Aksara Cinta

Aksara Cinta
74. Kelam


__ADS_3

Tian memijat pelipisnya yang nyeri, baru satu minggu hidupnya berwarna sekarang sudah kelam lagi. Ia tau kemana istrinya pergi dan sudah memastikan kalau Ressa aman di sana. Hanya saja bagaimana dia menghadapi Deandra dan menjelaskan pada anaknya itu.


"Bengong tidak akan menyelesaikan masalah, Tian. Lo harus tegas, siapa yang mau lo pertahankan."


Suami Ressa itu menoleh ke arah pintu, sahabatnya sudah berdiri seperti jin pintu di sana dengan tangan terlipat di depan dada.


"Lo pasti tau tentang Aru dan Dea kan?" Tian tersenyum miring pada Erfan, lelaki yang masih berdiri di depan pintu itu mengangguk. "Dea ingin gue menikahi ibunya, Fan. Itu satu-satunya permohonan anak gue, agar dia bisa terus memeluk gue sebagai ayahnya. Nasabnya dengan gue terputuskan? Dia bukan mahram gue, itu yang Dea bilang. Walau gue gak paham banyak, tapi sedikit gue ngerti, apa yang dia mau. Apa salah, kalau gue memenuhi keinginannya."


Erfan tertegun, Tian tetap harus menikahi Aruna agar bisa menjadi mahram Deandra, walau nasabnya dengan sang ayah terputus.


"Gue cuma pengen memberikan itu, tapi Ressa tidak akan bisa mengerti." Sambung Tian pusing, ia pusing memikirkan istrinya yang pergi.


"Lo harus tetap menjalankan pernikahan yang sesungguhnya Tian kalau ingin menikahi Aruna, jangan sampai salah niat."

__ADS_1


"Itu artinya gue harus melepaskan Ressa, dia akan meminta cerai kalau gue meniduri perempuan lain." Tian menggeleng pelan, tidak tau jalur mana yang harus dia ambil. "Parahnya lagi mereka kakak adik, Erfan."


Pernyataan Tian yang terakhir membuat Erfan terperanjat. Tadi di rumah dia pikir Ressa mengenal Aruna karena mereka bersahabat seperti dengan Hira.


"Satu-satunya jalan gue harus menceraikan Ressa dan menikahi Aru kalau ingin menuruti keinginan Dea, atau gue tetap bertahan dengan Ressa dan anak gue kecewa yang bisa memicu keributan lain. Ressa sudah dibenci ibunya, dia akan bertambah tertekan kalau Aru dan Dea membencinya."


"Ressa maunya bagaimana?" Tanya Erfan, suami Hira itu ikut memijat pelipis karena bingung harus memberikan pendapat apa.


"Cerai."


"Ya, sebaiknya memang begitu. Gue titip Ressa, jangan biarkan dia pergi dari rumah lo, Fan. Dengan begini dia tidak akan terus terluka karena berada di sisi gue."


"Kami akan menjaga Ressa, jangan khawatirkan itu. Segera selesaikan masalah kalian agar Ressa tidak kepikiran."

__ADS_1


Tidak kepikiran, justru dengan perceraian akan membuat Ressa semakin kepikiran. Erfan menggeleng pusing dengan kalimat yang diucapkannya.


Tian hanya menganggukkan kepala. Seperginya Erfan, ia meminta Denis untuk membantu mengurus perceraiannya.


Untuk menghilangkan pusing Tian menemui putrinya, menyempatkan waktu mengajaknya bermain. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.


"Kapan Daddy menikahi mommy?" Tanya Dea saat mereka makan siang di sebuah restoran.


Tian tersenyum lembut menepuk puncak kepala putrinya, "sabar ya Sayang. Gak bisa secepat itu, Daddy lagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan."


"Yes Daddy, Mommy jangan balik ke Sydney oke. Kita akan sama-sama di sini." Ucap Dea ceria, Aruna hanya tersenyum menanggapi. Ia merasa Tian tidak nyaman berada di dekatnya, mereka harus bicara empat mata nanti untuk menghindari masalah ke depannya.


"Makan yang banyak, biar putri Daddy cepat besar."

__ADS_1


Raga Tian memang ada di sini, tapi jiwanya sedang mengkhawatirkan keadaan Ressa. Belum satu hari dia sudah dibuat hampir gila oleh istri bar-barnya itu.


__ADS_2