Aksara Cinta

Aksara Cinta
35. Pencuri Hati


__ADS_3

"Ressa gak kemana-mana, ada di apartemennya. Lo gak mau nyari ke sana."


Lelaki itu mengabaikan ucapan Erfan, membaringkan tubuhnya di sofa dengan nyaman.


"Audrey hamil," gumam Tian pelan yang masih bisa di dengar Hira. Ibu satu anak itu membulatkan mata, bukan tidak tau bagaimana kelakuan Tian di luar sana. Tapi dia telah salah merestui Tian dekat dengan Ressa.


Belum sempat Erfan memaki sahabatnya sang putri datang dengan wajah cemberut. Dengan terpaksa Erfan menahan keinginannya yang menggebu untuk menghajar Tian.


"Uncle gak bawa tante Ressa lagi?"


Tian menoleh pada anak kecil yang mendatanginya sambil memeluk boneka kelinci berwarna pink. Setiap kali ia datang pertanyaannya selalu sama.


"Nanti kita ke tempat tante ya," bujuk Tian sambil mengangkat Erra untuk duduk di perutnya.


"Beneran?"


Tian mengangguk ragu. Tangannya membelai pipi Erra lembut. Apa bisa dia menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya nanti. Dia takut anak-anaknya akan mendapatkan karma atas dosa-dosa yang dibuatnya hari ini.


"Sekarang?"


"No, Honey."


"I want now," rengek Erra dengan mata berkaca-kaca.


"Gen siapa sih keras kepala!" Gerutu Tian membawa tubuhnya untuk bangkit tanpa melepaskan Erra dari pelukannya. Erfan mengendikkan bahu terkekeh geli.

__ADS_1


"Be patient, Honey."


"I want to meet Aunty Ressa, now." Tegas Erra sekali lagi.


Erfan dan Hira saling pandang lalu tertawa bersamaan. Melupakan suasana yang sempat menegang sebentar karena pengakuan Tian.


"You know, orang sabar disayang?" Tian menggantung kalimatnya.


"Allah," sambung Erra.


"Nice, jadi harus sabar oke."


"No Uncle, no. Erra mau ketemu dedek. Aku mimpi punya dedek."


Hira geleng-geleng kepala dengan kelakuan putrinya itu. Padahal tidak ada yang mengajari, gaya bicaranya sudah seperti orang dewasa.


"Oke!" Tian menyerah membujuk anak kecil. Bagaimana kalau nanti sudah besar, dia pasti akan dibuat pusing oleh putri Erfan ini. "Salim sama daddy dan mommy," titahnya.


Gadis kecil itu menurut dengan senyuman cerah. Salah, minggu pagi ia gunakan untuk mengapeli anak kecil ini. Tian menggendong Erra ke mobil.


"Harus nurut sama Uncle, oke? Jangan bikin tantemu bete." Tian mendudukkan Erra di kursi, memasangkan sabuk pengaman.


"Yes, Uncle."


Sudah satu bulan ia tidak bertemu Ressa, entah perempuan itu mau bertemu dengannya atau tidak. Ia tidak suka merendah pada perempuan, tapi dengan Ressa semua prinsipnya terpatahkan.

__ADS_1


Tian menjalankan mobil menuju apartemen Ressa. Sampai di basemen, ia menggendong Erra menuju unit apartemen si pencuri hatinya.


Ia menyandarkan punggung sambil memencet bel. Sudah beberapa kali Tian melakukannya, tapi tidak ada tanda-tanda pintu terbuka.


Ressa yang sudah beberapa hari ini mengalami muntah-muntah setiap pagi membuka pintu dengan wajah pucat.


"Gak sabaran banget, siapa sih!" Gerutunya. Ressa membeku di tempat melihat Tian yang ada di depan pintu rumahnya sambil menggendong Erra.


"Tante!" Pekik Erra girang. Ressa memajukan tangannya, menahan Tian agar tidak mendekat.


Lelaki itu menurunkan Erra dari gendongan. "Uncle tunggu di sini, Erra aja yang temani tante ya." Tian mengacak rambut Erra dengan sayang.


"Uncle gak ikut masuk?"


Tian tersenyum lalu menggeleng, bukan waktu yang tepat mengajak Ressa berdebat. Perempuan itu terlihat sedang tidak sehat.


"Ayo masuk," Ressa membawa Erra masuk dan menutup pintu. Ia bergegas menuju wastafel saat perutnya mual lagi.


"Tante kenapa?" Panik Erra melihat Ressa yang muntah-muntah. Anak kecil itu menangis ketakutan.


"Sstt, don't cry, Honey. Tante cuma lagi gak enak badan." Ressa mengusap kepala Erra yang mengikutinya sampai ke dapur sambil tersenyum.


...💥💥💥...


Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊

__ADS_1



__ADS_2