Aksara Cinta

Aksara Cinta
108. Sakit


__ADS_3

"Ekhem!"


Erfan berdehem karena salah masuk kamar, yang didapatinya malah kelakuan tidak senonoh Denis dan Aruna. Untung dia yang masuk duluan, coba kalau Hira. Entah, tausiyah apa yang akan istrinya itu berikan.


Denis segera merapikan pakaian Aruna yang menyembunyikan wajah di pelukannya karena malu.


Erfan tidak berkata apa-apa, pergi ke kamar satunya. Di dapatinya Tian yang terkapar dengan wajah pucat dan Ressa sedang merintih menahan sakit.


"Sweety!" Teriak Erfan memanggil istrinya yang menunggu di ruang tamu. Sang istri datang bersama putrinya.


"Astaghfirullah, Bee." Hira mendekati Ressa terlebih dahulu. "Tolong ambilkan air putih, Bee."


Erra kecil hanya berdiri terbengong-bengong melihat kepanikan orang tuanya.


"Duduk sebentar Sa," Hira membantu Ressa untuk duduk dan menyeka keringatnya.


"Astaga, mereka kenapa?" Denis datang dengan berlari kala mendengar suara teriakan. Ia mendekati Tian, memeriksa suhu tubuhnya. "Panasnya sangat tinggi," katanya langsung menghubungi dokter. Lupa kalau ada dokter di sana saking paniknya.


"Ini Sayang," Erfan memberikan air dan obat. "Apa gak ada art di sini? Pasti mereka belum makan siang." Katanya berdecak, duit banyak tapi tidak bisa membayar jasa asisten rumah tangga.


"Tian gak mau ada art di rumahnya, hanya dipanggil saat dibutuhkan aja." Jelas Denis setelah menghubungi dokter.


"Aku buatin mereka bubur," ujar Aruna berinisiatif yang diangguki Denis.


"Apa yang sakit?" Tanya Hira setelah membaringkan Ressa kembali.

__ADS_1


"Perutku nyeri," jawab Ressa pelan.


"Harusnya kamu masih di rumah sakit Ressa, kalau kamu stress pulihnya lama." Hira beranjak ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres Ressa lalu segera kembali.


"Pegang selimutnya Sa." Hira menyingkap blouse Ressa dari balik selimut dan mengompres di perut.


"Sayang," Tian mengerjapkan mata menyadari dia baru saja tertidur. Kepalanya sangat sakit, di kamarnya sudah banyak orang.


"Istirahat, jangan pecicilan!" Ressa menepuk pipi Tian yang ingin memeluknya.


"Lo bisa sakit juga? Gue pikir lo bisanya cuma nyakitin perempuan!" Sindir Erfan.


"Bee!" Tegur Hira.


"Hei Honey, kamu di sini juga. Sembunyi dimana, Uncle gak lihat kamu." Goda Tian ingin memeluk Erra tapi di tahan Ressa.


"Panas kamu tinggi, Tian. Erra bisa ketularan!"


"Erra kuat Tante! Erra gak selemah itu!" Seru Erra seperti orang dewasa. Membuat para orang dewasa yang ada di sana tertawa.


"Of course, Honey." Tian membawa Erra ke atas tubuh dan mendekapnya. Tangan mungil itu membelai pipi Tian.


"Pipi Uncle panas kayak pisang goreng bikinan mommy." Celoteh Erra yang lagi-lagi jadi bahan tertawaan.


"Erra bangun dulu ya Sayang. Ada Pak Dokter yang mau periksa Uncle Tian." Beritahu Denis dengan lembut mengajak dokter masuk.

__ADS_1


"Mommy Erra juga dokter. Kenapa uncle buang-buang duit buat manggil dokter!" Ceramah Erra.


"Ups sorry, tapi uang daddy-mu banyak Sayang. Gak akan miskin kalau cuma buat bayar dokter," jawab Denis asal.


Perdebatan antara Denis dan Erra tak bisa dihindari membuat ruangan dipenuhi gelak tawa. Dokter segera memeriksa Tian setelah Erra beralih tempat memeluk Ressa.


"Uncle sakit apa Pak Dokter?" Tanya Erra diikuti dengusan kecil.


"Cuma demam karena kelelahan, setelah minum obat dan istirahat yang cukup akan sembuh." Sang dokter menanggapi serius pertanyaan Erra, padahal masih belum selesai memeriksa Tian.


"Benarkah begitu, Mommy?" Tanya Erra pada sang mommy karena belum yakin pada dokter itu.


"Of course, Sayang. Kamu gak lihat Pak Dokter memeriksa Uncle Tian dengan serius. Pasti apa yang diucapkan Pak Dokter itu benar." Jelas Hira lembut merasa tidak enak pada dokter yang ada di sana.


Erra hanya mengangguk-angguk lucu sebagai tanggapannya.


"Apa mau diperiksa juga, gadis kecil?" Goda sang dokter pada Erra setelah selesai menuliskan resep.


"No, Mommy Erra juga dokter," katanya sombong.


"Ah iya, mommy-mu dokter yang hebat sampai melahirkan anak cerdas sepertimu." Dokter itu mengusap rambut Erra sambil tersenyum, memberikan resep pada Denis. Lalu diantar Denis ke depan setelah selesai melakukan pemeriksaan.


"Dengarkan Sweety, putriku itu sangat cerdas." Ujar Erfan menyombongkan dirinya di depan Hira.


"Ingat Bee, kecerdasan anak itu diwariskan dari ibunya. Kalau ngeselin itu dari ayahnya," sarkas Hira yang mengundang tawa.

__ADS_1


__ADS_2