Aksara Cinta

Aksara Cinta
20. Bimbang


__ADS_3

"Hei merajuk!" Goda Tian sambil tertawa kecil menarik Ressa kembali untuk duduk. "Aku cuma gak mau kamu menyesal menikah denganku."


"Tian, kamu sudah sarapan." Audrey muncul di balik pintu dengan tersenyum manis. Ressa segera bangkit dari duduk dan permisi pada keduanya.


Tian menggaruk kepala kikuk seperti tengah kepergok berselingkuh.


"Hei, kenapa pagi-pagi ke sini." Sapa Tian lembut, mengulurkan tangan agar Audrey duduk di sampingnya.


"Mau ngajak kamu sarapan, kamu tadi malam gak datang lagi ke apartemenku." Ucap Audrey manja sambil bersandar di bahu Tian. Tian tidak tau bagaimana caranya memberitahu perempuan ini kalau dia ingin menikah.


"Aku gak sempat ke tempat kamu. Banyak kerjaan," bohong Tian.


"Temani aku sarapan," pinta Audrey.


Tian mengernyit, tumben Audrey sarapan. Biasanya perempuan itu tidak pernah mau sarapan pagi.


"Sebentar lagi aku meeting, kamu sarapan sendiri ya." Bujuk Tian, Audrey menggelengkan kepala. "Aku mau sama kamu."


"Kenapa jadi manja banget, hm." Tian mencubit pipi Audrey gemas.

__ADS_1


"Lagi gak bisa jauh-jauh dari kamu, pengen nempel terus."


Tian tersenyum menarik kepala Audrey dalam pelukannya. Harus Tian akui, dia terlanjur sayang dengan Audrey. Tapi dia juga menyayangi Ressa, menginginkan perempuan itu yang mendampinginya hingga tua kelak.


"Aku gak bisa selalu ada buat kamu, kamu cari lelaki yang lebih baik dari aku ya. Cari yang bisa menemani kamu setiap saat dan membahagiakanmu."


"Aku gak suka kamu ngomong gitu." Audrey menatap Tian dengan wajah cemberut.


"Kamu harus bisa lupain aku, oke." Tian membelai lembut pipi Audrey, "kita sudah sepakat untuk tidak ada keterikatan apapun kan."


Terdengar kejam, namun Tian harus tegas dengan perasaannya. Dia tidak bisa memiliki keduanya.


"No. No. Aku gak mau jauh dari kamu." Rengek Audrey dengan mata berkaca-kaca.


Kalau Tian berduaan dengan perempuan, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa. Mereka pasti melakukan hal yang intim. Ressa mengetuk kepalanya dengan pulpen agar bisa berhenti memikirkan Tian.


Sampai jam istirahat Ressa bekerja sambil melamun. Audrey masih belum keluar dari ruangan Tian. Ia menolak memikirkan apa yang terjadi pada keduanya.


Tidak berapa lama Tian keluar ruangan menggandeng tangan Audrey tanpa menoleh pada Ressa. Itu rasanya sangat menyakitkan, baru mengajaknya menikah tapi malah dengan santai menggandeng perempuan lain di depannya.

__ADS_1


Otaknya jadi berpikir untuk membatalkan menikah dengan Tian. Huh, Ressa menghela napas berat.


"Astaga pipi lo kenapa?" Suara Agam mengagetkan Ressa yang sedang melamun.


"Ini," Ressa menyentuh pipinya yang masih terasa sakit. Tapi lebih sakit hatinya yang melihat Tian bersama perempuan lain. "Kesenggol pantat panci," kekeh Ressa sambil tertawa kecil.


"Paling kena tampar karena menggoda suami orang," sewot Zeni.


"Betul sekali, seratus buat tebakan lo." Seru Ressa dengan tertawa nyaring, istri ayah sendiri lebih tepatnya. Ia tidak suka dikasihani.


"Ya ampun pasti sakit banget," Amel mengeluarkan salep dari tasnya. "Sini gue obatin biar memarnya hilang."


"Gak perlu Amel, mending kita makan siang."


"Diem Ressa," geram Amel. "Sakit aja pake pura-pura sok tegar gitu." Gerutunya sambil mengolesi pipi Ressa.


"Makasih," ucap Ressa sambil tersenyum. Lalu mereka makan siang bersama di kantin. Seperti biasa, ia dengan cepat menetralkan perasaan tidak nyamannya. Menggantikan dengan wajah ceria.


...💥💥💥...

__ADS_1


Hai baca juga cerita aku yang lain. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊



__ADS_2