
"Jangan berpura-pura bodoh Jeri! Kamu kan yang sudah menculik Ressa?"
Tian ingin sekali membuat babak belur wajah Jeri. Tapi itu tidak akan ada gunanya, hanya membuang-buang energi.
"Jadi kamu datang ke sini hanya untuk menuduhku menculik Ressa. Kalian hanya membuang waktu, karena aku tidak sedang menculik siapapun." Jeri membalas tatapan tajam Tian tanpa takut sedikitpun. Padahal hatinya ikut mencemaskan Ressa.
"Ressa satu jam yang lalu diculik, siapa lagi pelakunya kalau bukan kamu, hah!"
"Diculik? Satu jam yang lalu? Ayolah, aku tidak melakukan apapun. Satu jam yang lalu aku masih ada di apartemen Audrey, baru menjemputnya dari rumah sakit." Jelas Jeri, jangan harap Tian percaya dengan bualan sepupunya itu.
"Matt, utus semua anak buahmu cari Ressa!!" Perintah Jeri pada Asistennya yang berdiri di sudut ruangan.
"Siap Tuan," Matt mengangguk lalu permisi ke luar ruangan.
Erfan yang mengamati perdebatan dua orang itu sangat yakin kalau Jeri bukan pelakunya.
"Apa aku perlu menjelaskan secara detail aktivitasku hari ini, Tian." Ucap Jeri melembut tidak sekeras tadi, wajar jika Tian sangat emosi mengetahui istrinya diculik dan tuduhan ada padanya. Karena memang dia yang akhir-akhir ini sedang gencar merebut hati Ressa.
__ADS_1
"Kamu mungkin tidak melakukannya dengan tanganmu sendiri. Tapi bisa saja anak buahnya yang melakukannya." Tian tidak akan termakan sandiwara murahan Jeri.
"Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjelaskan padamu kalau aku tidak menculik Ressa!" Jeri mengusap wajah frustasi.
"Jeri tidak tau keberadaan Ressa, kita pulang, Tian." Ajak Erfan yang masih bisa berpikir jernih, "Denis nanti saja kita urus Adley Grup."
Jeri mendesah frustasi tidak bisa berbuat apa-apa. Pemilik saham terbesar Adley grup memang atas nama sepupunya itu. Belum lagi hilangnya Ressa membuat kepalanya ikutan pening. Ia tidak bodoh hanya berharap dengan Adley Grup, dia memiliki saham dimana-mana karena tau perusahaan ini bukan haknya.
***
Ressa membuka mata perlahan, ia sedang berada di sebuah kamar. Entah dimana, sekarang yang dirasakannya kepala berat. Tangan dan kakinya dalam kondisi terikat.
Dimana ponselnya, ia harus segera menghubungi Tian. Agar bisa bebas dari tempat ini. Terdengar derit suara pintu dibuka dari luar.
"Sudah bangun," sapa seorang pria yang membuat Ressa membulatkan mata. "Kangen sama lo," katanya mengelus pipi Ressa dengan punggung tangannya.
"Lepasin tangan lo!" Teriak Ressa kasar, menyingkirkan tangan itu dengan tangannya yang terikat.
__ADS_1
"Lo cantik kalau ini dilepas," tangan pria itu melepaskan jilbab Ressa sambil tersenyum manis. "Tuh kan gue bener, lo sangat cantik kalau begini. Apalagi kalau ini dilepas." Lanjutnya seraya menghitung kancing-kancing kemeja Ressa dengan telunjuknya.
"Lepasin tangan lo, brengsek. Gue gak sudi lo sentuh!!" Teriak Ressa, apalah daya hanya mulutnya yang bisa memberontak. Kaki dan tangannya tak bisa banyak bergerak.
"Lo itu ya, sudah diikat masih aja galak." Serunya dengan menyeringai. "Harusnya lo itu jadi milik gue, bukan jadi simpanan Tian." Lanjutnya dengan senyuman malaikat penjaga pintu neraka.
"Dari mana lo tau gue simpanan, Tian. Gue istrinya!" Sarkas Ressa.
"Lebih bagus lagi kalau lo istrinya, mulai sekarang lo akan jadi milik gue. Gue akan buat Tian jijik dan ninggalin lo, mudahkan." Ujarnya dengan tawa iblis yang menggelegar.
"Sebelum itu terjadi, dia yang akan membunuh lo!" Ressa berdecak ketus.
"Tidak ada yang tau lo ada di sini, Sayang." Pria itu menyentuh pipi Ressa kembali.
"Aaaaaaaa, toloaaaaangggg!!" Teriak Ressa melengking.
"Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Jadi tidak akan ada yang mendengar suara teriakan lo. Berteriaklah sepuasnya sampai suara emas lo itu habis."
__ADS_1
Ressa mengumpat dalam hati, sayang energinya kalau digunakan untuk berteriak. Ia akan mencari kesempatan saat manusia gila itu lengah.