Aksara Cinta

Aksara Cinta
211. Beruntung


__ADS_3

"Mas, temani Dea. Dia pasti merasa sendirian. Kita sudah bertekat untuk tidak bermesraan di depannya kan. Dia lagi kangen Azmi." Ressa memberi pengertian Tian dengan lembut atas perasaan putrinya itu.


"Aku susul sekarang," Tian tidak membantah. Ia ke kamar Dea yang ada di samping kamarnya.


Tian membuka pintu dengan pelan, putrinya itu sedang menelungkupkan wajah di meja dengan punggung turun naik. Menandakan sedang menangis tapi tidak bersuara.


"Sayang," panggil Tian.


"Daddy, ada apa?" Deandra buru-buru menghapus air matanya. Memasukkan benda di atas meja itu ke laci sebelum ketahuan sang ayah.


"Gak jadi makan Sayang?" Tian berjalan mendekati putrinya.


"Belum Daddy, ini Dea mau makan." Sahutnya dengan senyuman sangat manis.


"Kamu nangis?" Suami Ressa itu memeluk Deandra dari belakang. Membersihkan bekas sisa air mata di pipi sang putri.


"Enggak, ini tadi Dea ngantuk banget jadi ketiduran di meja. Mana lapar juga, jadi bingung mau yang mana duluan."


Ada saja jawaban anak gadisnya ini. Tian geleng-geleng kepala. "Daddy tau walau kamu gak bilang Sayang, maafin Daddy yang terlalu memaksakan kamu melupakannya. Daddy tau melupakan itu gak mudah, semuanya butuh waktu."


Tian tersenyum memutar kursi Dea lalu berjongkok sambil menggenggam tangan putrinya. "Daddy akan menemani kamu melalui semua ini. Daddy akan membantu Dea melupakan orang itu, Sayang."

__ADS_1


"Daddy, maafin Dea. Dea bukan mau menentang Daddy." Deandra mengalungkan tangan di leher Tian, membenamkan wajah di bahu sang ayah.


"Sudah, jangan minta maaf terus. Belum lebaran Sayang." Tian membelai rambut panjang Deandra sambil mengajaknya bercanda.


"Daddy, ini Dea lagi sedih loh."


"Oh ya, jadi putri Daddy ini lagi sedih. Sedih kenapa Sayang, ayo cerita dulu sama Daddy." Goda Tian sambil menciumi pipi Dea membawanya ke dapur. Karena tadi putrinya itu bilangnya kelaparan. Entah hanya pura-pura atau beneran.


"Makasih Daddy, ngerti banget kalau Dea lapar. Sekalian suapin ya," ujar gadis remaja itu usil setelah didudukkan Tian di kursi.


"Of course Honey, Daddy suapin pake centong biar cepat besar."


Tian memasukkan centong ke mulut Dea yang digigit gadis itu.


"Astaga, nasi dibuat mainan!!" Tegur Aruna.


Deandra cepat melepaskan centong dari mulutnya lalu ikut tertawa bersama sang Daddy.


"Mas, anaknya diajarin yang baik toh. Masa disuapin pake centong," omel Aruna.


"Putrimu yang mau disuapin pake centong Ru, sebagai Daddy yang baikkan aku nurut aja." Tian membela diri.

__ADS_1


"Daddy kok Dea sendiri sih yang disalahin," katanya cemberut.


"Kamu emang sendiri Sayang, kalau berdua Daddy takut dekat-dekat. Jangan-jangan kamu bawa tuyul." Gurau Tian, sengaja membuat putrinya itu lupa sejenak dengan Azmi. Seperti yang Ressa bilang, dia harus menjadi pengobat rindu Dea bukan penentang cintanya.


"Daddy ngeselin deh, yang melihara tuyul tuh Daddy. Makanyanya bisa kaya!" Sarkas Dea cemberut.


Aruna geleng-geleng kepala, "kalian anggap Mommy di sini wasit yang mengawasi kalian bertengkar lalu melerainya nanti dan menentukan siapa pemenangnya." Selorohnya jengkel karena merasa diabaikan.


"Hm, Mommy Aru jangan galak-galak. Nanti cantiknya hilang." Deandra mengedipkan mata pada sang daddy, membujuk mommy sudah jadi tugasnya.


"Ayo sini makan, Dea suapin." Gadis itu menarik tangan Aruna untuk duduk di samping kirinya. "Apa di sini ada dedek juga, jadi Mommy suka marah-marah sekarang." Sindir Deandra lembut, Tian mengulum senyum tidak berani tertawa puas lagi.


"Wahai adek kecil, kasihanilah kakakmu ini yang harus merawat dua dedek manja." Celoteh Deandra sambil menyuapi Aruna makan. Mau tidak mau Aruna ikut terkekeh geli mendengar celotehan putrinya itu.


"Kebanggan Daddy," Tian mengusap puncak kepala Deandra dengan bangga. Putrinya ini sudah seperti orang dewasa.


"Wajib, Daddy harus bangga pada Dea." Ucapnya angkuh sambil menepuk dada.


"Sombongnya," Aruna mengunyel gemas pipi sang putri.


Sungguh ia sangat beruntung, walau daddy dan mommy-nya bukan suami istri lagi. Tapi mereka masih bisa bersama. Tidak ada yang kurang dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2