Aksara Cinta

Aksara Cinta
70. Bertahan


__ADS_3

Tian tidak mau beranjak sedikitpun dari sisi Ressa, membuat ibu hamil itu gerah.


"Tian, aku bosan cuma disuruh gulang-galing di kasur." Rengek Ressa yang tidak bisa melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Kita main Honey biar gak bosan." Tian menaik turunkan alis menggoda sambil senyam-senyum.


"Enggak, kamu masih dalam masa hukuman, Tian. Jangan harap dapat jatah selama dua minggu. Satu malam dibayar satu minggu," dengus Ressa. Tian membulatkan mata, itu hukuman apa minta pisah ranjang.


"Hukumannya lama banget, aku gak kuat Honey. Please ganti hukuman lain, aku rela gendong kamu keliling komplek. Asal jangan disuruh libur," rayu Tian yang sama sekali tidak berpengaruh pada Ressa.


"Sayang, dedek minta dijenguk. Katanya kangen ayah, dua hari gak ketemu. Boleh ya?" Ujar Tian dengan memasang tampang memelas.


Ressa menggeleng acuh, dalam hatinya tertawa gelak. "No... no... no... tidak ada tawar menawar. Hukuman tetap hukuman," tegasnya.


"Aku main sendiri ya, kamu diam aja." Suami Ressa itu tersenyum smirk dengan ide cemerlangnya. Tangannya sudah siap menjelahi dunia.


"Eits, jangan main curang. Tangannya dijaga, Tian." Ressa menyingkirkan tangan nakal Tian yang menyusup ke balik piyamanya.

__ADS_1


"Peraturannya kamu diam, Honey. Jangan ganggu aku lagi konsentrasi." Lelaki itu terkekeh geli, langsung menuju intinya. Membuat Ressa panas dingin seketika. Matanya mendadak sayu meminta Tian memberikan lebih dari sekedar sentuhan. Tapi suaminya itu menggeleng usil.


"No, sekarang kamu yang dihukum karena sudah menolak keinginan suamimu ini." Bisik Tian jahil, bibirnya semakin tertarik ke atas melihat Ressa bergelinjang.


"Please Sayang, aku gaakk kuatth." Pinta Ressa diikuti suara-suara manja.


Tian semakin mempercepat tempo permainannya sampai sang istri itu meledak dan lemas sendiri. Baru ia membawa Ressa ke atas tubuhnya.


"Makanya jangan nakal, hm." Tian merapikan rambut Ressa lalu mengecup di kening lama.


"Kamu curang."


"Emang aku punya pilihan lain, selain bertahan Tian." Ressa tersenyum mengejek, Tian tidak perlu tau bagaimana sakit hatinya ini.


"Apa kamu cinta sama aku, Sa?" Tanya Tian serius.


"Apalagi yang membuat aku bertahan dan jadi bodoh bersama kamu, Tian." Perempuan itu tersenyum kecil, menyatukan hidung mereka. "I love you," lirihnya pelan.

__ADS_1


"Thanks for everything, Honey. Love you too. Temani aku melalui semua ini, Sayang. Temani aku menghadapi Aru dan anakku."


"Kamu masih cinta sama Aru?"


Tian menggeleng pelan, "sejak Aru memutuskan pergi setelah mengatakan sudah menggugurkan anak itu. Hatiku mati, Sa."


"Apa karena aku mirip Aru kamu tiba-tiba ingin menikahiku, Tian."


Tian terdiam, "apa kamu mirip Aru, Sayang. Aku tidak pernah menyadarinya."


Ressa mengambil ponsel Tian lalu membuka galeri foto, mendekatkan ponsel itu dengan wajahnya. "Kata orang kami mirip, bahkan ibu sangat menyayangi Aru dibanding aku. Tapi Aru tidak pernah merasa besar hati, dia tetap menyayangiku. Hingga kesalahan itu terjadi, Tian. Aru tidak pernah pulang ke rumah lagi."


Lelaki itu terbungkam, dia tidak tau harus berpikir apa. Menyalahkan dirinya atas apa yang Aruna alami selama ini. Atau malah bersyukur karena dia mendapatkan Ressa.


"Aku harus apa Tian, jika Dea menginginkan ayahnya."


Lagi-lagi Tian hanya bisa membisu. Dia bahkan tidak tau tindakan tepat apa yang akan dipilihnya nanti jika itu terjadi.

__ADS_1


"Jika kamu pikir aku tidak cemburu dengan Aru, kamu salah. Aku bahkan tau kamu sangat mencintai Aru waktu itu. Mungkin cintamu untuknya itu melebihi cintamu padaku. Lepaskan aku jika nanti kamu sulit untuk memilih." Ressa tersenyum menepuk pipi Tian. Lalu bangkit dari atas tubuh suaminya itu.


"Huh, kamu paling bisa membuat kakiku gemetar Tian." Canda Ressa duduk di sisi ranjang menutupi serpihan-serpihan hatinya yang berantakan dengan pikiran menerawang jauh.


__ADS_2