
Tian memejamkan mata mendapati email pengunduran diri Ressa. Dasar perempuan keras kepala, desisnya. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran rumit perempuan.
Inilah yang membuatnya malas menjalin hubungan. Perempuan sulit ditebak maunya apa, selalu memberikan teka-teki yang lelaki tidak tau jawabannya apa.
"Ada apa?" Tanya Denis khawatir.
"Ressa resign."
Denis menghela napas panjang, ia pikir ada masalah perusahaan. Ternyata masalah perempuan. "Sementara saya akan minta Zeni sebagai sekretaris utama. Lima menit lagi meeting." Ujarnya mrngingatkan, sang bos mengangguk.
Asisten Tian itu memanggil Zeni dan menyampaikan untuk sementara sebelum ada pengganti sekretaris semua keperluan presdir dipercayakan padanya.
"Siap Pak." Zeni tersenyum senang. Keinginannya untuk menjadi sektetaris presdir akhirnya tercapai. Kini semakin mudah baginya untuk menggapai sang bos yang memiliki sejuta pesona.
Tian menghabiskan waktunya hanya untuk kerja, kerja dan kerja. Ia sampai malas pulang ke apartemen. Sejak perginya Ressa, lelaki itu jadi semakin dingin, sulit untuk disentuh.
"Gak pulang lagi?" Tanya Denis, Tian hanya menjawab dengan gelengan.
__ADS_1
"Come on bro, kita pulang dan bersenang-senang." Denis menarik paksa sahabatnya, dia sudah tidak tahan melihat Tian yang selalu murung setiap hari.
"Gue malas pulang Denis!"
"Gue telponin Audrey biar ke apartemen lo."
"No, gue gak mau Audrey!" Tian melepaskan tangan Denis lalu masuk ke ruang istirahat.
Denis mendesah frustasi, dengan berat hati terpaksa dia membiarkan sang bos tidur di kantor lagi. Mengurus Tian tidak pernah semelelahkan ini sebelumnya. Sahabatnya itu bagai mayat hidup sekarang, jarang bicara dan tersenyum lagi.
Sebelum jam kantor dimulai Tian sudah duduk manis di mejanya.
"Nanti," jawabnya sambil menghidupkan laptop.
"Kemaren siang gak makan, tadi malam juga dan sekarang mau gak makan lagi." Cerewet Denis, dia prihatin dengan keadaan bos sekaligus sahabatnya ini.
"Erra nyariin," bohong Denis. Hanya itu satu-satunya cara agar Tian bersemangat lagi.
__ADS_1
"Nanti gue ke sana."
"Secepatnya sebelum anak itu mengamuk."
"Ya."
Lagi-lagi Denis hanya bisa mengelus dada meninggalkan Tian yang tidak bisa diajak bicara. Tidak lama setelah Denis keluar Zeni masuk.
"Ini laporan proyek pembangunan danau buatan untuk meeting pagi ini Pak." Ujar Zeni seraya menyerahkan berkas pada Tian.
"Ya, nanti saya periksa." Ucap Tian dingin tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop. Dia sudah tau kebiasaan sekretaris barunya itu. Pakaiannya sangat mini, kalau dulu mungkin dia suka melihat yang bohay dan seksi. Tapi tidak sekarang, melirik saja Tian malas. Ia kehilangan hasrat untuk bercinta.
"Bapak perlu sesuatu, kopi, susu atau minuman yang lain?" Tanya Zeni dengan suara menggoda, sambil membusungkan dadanya yang berisi.
"Ya, saya perlu kamu keluar dari ruangan ini!" Sarkas Tian tanpa ekspresi menoleh pun enggan.
"Baik Pak," sahut Zeni layu. Belum apa-apa dia sudah diusir. Bagaimana Ressa bisa lama bersama bosnya itu di ruangan. Apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Huft. Tian menghela napas berat, kursi ini selalu mengingatkannya akan Ressa yang masih malu-malu. Dia tau Ressa ada di mana, tapi Tian enggan untuk mengganggu.
Tubuhnya terasa panas mengingat bayangan sisa percintaan dengan Ressa. Tian melepas jas, melonggarkan dasi di lehernya. Dia merasa hampa kehilangan perempuan itu. Andai Tuhan memberikannya kesempatan, ia akan menjaga Ressa sebaik mungkin.