Aksara Cinta

Aksara Cinta
53. Jangan Pergi


__ADS_3

"Benci aku sepuasmu, kalau itu bisa melegakan hatimu Honey. Sungguh, aku tidak melakukan apapun dengan Audrey kemaren. Kamu bisa lihat rekaman cctv ruang kerjaku."


"Apa itu bisa merubah kenyataan kalau kamu pernah memiliki hubungan dengannya?" Tanya Ressa pilu, dia ingin menangis tapi ditahannya. Tian tidak boleh melihatnya lemah.


"Gak ada yang bisa merubah masalalu aku Sa. Semua sudah terjadi, itu karena kesalahanku. Seberapa keras aku menutupnya akan tetap ketahuan juga, bahkan mungkin nanti akan sampai pada anak dan cucu kita. Saat semua itu terjadi, aku cuma minta kamu percaya sama aku Sa, kalau aku sudah belajar untuk berubah. Walau belum bisa langsung jadi baik." Tian menatap dalam netra Ressa, dia sungguh-sungguh mengatakannya.


"Apa kamu bisa menjamin hati aku akan kuat untuk terus mendampingi kamu, Tian?" Tanya Ressa pelan, Tian menggeleng lemah.


"Masalalu aku mungkin sangat menyakitkan buat kamu Sa, aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap bertahan." Tian mengecup kening Ressa lalu mengurai pelukannya.


"Aku akan keluar dari rumah ini seperti mau kamu." Putus Tian akhirnya. Ressa benar, kalau dia memaksa perempuan itu terus ada di sisinya makan anak dan istrinya akan terluka.


"Kalian berhak bahagia tanpa bayangan lelaki pecundang sepertiku." Tian tersenyum mengelus perut Ressa lalu beranjak pergi. Mungkin ini keputusan terbaik yang sulit untuk dia terima.


"Jangan pergi!" Lirih Ressa.

__ADS_1


Tian membalikkan badan takjub. Ucapan Denis terbukti sekarang, dia bisa membuat perempuan takluk. Disaat hatinya mulai ragu dengan dirinya sendiri. Ia segera membawa tubuh Ressa dalam pelukan.


"Kamu serius masih mau aku di sini Sa?" Tanya Tian setelah menciumi seluruh wajah Ressa. Perempuan itu mengangguk lemah.


Ressa bimbang, tapi dia bisa bersikap baik-baik saja demi anaknya, agar mendapatkan kasih sayang yang utuh. Biarlah hatinya yang harus menanggung sakit dari pernikahan ini.


"Terimakasih sudah mau menerimaku, Sayang." Tian membenamkan wajahnya di ceruk leher Ressa. "Bantu aku agar bisa menjadi orang baik."


"Kita akan bisa kalau sama-sama kan?" Ucap Ressa pelan, semoga keputusannya bertahan adalah yang terbaik.


"Iya Sayang, kita akan berproses sama-sama."


"Kamu makan lagi, biar anak kita sehat. Setelah itu kita cek ke dokter kandungan," ucap Tian semangat empat lima.


"Suapin," pinta Ressa manja.

__ADS_1


"Of course, Honey. Aku lebih suka kamu yang manja daripada galak." Tian menoel gemas dagu Ressa.


"Hm, jaim dikit. Masa lagi marah-marah minta dimanja, gak ada keren-kerennya." Ucap Ressa seraya menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Tian.


"Kamu bebas mau manja-manja di sini, Honey." Tian menepuk dadanya yang pelukable.


"Jangan digunain buat meluk perempuan lain lagi, aku gak suka! Kali ini aku berbaik hati sama kamu. Tapi kalau terjadi lagi, aku gak yakin akan ada kesempatan selanjutnya."


"Iya, sekarang ini semua cuma milik kamu. Aku janji akan menjaganya buat kamu."


"Aku butuh bukti nyata, bukan janji-janji pilpres."


Tian tertawa kecil, "siap Nyonya Ardiya Tiandra. Ayo makan." Katanya seraya menyuapi Ressa burger.


"Satu kali suap, satu kali cium." Pinta Ressa, Tian terkekeh geli dengan kelakuan istrinya yang bisa dibilang tidak ada jaim-jaimnya kalau sedang minta dimanja.

__ADS_1


"Mau coba yang dari mulutku," Tian menggigit burger lalu menyambar bibir Ressa mentransfer burger itu dari mulutnya sambil melakukan sesapan-sesapan memabukkan. "Suka?" Tanyanya.


Ressa mengangguk minta lagi, Tian dengan senang hati menyuapi dari mulutnya. Menyenangkan wanita, Tian ahlinya. Apalagi dengan sentuhan, sudah tidak perlu diragukan lagi.


__ADS_2