ujar Denis dengan bahasa santainya karena sudah di luar jam kantor. Dia dan Tian merupakan sahabat, hanya saat bekerja mereka menggunakan bahasa formal.
"Biarin!"
"Gila, anak orang bisa sakit dikerjai begitu."
"Jangan urusi urusanku Denis! Kerjamu menuruti semua yang aku perintahkan." Tian memberikan tatapan elangnya.
"Terserah, suka-suka lo. Jam kerja gue sudah lewat." Denis mengendikan bahu lalu pergi dari sana meninggalkan teman gilanya itu. Sekali bucin dengan perempuan menyusahkan saja.
Ressa melirik jam di pergelangan tangannya, pukul setengah sepuluh. Ia kembali membawa laporan ke ruangan bosnya.
Hanya ada Tian yang sendirian di sana. Ressa menyerahkan laporan. Sang bos tidak terlihat tertarik dengan apa yang Ressa bawa.
Perempuan itu menelungkupkan wajah di depan Tian karena sangat lelah. Dia sama sekali tidak takut Tian memarahinya.
Tian tersenyum devil, baru satu hari menghukum musuh. Sudah kalah tanpa perlawanan.
__ADS_1