
"Honey, maafin Daddy Sayang sudah membentak kamu. Daddy gak marah sama Dea. Daddy marah dengan diri Daddy sendiri karena gak bisa menjaga Dea." Tian memeluk putrinya dengan rasa bersalah yang menggunung.
Denis yang menjemput Deandra dari kantor Erfan saat Aruna pergi ke pasar bersama ibunya. Dia sangat hati-hati agar masalah ini tidak diketahui istrinya itu. Ia meyakinkan Dea kalau Tian sudah tidak marah-marah lagi supaya mau pulang.
"Dea yang salah Daddy," Dea memberikan kalungnya pada Tian dengan tangan bergetar. "Buanglah, Dea hanya butuh Daddy." Ucapnya sambil terisak.
Tian menatap istrinya yang menggeleng. Ressa tidak tega melihat putrinya patah hati diusia semuda ini.
"Simpan buat Dea Sayang, sini Daddy pasangkan. Dea tau, Daddy sangat khawatir Dea kenapa-kenapa karena belum mengerti masalah cinta dan pemikiran orang dewasa." Ujar Tian pelan seraya memasangkan kalung itu ke leher Dea.
Ia sempatkan melihat foto di liontin, hatinya terasa miris melihat putrinya sangat bahagia memeluk manusia yang paling Tian benci di dunia ini.
"Maaf kalau Daddy belum bisa memberikan cinta seperti yang Dea mau. Maafkan Daddy yang harus membagi kasih sayang Dea dengan Buba. Tapi sungguh, Daddy sangat menyayangi Dea." Tian membawa putrinya ke pangkuan, memeluknya sambil menciumi di puncak kepala.
Ressa ikut bersandar di bahu Tian, tersenyum menghapus air mata di pipi Deandra.
"Dea gak tau kenapa Om bisa ada di kamar Daddy," lirih Dea pelan.
"Iya Sayang, yang pagi tadi jangan Dea pikirkan. Ayo kita ke kantor Daddy, sebelum Mommy-mu datang dan curiga."
Deandra mengangguk, mencium pipi Ressa dengan gemas. Denis yang mengamati drama itu tersenyum. Putri sambungnya sudah semakin dewasa, kenyataan membuatnya dewasa sebelum waktunya.
"Daddy Denis-mu mau di sayang juga, Honey." Bisik Tian, Dea memiringkan bibir menoleh pada suami ibunya itu lalu merentangkan tangan.
Lelaki dewasa itu mendekat kemudian menyambut uluran tangan Dea dan menggendongnya. "Sudah besar, gak boleh minta gendong lagi ya. Nanti Mommy-mu protes kalau Daddy encok." Denis mencubit gemas hidung putrinya.
"Aku gak seberat mommy kan Dad. Daddy gendong mommy masih kuat, masa gendong aku gak kuat."
Denis mendelik, "itu beda Sayang. Kalau berada di dekat mommy-mu itu kekuatan Daddy jadi bertambah berkali-kali lipat." Sahutnya sambil tertawa, Tian juga ikut tertawa putrinya itu terlalu sering melihat keromantisan yang terjadi di rumah ini.
__ADS_1
"Sebesar itukah energi cinta, hm."
Tian mengernyitkan kening mendengar pernyataan sang putri.
"Dea jangan coba-coba sebelum menikah Sayang, berjanjilah sama Daddy. Perempuan harus menjaga kehormatannya, jangan mau disentuh sembarangan. Apalagi di area terlarang." Nasehat Denis serius, mendengar cerita Tian pagi tadi dia jadi ikut khawatir dengan putrinya ini.
"Dea lihat, apa Daddy Tian, Daddy Denis menyayangi Dea seperti yang Om itu lakukan. Tidakkan Sayang, karena itu bukan kasih sayang tapi syahwat. Daddy takut, orang yang Dea cintai itu hanya ingin merebut kehormatan Dea dan merusaknya." Denis mendekap erat putrinya.
"Dea tidak akan melakukannya lagi Daddy," janji Dea. Ia akan melupakan pria dewasa itu, kasih sayang yang orang tuanya berikan ini lebih dari cukup. Dia tidak ingin kehilangan semuanya ini.
Denis tersenyum, "kalau Dea merasa kangen. Ceritakan perasaan itu pada Buba jangan pendam sendirian ya Sayang."
"Yes Daddy," Deandra mengangguk mengerti.
