
"Azmi gak ada di rumah, di paviliun juga gak ada siapa-siapa." Jelas Reny ikutan panik, kemana putranya itu membawa anak orang pergi.
"Tapi lokasi terakhirnya masih di sini, apa Azmi ada pulang?" Tanya Tian masih mengotak atik laptopnya. Tidak mungkin sistem yang dia pasang itu rusak.
"Azmi jarang pulang ke rumah. Coba kita langsung cek ke kamarnya di atas," ajak Wijaya.
Empat orang pria itu mengikuti Wijaya naik ke kamar atas. Tidak ada orang di sana, Tian menemukan chip milik Dea di lantai.
“Dia sudah tau kalau Dea bisa dilacak, apa rumah ini tidak memiliki cctv?”
“Tidak ada cctv yang bisa di menjangkau kamar ini.” Ujar Erfan, netranya mengamati sekeliling kamar dan berhenti di pintu lemari yang agak terbuka. Ia langsung mendekatinya dan mendorong pintu itu,”bukan lemari. Tapi pintu rahasia ke lorong,” gumamnya.
Erfan mengikuti lorong yang panjangnya hanya sepuluh meter. Lorong itu langsung terhubung ke halaman belakang. Ada satu mobil yang terparkir di sana, ia juga baru tau kalau Azmi memiliki lorong rahasia.
"Azmi sudah tidak ada di sini," ujar Erfan setelah kembali ke kamar.
“Kemana Azmi membawa Dea pergi?” gumam Denis, bagaimana ia menjelaskan pada Aruna kalau Dea hilang.
__ADS_1
“Papi gak tau selama ini Azmi tinggal di mana?” tanya Erfan.
“Enggak, coba kita cari petunjuk di kamar ini.” Wijaya menggeledah kamar putranya, berharap menemukan sesuatu yang tidak pernah ia ketahui.
Selama satu jam mereka melakukan pencarian tapi tidak menemukan apapun. Yang ada kamar itu malah jadi berantakan.
“Kita tidak memiliki petunjuk apapun selain menyebar orang untuk mencari Dea," ucap Jeri.
"Mencari tanpa arah tujuan sama saja sia-sia, seperti kita mencari Ressa dulu." Denis mendesah frustasi.
Sampai malam Dea masih belum ditemukan keberadaannya. Mereka memutuskan untuk pulang. Tapi pencarian masih dilakukan. Karena tidak ada petunjuk apapun membuat mereka kesulitan menemukan Dea.
Mereka sudah sekuat tenaga mencari Dea tapi tidak ketemu. Laporan ke kepolisian juga sudah dibuat.
Tubuh Aruna ambruk mengetahui putrinya belum ditemukan. Denis segera menangkap tubuh istrinya.
"Aru!!" Teriak Ressa panik, ia menyuruh Denis untuk membawa Aruna ke kamar.
__ADS_1
Dia mejuga sedih Dea hilang, tapi Ressa tidak menangis seharian seperti Aruna yang bahkan tidak mau makan. Dialah yang menenangkan ibu dan kakaknya seharian ini.
"Ibu mana Sayang?" Tanya Tian, mereka mengikuti Denis yang menggendong ke kamar Aruna.
"Ibu sudah tidur kelelahan seharian menangis," jawab Ressa lesu.
"Kamu pasti capek baget menenangkan mereka," Tian merengkuh pinggang Ressa. Walau dia juga lelah, tapi istrinya ini pasti banyak pikiran sekarang.
"Banget," ucap Ressa lirih. Ingin menangis tapi ditahannya. Sudah cukup Denis melihat Aruna pingsan dia tidak ingin menambah beban dua pria itu.
"Kita lihat Aru dulu ya Sayang, baru aku bantu hilangin lelah kamu. Kasihan Denis pasti tertekan sekarang."
Ressa mengangguk paham, mereka masuk ke kamar penganten baru itu. Denis sedang membaringkan Aruna.
“Apa perlu kita panggil dokter?” Tanya Tian.
Pria itu menggeleng pelan, membaluri hidung Aruna dengan minyak kayu putih dan memijat kakinya.
__ADS_1
“Aru cuma kelelahan, sepertinya dia juga belum makan jadi badannya lemas. Lo istirahat aja dulu, biar gue jaga Aru.” Ujar Denis, paham kalau Tian pasti sangat lelah. Dia yang bukan ayah kandungnya saja ikut kepikiran.
“Kalau ada apa-apa panggil aja ke kamar,” ucap Tian yang diangguki Denis. Dia membawa Ressa pergi dari sana, mereka perlu menenangkan pikiran sejenak.