
Sejak kejadian itu, Aruna menghindar dari Tian. Ia memutuskan untuk melupakan malam naas itu, tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya.
"Aru, buka pintu!" Ujar Tian dari sambungan telepon. Sudah lebih dari satu bulan dia tidak bisa bicara dengan Aruna secara langsung. Gadis itu selalu menghindar. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu membuka pintu."
Aruna terpaksa membuka pintu, di luar ada Denis dan Tian. Dua orang pemuda itu langsung masuk tanpa dipersilahkan.
"Kenapa selalu menghindar, kamu tidak sehat akhir-akhir ini." Tian memegang tangan Aruna agar tidak pergi. Sedang Denis memeriksa kamar Aruna.
Mereka berdua mengawasi Aruna setiap saat, dan mendapatkan keanehan melihat gadis itu muntah-muntah setiap berada di dekat makanan.
"Aku gak mau ketemu kamu Tian, lupakan semua yang terjadi diantara kita. Maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam hidupku."
"Menikah denganku Aru, aku sanggup membiayai kuliahmu. Aku tidak bisa melepaskanmu sendirian."
"Ini apa Aru?" Tanya Denis dengan sorot mata tajam. Membawa testpack ke hadapan Aruna. Bukan tanpa asalan ia menggeledah kamar gadis itu. Beberapa hari yang lalu Denis melihat Aruna mampir di apotik.
"Itu, aku sudah menggugurkannya." Jawab Aruna tenang, hatinya sudah bulat tidak akan menikah dengan Tian. "Aku sudah minum obat penggugur kandungan. Makanya aku kurang fit." Jawabnya asal tanpa mempedulikan perubahaan wajah Tian yang mengeras karena.
"Kenapa kamu lakukan ARUNA! Dia anakku?" Ucap Tian dingin, Aruna sampai merinding melihat perubahan sikap Tian.
"Maafkan aku Tian. Jangan ganggu aku lagi. Aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Silahkan kalian keluar, aku lelah."
Denis menatap Aruna murka, "aku pikir kamu berbeda Aruna. Ternyata sama saja, dimana hatimu saat membunuh darah dagingmu sendiri." Ucap Denis sambil menarik Tian agar pergi dari sana.
__ADS_1
Sejak saat itu Aruna benar-benar menghilang. Ia tidak pernah melihat gadis itu lagi di kampus. Terakhir Tian mendapat kabar kalau Aruna kembali ke Indonesia. Hingga sekarang dia bertemu lagi, dengan anak yang sudah besar.
Tian memarkirkan mobilnya di depan rumah Erfan. Saat memencet bel, dia mendapati daddy-nya Erra yang membuka pintu.
"Erfan benarkan?" Tanya Aruna pangling, "kalian masih bersahabat sampai sekarang?" Perempuan itu menatap Erfan dan Tian bergantian.
Erfan mengangguk sambil tersenyum tipis mengajak Aruna dan Tian masuk. "Sayang, ada tamu." Panggilnya pada sang istri yang sedang membuat kue di dapur bersama Ressa.
"Sa, boleh minta tolong." Hira mengerling genit pada sahabatnya itu.
"Iya, mau minum apa? Kopi manis, kopi pahit, susu atau darah segar?" Sahut Resa diikuti dengusan.
"Lo kira dukun yang datang." Hira terkekeh geli, sahabatnya itu tidak terlihat sedang patah hati atau frustasi.
"Apa yang lo bisa aja deh. Asal jangan air comberan," sinis Hira.
"Baiklah, jangan salahkan gue kalau mereka gue kasih air jampi-jampu dan jadi ke pelet sama gue." Kekeh Ressa sambil membuatkan jus jeruk di teko lalu membawanya keluar.
Dari suaranya dia kenal itu Tian, tapi Ressa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Dan yang ada di sana ternyata Tian dan Aru. Ressa tersenyum memberikan minumannya.
"Silahkan diminum," ucapnya lalu kembali ke dapur.
"Ressa!" Panggil Aruna.
__ADS_1
"Ya Ru, mau pesan apalagi?" Tanyanya sambil mengerling jahil.
Aruna mendengus beranjak mendekati Ressa dan memeluknya erat.
"Dasar adik nakal, hp kamu dibuang kemana, hah. Sudah tidak menganggap aku ini kakakmu lagi." Aruna mencubit gemas pipi Ressa.
"Sorry, lagi sibuk jadi gak lihat hp. Duduk, kamu kan tamunya Erfan. Aku bikinin kue yang enak buat kalian." Ujar Ressa melepaskan pelukan Aruna cepat lalu kembali ke dapur.
Huh. Akhirnya Ressa bisa bernapas dengan leluasa. Bagaimana kalau sampai Aruna tau kalau dia mantan istri Tian, perempuan itu menggeleng pelan. "Itu tidak boleh terjadi," gumamnya pelan.
"Kenapa?" Tanya Hira Khawatir.
"Di luar ada Tian dan Aru," jawab Ressa lemas.
"Sinting, pengen gue cincang rasanya itu laki." Kesal Hira, Ressa terkekeh geli melihat kekesalan sahabatnya.
Aruna menyusul Ressa ke dapur, "hei Hira, kamu juga di sini?" Tanya perempuan itu cengo.
"Aku istri Erfan Ru," jawab Hira dengan kekehan memeluk Aruna.
"Reunian ni ye." Ressa menaik turunkan alis menempelkan tangannya yang penuh tepung pada sang kakak.
"Dasar adik lucknut!" Kesal Aruna, wajahnya jadi penuh tepung. Tiga perempuan itu tertawa bersama.
__ADS_1