Setelah Dea mendapatkan banyak wejangan Tian membawa putrinya itu pergi ke kantor. Sebelum Aruna pulang dan mengetahui Dea tidak berangkat sekolah.
"Dea temani Buba ya Sayang, Daddy meeting dulu."
"Buba..." panggil Dea setelah daddy-nya sudah lenyap di balik pintu.
"Iya Sayang, ada apa?" Ressa menoleh pada putrinya yang terlihat sedang serius bermain game.
"Apa jadi orang dewasa itu selalu rumit?"
Ressa tersenyum diikuti kernyitan di kening mendengar pertanyaan Deandra.
"Kalian para orang dewasa itu sangat sulit dimengerti," lanjutnya.
"Itu karena kami tidak hanya memikirkan kesenangan, tapi tanggung jawab Sayang. Masalah kecil dari pandangan kalian itu bisa jadi masalah serius bagi kami." Ressa membawa kepala Deandra berbaring di pangkuannya
__ADS_1
"Seperti yang terjadi pada Dea tadi malam. Mungkin Dea cuma berpikir Om itu datang untuk memberikan hadiah. Tapi Dea dengar sendirikan apa yang Daddy Tian dan Daddy Denis katakan. Mereka sangat takut kalau Dea kenapa-kenapa. Mereka takut masa depan Dea berantakan. Bahkan Daddy Tian sampai merasa bersalah karena menganggap dirinya tidak bisa menjadi ayah yang baik." Wanita hamil itu memberikan usapan lembut di kepala Deandra.
"Orang dewasa berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu Sayang. Mempertimbangkan baik buruknya. Sehingga terlihat rumit di mata kalian."
"Buba, kalau Dea cerita apa Buba akan marah dengan Dea."
"Ceritalah, Buba akan siap mendengarkannya." Jawab Ressa sambil tersenyum. Deandra bangun, menyandarkan kepala di dekapan hangat Ressa.
"Om bilang Dea harus menjaga ini," gadis itu menunjuk bibir kemudian beralih ke bagian bawah perut. "Dan ini, Om bilang akan menjemput Dea setelah Dea besar nanti. Apa Dea harus menurutinya Buba?"
"Apa yang Om lakukan tadi malam Sayang, apa juga menyentuhnya di sana?" Tanya Ressa lembut. Tidak ingin ada nada mengintimidasi, gadis remaja itu mengangguk.
"Dea tau sendiri apa yang akan terjadi kalau Dea bersikeras bersama Om itukan. Walau nanti Dea sudah dewasa. Daddy akan terluka Sayang," ucap Ressa pelan.
"Apa Dea mau berjuang buat Daddy, lupakan Om Azmi Sayang. Daddy sudah melakukan banyak hal untuk membuat Dea bahagia, itu tidak sebanding dengan yang Om-mu lakukan." Mohon Ressa, dia tidak ingin ada pertengkaran hebat antara ayah dan anak suatu saat nanti.
"Dea akan berusaha Buba," Deandra memperlihatkan foto di liontinnya pada Ressa. "Bolehkah aku menyimpan ini selalu."
"Tentu saja Sayang. Apa yang membuat Dea bahagia bersama Om Azmi?"
"Dea gak tau Buba, tapi Dea nyaman berada di pelukan Om itu. Saat Om mengelus-elus rasanya Dea gak mau pisah."
Ressa menguatkan pelukannya, mengecup puncak kepala Deandra. Putrinya ini tidak hanya sekedar jatuh cinta, tapi sudah mengenal lebih jauh hubungan lawan jenis.
"Dea jangan dekat laki-laki ya Sayang. Rasa itu bisa membuat Dea ketagihan dan ingin melakukannya lagi dan lagi. Sampai akhirnya penasaran dan kebablasan Sayang. Seperti yang Daddy Denis katakan, jaga kehormatan Dea."
"Bisakah itu diobati Buba?"
"Bisa, Dea harus semakin dekat dengan Allah. Agar Dea merasa takut saat ingin berbuat maksiat. Karena itu hal yang dilarang Allah sebelum menikah."
__ADS_1
"Hanya itu?"
Ressa mengangguk, "hanya itu. Tapi kadang godaannya sangat besar Sayang." Bahkan dia saja sampai terjerumus ke lembah hitam itu. Beruntung Allah menutup semua aib-aibnya.