Aksara Cinta

Aksara Cinta
39. Hukuman


__ADS_3

Ressa bangun dari tempat tidur setelah benar-benar tinggal sendirian di apartemen. Semua sulit untuk ia terima.


Ia menilik isi tabungannya yang sudah menipis karena dibayarkan untuk cicilan mobil dan keperluan ayah ibunya. Satu bulan ini Ressa tidak dapat pemasukan.


Satu-satunya jalan harus menjual mobil dan apartemen ini. Ia akan pindah ke kost saja, ibunya pasti minja jatah bulanan seperti biasa. Dia tidak mungkin minta tolong Hira kalau sedang kesulitan keuangan. Sahabatnya itu sedang marah padanya.


Tubuhnya sudah lebih baik setelah istirahat. Ressa membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi.


"Benarkah di sini ada anak Tian," Ressa meraba perutnya sambil menyetir mobil. Tujuannya adalah pasar terlebih dahulu. Ia akan membeli perlengkapan dapur yang sudah habis.


Ressa menjinjing belanjaan sambil duduk di halte karena kelelahan. Ia sedang menunggu ojek online datang. Setelah hampir seharian menawarkan mobil. Akhirnya ada yang menawar mobilnya dengan harga lumayan tinggi.


Tangannya menyeka keringat yang berkucuran, sudah lama tidak main panas-panasan. Hari sudah hampir ashar, ojol yang dipesannya akhirnya datang. Sekarang ia tinggal packing barang dan mencari kost yang murah.

__ADS_1


Ia harus berhemat, uang yang ada buat modal usaha dan dikirim ke orang tuanya setiap bulan. Semua sudah Ressa pikirkan, entah berapa bulan dia mampu bertahan membiayai orang tuanya tanpa bekerja. Sambil mencari kost murah di internet, Ressa tertidur karena kelelahan.


Di apartemennya Tian menemani Erra menonton televisi. Otaknya berpikir keras untuk apa Ressa menjual mobil dan apartemen. Ia mengirim orang untuk mengikuti Ressa juga Audrey, karena tidak bisa menjaga dua orang itu secara langsung.


Apa Ressa mau kabur ke tempat yang jauh. Belum selesai memikirkan Ressa, Tian mendapatkan laporan kalau Audrey baru kembali dari dokter praktek setelah menggugurkan kandungannya.


Tian memejamkan mata, "kenapa kamu bunuh anakku Audrey," gumamnya. Ingin melampiaskan marah masih ada Erra di sampingnya.


"Uncle gak mau jenguk tante Ressa lagi, sekarangkan gak ada mommy." Ujar Erra di sela-sela menonton kartun.


Kalau bisa Tian tidak ingin berpisah dari Ressa. Tapi sepertinya perempuan itu sudah menentukan pilihan sendiri. Mungkin jalannya sama seperti Audrey, menggugurkan anaknya dari pada menikah dengannya. Tuhan menghukumnya seperti ini, membuat Tian tidak bisa menyentuh buah hatinya.


"Kalau tante sudah sembuh kita jalan-jalan ya?"

__ADS_1


Tian mengangguk dengan tersenyum kecil, anak kecil tidak akan mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Uncle marah sama tante sama seperti mommy?"


"No, Uncle nggak marah sama tantemu."


"Kenapa Uncle kayak gak suka kalau Erra ngomongin tante?" Tanyanya dengan sendu.


"Erra dengerin Uncle, kalo Uncle diam bukan berarti gak suka, Honey." Jelas Tian lembut, entah gen siapa yang dominan di tubuh anak ini. Sangat sensitif dengan dunia sekitar.


"Kalo gitu sekarang kita ke tempat tante."


Ya Tuhan, Tian ingin menjedotkan kepalanya ke tembok sekarang juga. Anak ini terkadang menyebalkan dengan keras kepalanya.

__ADS_1


"No Honey, Uncle bisa antar kamu pulang sekarang kalau cerewet!" Ancam Tian.


Gadis kecil itu langsung turun dari sofa dengan wajah cemberut dan masuk ke kamar. Tian melongo melihat tingkah Erra yang merajuk seperti orang dewasa, mau tidak mau terpaksa dia harus membujuknya.


__ADS_2