Aksara Cinta

Aksara Cinta
223. Bonchap 6


__ADS_3

“Akaaaakk,” panggil Rain pada Deandra.


“Apa akak, akak!! Panggill Kak Rose sekalian!” Jawab Deandra ketus pada bocah empat tahun yang tengil itu.


“Kakak, kenapa sama adek galak banget. Itu adek apa musuh.” Tegur Aruna pada putrinya.


“Musuh Mom, lihat ngeselin banget mukanya.” Sahut gadis yang baru duduk di bangku SMA itu. Rain menjulurkan lidah pada sang kakak dengan mata sengaja dipelototkan. Aruna terkekeh kecil melihat tingkah keponakannya itu.


“Jangan ganggu kakak belajar Sayang, nanti kamu kena cubit.” Ujar Aruna memangku bocah laki-laki itu.


"Cubitan akak kayak semut," jawab Rain meremehkan. Dea semakin melotot pada adiknya itu.


“Awaaas Mommy-ku!!” Teriak Dhera putri Aruna dan Denis. Ia menarik Rain agar menjauh dari sang bunda.


Tapi anak laki-laki itu tak terusik sama sekali. Tetap duduk tenang di pangkuan sang tante.


"Dhera duduk di sini Sayang," Aruna menepuk sofa di sampingnya.


"No, gak ada yang boleh dekat-dekat Mommy!!" Seru Dhera nyaring.


“Ini rumah apa kebun binatang sih, kalian itu sukanya bicara sambil teriak-teriak!” Tegur sang nenek yang datang membawakan jus jeruk dan cemilan kesukaan cucu-cucunya.


“Mommy!! Mommy!! “ Teriak Dhera sambil menangis saat Rain tak kunjung berpindah tempat.


Deandra sampai menutup telinganya pusing. Kalau yang satunya tengil, maka yang satunya lagi cengeng. Jadi klop, kepala Dea serasa pecah mendengar pertengkaran dua adiknya itu.


“Deaaaa pussiiiinggg!!!” Deandra ikutan berteriak saking kesalnya.


Ressa geleng-geleng kepala melihat kekacauan yang terjadi di ruang tengah.


“Rain gak boleh usil Sayang. Dea kamu belajar di kamar!!” Putus Ressa agar dunia tetap aman terkendali.


Deandra mengangkat pantatnya dari sofa sambil menghentak-hentakkan kaki. Padahal dia yang lebih dulu duduk di sana.

__ADS_1


“Awas kalian, aku laporin Daddy!”


“Gak takut, wee!!” Jawab Rain sambil mencebikkan bibir. Ingin sekali Dea mencakar-cakar wajah adiknya itu.


***


“Kakak merajuk kenapa jadi gak mau makan malam, hm.” Tian mendatangi kamar putri sulungnya yang mogok makan.


“Kesal sama anak-anak Daddy," jawab Dea seadanya.


“Kamu kan juga anak Daddy. Berarti sama ngeselinnya dong,"goda Tian dengan tawa kecil.


“Ih, Daddy!! Pantas aja anaknya pada ngeselin. Daddy juga ngeselin,” seru Deandra cemberut.


“Ayo makan, mau Daddy gendong apa mau Daddy guling-gulingkan kayak kambing guling?” Tian memberikan penawaran sambil tertawa gelak.


“Diet!” sahutnya judes.


“Anak Daddy sudah cantik, proporsional. Gak perlu diet lagi,” rayu Tian sambil mencuri kesempatan mencium pipi putrinya yang sekarang bisa menolak kalau ingin dicium.


“Cepat Sayang, Daddy lapar.” Rengek Tian seperti anak kecil, gadis itu mendengus turun dari tempat tidur dengan wajah masam.


“Dea mau tidur di apartemen sendirian aja kalau gini, pusing di rumah!!” Ucap Deandra.


“Kalau Dea sudah menikah baru boleh pergi dari rumah ini,” sebut Tian sambil merangkul sang putri ke meja makan.


“Lama banget Daddy, Dea masih sekolah kspan nikahnya. Masa gak boleh tinggal sendiri." Protes gadis yang menginjak usia dewasa itu.


“Kamu gak suka tinggal sama Daddy?” tanya Tian sendu. Deandra tidak menjawab, hanya memanyunkan bibir saja.


“Itu bibir mau Daddy cium, suka sekali dimaju-majukan!”


Gadis itu langsung menormalkan ekspresi, membuat Tian tertawa gelak. Dia sangat gemas melihat putrinya yang semain besar ini.

__ADS_1


“Daddy suapi,” ujar Deandra langsung memeluk Denis dari belakang saat sampai meja makan. Ia tersenyum mengejek pada adiknya Dhera.


“No, no, Daddy-ku.” Gadis berusia tiga tahun itu naik ke atas meja mendorong-dorong Dea agar menjau dari ayanya.


Deandra mengulum senyum berhasil membuat keributan di meja makan.


“Sayang, gak boleh naik ke atas meja!” Cegah Aruna, dia bisa cepat tua kalau setiap hari ribut begini.


“Ayo Daddy, Dea mau disuapin.” Katanya memberikan kecupan di pipi Denis, sontak Dhera menangis keras. Dia tidak suka mommy dan daddy-nya didekati orang lain. Denis terkekeh geli menjadi bahan rebutan putri-putrinya.


“Sengaja banget bikin adek nangis,” Tian menarik Dea. Bocah kecil itu langsung berhenti menangis dan naik ke pangkuan Denis.


“Pelit banget, ini juga Daddy-ku.” Sekali lagi Dea membuat adik kecilnya berteriak keras.


“Daddy-ku!!” Serunya dengan mata melotot, Dea tertawa gelak lalu memeluk Aruna.


"Ini Mommy-ku yang paling cantik," ucap Dea. Rina memijat kepala pusing, di meja makan masih sempat betengkar.


"Mommy-ku!" Dhera memegangi tangan mommy-nya kuat.


“Sayang sudah, adek capek nangis.” Tegur Tian, mendudukkan di sampingnya agar tidak berulah lagi. Kalau Rain mana peduli, mau siapa saja yang mendekati orang tuanya.


"Udah puas ya bikin adek nangis!!" Ressa memcubit gemas pipi putrinya.


"Daddy sakit," rengek Dea manja.


"Mana yang sakit Sayang," Tian meniup pipi Dea lalu memberikan satu kecupan di sana.


"Manja!!" Seru Rain tidak suka melihat kakaknya yang terlalu manja.


"Biarin, Daddy-ku!" Sahut Dea sengaja memeluk sang ayah dengan mesra.


"Yang satu sudah berhenti nangis, mau bikin yang satu nangis lagi, hm. Mau Daddy nikahkan aja kamu biar gak nakal lagi!" Tian melotot pada putrinya.

__ADS_1


"Daddy jahat!!" Desis Dea melepas pelukan Tian karena kesal.


__ADS_2