Aksara Cinta

Aksara Cinta
75. Calon Mertua


__ADS_3

Ressa membuka surat yang berlogo pengadilan agama. Tian mengirimkan untuknya.


"Secepat ini," gumamnya sambil tersenyum. Padahal pernikahan mereka baru berjalan satu minggu yang akur. Tian bilang tidak akan menceraikannya. Tapi nyatanya, surai cerai itu ada di depan matanya sekarang.


Pada akhirnya dia benar-benar tersisih dengan kehadiran perempuan lain. Harusnya ia sudah siap akan semua ini, tapi kenapa rasanya tetap saja menyakitkan.


Ressa membubuhkan tandatangan di atas kertas bermaterai itu dengan perasaan ngilu. Hanya satu minggu kenangan manis yang ia miliki bersama Tian.


"Kuat ya Sayang, tanpa papa lagi. Bantu mama biar kuat. Mungkin sekarang akan terasa lebih berat untuk kita lalui." Ressa mengusap-usap perutnya, kasihan anaknya. Baru merasakan bahagia memiliki ayah, sekarang harus menerima kenyataan pahit kembali.


Ressa segera memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop dan menitipkannya pada Erfan. Lebih cepat lebih baik, biar dia bisa segera pergi dari rumah ini. Tidak enak kalau harus menumpang hidup di rumah orang.


Pasti orang pertama yang merasakan bahagia dengan berita perceraiannya nanti adalah ibu. Apalagi jika Aruna pulang membawa Tian.


Anggap lah ini penebus dosanya pada ibu, Ressa menghela napas panjang. Mengurut dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


***


Setelah resmi bercerai dengan Ressa, Tian menemani Aruna pulang ke rumah orang tuanya. Padahal ia sangat malas bertemu dengan ibu mertuanya itu.


"Alhamdulillah anak dan cucu ibu pulang, ini calon suami kamu Ru." Sambut Rina ramah pada Aruna dan Tian, kemudian memeluk cucu dan putrinya.


Tian ikut menyalami pasangan paruh baya itu. Walau ia rasanya sangat muak berada di sini. Dapat Tian rasakan perlakuan yang sangat berbeda antara yang di dapat Ressa dan Aruna. Padahal katanya Aruna hanyalah anak tiri.


"Ayo masuk," ajak Rina ramah seperti benar-benar tidak mengenal Tian.


"Ayah, maafin Aru sudah mengecewakan." Aruna memeluk sang ayah dengan erat.


"Lupakan Sayang, kamu pulang sekarang Ayah sudah bahagia." Amrin membalas pelukan Aruna dengan penuh kerinduan.


"Sini cucu kakek," panggil Amrin beralih memeluk cucunya.

__ADS_1


"Ressa kemana Bu, aku terakhir kirim pesan tidak dibalas. Aku pikir dia ada di rumah." Tanya Aruna, menghilang kemana adiknya itu.


"Biasa adikmu itu suka berkeliaran kemana-mana kan. Ibu dengar dia cerai dari suaminya, padahal mereka baru menikah satu minggu. Semoga hubungan kalian nanti tidak seperti itu, langgeng sampai tua." Ujar Rina tersenyum miring.


Tian ingin sekali mengumpati perempuan rubah di depannya ini. Sama sekali tidak pantas dia panggil ibu.


"Menikah? Cerai? Kenapa Ressa tidak memberitahuku kalau sudah menikah. Aku harus mencarinya Bu." Aruna menatap putrinya, "Sayang, kamu tinggal sebentar sama nenek dan kakek ya, Mommy mau cari tante Ressa dulu."


"Aru, kamu baru datang, mau cari Ressa kemana?" Tahan Rina.


"Kemana aja Bu, Tian bantu aku mencari adikku." Ajak Aruna, Tian mengangguk mengikuti perempuan yang menarik tangannya dengan terburu-buru.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Rina, bahagia diatas kehancuran pernikahan putri sendiri!" Bentak Amrin.


"Ayah, ada Dea nanti kita bahas." Sahut Rina, malas menanggapi suaminya itu. Ia membawa Dea berjalan-jalan di sekitar rumah.

__ADS_1


__ADS_2